Tuesday, 25 August 2015

KOIN KECIL


Langit memerah, sayup mentari mulai memudar dengan gerimis membasahi pijakan dua orang yang berjalan dari kejauhan. Seorang terpapah tak berdaya dengan di bantu sahabatnya dengan susah payah melintasi sungai keluar dari hutan pinus.
“ mo, kita aman di sini sekarang” ucap seorang lelaki gagah dengan memapah seorang laki – laki yang lebih kecil darinya.
“ apakah kita sudah menjauh  ?” tanya lelaki kecil itu.
“ menurutku sudah, kita sudah melewati sungai dan hutan sekarang kau istirahatlah mo “ ucap lelaki itu kepada orang yang di papahnya.
Lelaki gagah ini adalah Musraja seorang  tentara rakyat yang mempertahankan tanahnya dari penjajah belanda, dan temannya adalah Darmo teman seperjuangannya yang kakinya terkilir saat melarikan diri kejaran penjajah itu. Terlihat badan Musraja begitu kotor, baju kumal, celana kain panjang yang di ikat dengan tali agar tidak turun, nafasnya yang masih tersengal menahan sesak selepas perjalanannya yang jauh tetapi sesak nafasnya tidaklah sesesak nafas temannya yang sedang berbaring di sebuah gubuk kecil di pingiran hutan. Darmo adalah seorang anak dari kepala dusun tempat mereka tinggal, yang sekarang mereka tinggalkan karena sebuah tugas.

Mulut Eyang Canting

Mulutnya begitu tajam menggores luka para tetangganya, namun  siapa yang akan sangka kehidupannya akan berakhir menyedihkan. Menyedihkan bagi para kerabat dan tetangganya yang telah menaruh pandangan salah tentangnya.
Suara orang membacakan yasin terdengar nyaring di sebuah rumah dengan halaman yang luas dan berdinding bribik serta para tetangga ramai berdatangan untuk ikut membantu rumah yang sedang kepaten. Sesosok perempuan tua terbujur kaku tertutup kain putih. Perempuan tuan ini mengehembuskan nafasnya yang terakhir pada tengah malam mungkin hanya itu yang menjadi dugaan warga karena sebenarnya tidak ada yang tahu pasti kapan perempuan tua ini menjemput ajalnya.