Langit
memerah, sayup mentari mulai memudar dengan gerimis membasahi pijakan dua orang
yang berjalan dari kejauhan. Seorang terpapah tak berdaya dengan di bantu
sahabatnya dengan susah payah melintasi sungai keluar dari hutan pinus.
“ mo, kita aman di sini
sekarang” ucap seorang lelaki gagah dengan memapah seorang laki – laki yang
lebih kecil darinya.
“ apakah kita sudah
menjauh ?” tanya lelaki kecil itu.
“ menurutku sudah, kita
sudah melewati sungai dan hutan sekarang kau istirahatlah mo “ ucap lelaki itu
kepada orang yang di papahnya.
Lelaki
gagah ini adalah Musraja seorang tentara
rakyat yang mempertahankan tanahnya dari penjajah belanda, dan temannya adalah
Darmo teman seperjuangannya yang kakinya terkilir saat melarikan diri kejaran
penjajah itu. Terlihat badan Musraja begitu kotor, baju kumal, celana kain panjang
yang di ikat dengan tali agar tidak turun, nafasnya yang masih tersengal
menahan sesak selepas perjalanannya yang jauh tetapi sesak nafasnya tidaklah
sesesak nafas temannya yang sedang berbaring di sebuah gubuk kecil di pingiran
hutan. Darmo adalah seorang anak dari kepala dusun tempat mereka tinggal, yang
sekarang mereka tinggalkan karena sebuah tugas.