Aku
menulis lagi karena ternyata aku di kehidupan sehari – hari terlalu banyak
omong, mungkin mereka sudah jenuh mendengar apa yang aku omongin dan akhirnya
memutuskan untuk menarik diri dari diriku. Heeemmmm ... ya intinya aku di suruh
sadar kalau aku tuh ga bisa seperti itu terus.
Dalam
sebuah kuliah di hari yang lalu -entah
kapan itu terjadi aku sudah melupakan detailnya tapi tidak untuk momen nya-,
dosen berkata kalau kamu hendak menjadi komunikator yang baik maka yang harus
kamu lakukan adalah jadilah komunikan (pendengar) yang baik dahulu. Mungkin ini
yang ga aku lakukan, aku hanya nguap – nguap, koar sana koar sini, menyampaikan
segala hal yang aku tahu tanpa mau mendengarkan hal – hal yang sebenarnya harus
mampir di telingaku yang bebal ini. Aku sudah lupa bagaimana caranya mendengar
hingga suatu sore yang beriman, *anggap saja begitu* aku seperti di tampar
keras dengan keadaan, di lempar dan di banting oleh kenyataan, maaf kayanya
berlebihan tapi itu memang yang aku rasakan hehehehehe *senyum aneh*.
Merasa
gagal menjadi mahasiswa komunikasi, hahaha istilah sementara yang aku gunakan. sebuah
percakapan sederhana ternyata yang mengingatkan aku akan hal penting menjadi
mahasiswa komunikasi. Dalam komunikasi kita belajar bagaimana menyampaikan
sebuah pesan, pesan bisa di sampaikan dengan berbagai cara. Zaman memang
berkembang pesat, teknologi pun semakin canggih, penyampaian pesan pun menjadi
sangat variatif dan inovatif, namun ada satu hal yang tak berubah dari zaman
dahulu walaupun zaman sudah secanggih seperti sekarang ini. tau apa itu?..
Ya
itulah, pesan itu sendiri yang tak berubah. Mau bagaimana kita menyampaiakannya
tapi pesan itulah yang tak berubah. Contohnya gini deh, dulu kita ingin
menyampaikan curhatan pada seseorang maka tulislah sebuah surat, lipat, masukan
amplop, kasih parfum dan selipin dalam tas orang yang ingin kita ajak bicara. Tapi
zaman sudah sangat canggih sekarang, kita tak perlu lagi melakukan itu semua
cukup buka laptop atau gadget, tulis sesuatu, bagikan di sosial media. Berharap
ada yang mendengar jeritan hati kita yang meradang, dan hal semacam itu sungguh
membuat kita ketagihan.
Kembali
pada hal yang menampar aku tadi, adalah sebuah sore yang beriman *ya anggap
saja begitu* seperti sore biasanya aku menonton kotak berwarna berisi gambar – gambar manusia drama entah apa yang
sebenarnya mereka tunjukan. Aku nonton berita sore, karena hanya acara berita
yang menarik perhatianku *sok suci*, Gubernur Jakarta Ahok nampak masuk
pemberitaan lagi karena rencana penggusuran tempat prostitusi kalijodo, serta
makin dekatnya Pilgub DKI Jakarta. Tiba – tiba bapaku yang dari tadi di
belakangku berkomentar.
“aku
loh setuju karo ahok, tindakan mung go rakyat” ucap beliau
Aku
sebenernya sepakat dengan beliau, aku juga melihat hal itu dalam Ahok ya
walaupun sementara itu yang aku tahu. Aku mulai dengan mulut besarku, ngomong
ngalor ngidul sok tahu semuanya, sok tahu segalanya tentang pemberitaan itu
bahkan aku sempet menyarankan kalau jangan terlalu percaya sama pemberitaan di
TV. Bapaku yang dari tadi sila hanya menanggapi sekenanya, dan ngangguk
antara setuju atau hanya menghormati anaknya yang lagi ceramah tanpa tema yang
jelas.
Ketika
aku mulai reda dengan busa – busa mulutku, bapaku berkomentar sedikit namun
begitu dalam. Dan sangat ironi.
“kiye
pendapat pribadine aku, nekan misal aku wong jakarta aku ya ra bakal milih Ahok”,
diucapkan dengan nada datar dan tatapan masih ke layar kotak yang sudah
berganti acara stand up di ind*siar.
Aku
langsung membalikan muka mengarahkan pandanganku kepadanya, seolah baru saja
mendengar hal yang sangat mengecewakan. Dengan sangat penasaran dan polos aku
memburu maksud yang diucapkan bapaku.
“lah
deneng pak, maksude apa jal?” begitu saja keluar dari mulutku tanpa berdosa
sedikitpun.
Bapaku
dengan santai dan berbalik menatapku dengan tatapan yang teduh, berkata. “ Ahok
agamane udu islam, aku moh di pimpin neng wong nonislam” katanya.
Ya
itulah bapaku, aku akui beliau sangatlah religius, itu salah satu yang bisa aku
banggakan dari bapaku. Tapi kali ini bapaku membuat pernyataan yang sangat
bertentangan dengan aku. Jelaslah mana bisa kita menolak orang dari agamanya,
istilahnya kok jadi Rasis. Aku mendebat bapaku akan hal itu. Aku emang paling
ga suka kalau agama di jadikan alasan untuk menjustifikasi seseorang. Ya mungkin
Ahok emang nonislam tapi tindakan nya lebih baik daripada mereka – mereka yang bersumpah jabatan di bawah al – quran.
Aku
mulai berbusa lagi mulutnya, mulut besarku mulai menunjukan aksinya dan
menyangkal setiap argumen yang di sampaikan bapaku, aku sudah tak menghiraukan
acara TV yang aku tonton. Bahkan aku sempat mengatakan kalau logika yang di
sampaikan bapaku salah, aku mengucap “salah”, ya aku mengatakannya.
Percakapan
itu di tutup dengan pendapat yang berseberangan dengan aku dan bapaku, adzan
maghrib berkumandang, ambil wudlu dan sholat. Setelah menuaikan kewajiban aku
kembali di ganggu dengan percakapan bapaku. Aku mulai berpikir kok bisa bapaku
seperti itu. Aku menolak keras dalam diriku.
Akhirnya
aku coba untuk mundur dari diriku saat itu, seolah mundur ke kursi penonton
menyaksikan drama diriku sendiri dan menilai diriku. Apakah ada yang salah
dalam diriku?.
Dalam
posisi sebagai penonton diriku sendiri, aku merenung, aku mulai mengurut arah
pembicaraanku dan bapaku. Dari awal sampai akhir. Aku masih mencoba menyaksikan
drama itu. Hingga pada suatu momen aku melihat ada yang ganjil dalam diriku *Sumpah
aku gak gila*.
Ternyata
aku gagal jadi mahasiswa komunikasi, aku yang belajar berkomunikasi dengan
seabreg teori itu tak satupun yang aku pahami hingga titik aplikasinya. Aku malu
dan kecewa pada diriku sendiri. Mungkin harusnya aku tak berkata seperti itu,
menjadi ember kosong terkadang menyenangkan dari pada ember penuh yang akan
tumpah bila di tuang lagi. Sadar akan hal itu, akhirnya aku coba bijaksana. Sekarang
bukan masalah pernyataan bapaku yang menjadi akhir percakan tapi proses yang
aku lakukan dalam percakapan. Aku terlalu mendominasi pembicaraan, aku
bertindak sebagai komunikator yang fals,
sumbang sekali omonganku hingga terdengar menjemukan di telinga bapaku.
Menurutku
bapaku mencoba menyadarkanku akan hal itu, atau hanya anggapanku sendiri,
entahlah tapi aku akhirnya sadar. Ada semacam pesan yang ingin di sampaikan
bapaku kala itu, pesan yang tersirat dalam dan aku tak tahu. Ya karena aku tak
menerima kulitnya bagaimana bisa aku tahu dalamnya. Hingga kini saat aku
menulis ini, aku masih bertanya pada diriku sendiri.
Zaman
memang berkembang tapi pesan tak pernah berubah, selalu sama. Seperti pesan
bapaku terhadapku mungkin kecanggihan teknologi tak mampu menyamainya, ini
masalah hati yang tergerak sendiri tanpa perintah pikiran yang di aplikasikan
melalui omongan. Pesan itu telah sampai, aku hanya perlu sedikit kursi penonton
lagi untuk membaca dan memahaminya.
Purwokerto, 18 Februari 2016. 23.39,
Kamar berkarpet merah
No comments:
Post a Comment