Langit
memerah, sayup mentari mulai memudar dengan gerimis membasahi pijakan dua orang
yang berjalan dari kejauhan. Seorang terpapah tak berdaya dengan di bantu
sahabatnya dengan susah payah melintasi sungai keluar dari hutan pinus.
“ mo, kita aman di sini
sekarang” ucap seorang lelaki gagah dengan memapah seorang laki – laki yang
lebih kecil darinya.
“ apakah kita sudah
menjauh ?” tanya lelaki kecil itu.
“ menurutku sudah, kita
sudah melewati sungai dan hutan sekarang kau istirahatlah mo “ ucap lelaki itu
kepada orang yang di papahnya.
Lelaki
gagah ini adalah Musraja seorang tentara
rakyat yang mempertahankan tanahnya dari penjajah belanda, dan temannya adalah
Darmo teman seperjuangannya yang kakinya terkilir saat melarikan diri kejaran
penjajah itu. Terlihat badan Musraja begitu kotor, baju kumal, celana kain panjang
yang di ikat dengan tali agar tidak turun, nafasnya yang masih tersengal
menahan sesak selepas perjalanannya yang jauh tetapi sesak nafasnya tidaklah
sesesak nafas temannya yang sedang berbaring di sebuah gubuk kecil di pingiran
hutan. Darmo adalah seorang anak dari kepala dusun tempat mereka tinggal, yang
sekarang mereka tinggalkan karena sebuah tugas.
Tugas mulia untuk ikut andil
dalam mempertahankan kemerdekaan bangsanya.
“ Mus, kau orang baik
aku yakin besok kalau kita sudah tua kau akan jadi orang besar uhuk uhuuk .”
Ucap Darmo sembari terbatuk karena nafasnya sesak ..
“ kamu ngomong apa Mo,
sudah kau beristirahatlah kakimu perlu istirahat agar nanti kau tidak menyusahkanku”
kata Musraja sambil berdiri berniat mengambil sesuatu.
“ ahahaa, uhhuuk aku
ini baik – baik saja Mus aku juga tidak minta di bantu olehmu untuk berjalan
kalau ayahku tahu, ku akan sangat malu masa seorang lelaki hebat seperti aku
di bantu berjalan olehmu” sambil mencoba bersandar .
“ ,Mo sebenarnya
ada hal yang ingin aku tanyakan padamu ?”
“ apa itu ? apakah itu
bisa menyembuhkan kakiku ?
“ bodoh kau, mana ada
sebuah pertanyaan menyembuhkan luka kaki yang terkilir, sebenarnya ini bukanlah
hal yang penting hanya saja aku mengalami keraguan dalam diriku”
“ katakanlah mus, aku
akan mendengarkanmu”
“ kau tahu kan mo kita
ini adalah tentara biasa, bahkan nama kita saja di daftar tentara rakyat entah
ada atau engga. Apa yang kita dapatkan saat kemerdekaan sesungguhnya tercapai,
saat bangsa kita besar, saat merah putih berkibar berjejer dengan bendera
lainnya. Dan saat kita dapat tidur dengan nyaman, saat kita melihat anak – anak
kita pergi menuntut ilmu dengan senyum kecilnya, bahkan saat nanti kita sudah
di baringkan dalam sepetak tanah dengan batu nisan nama kita, apakah mereka mengetahui
kita ? bangsa ini akan mengetahui jasa kita ?”
Sambil membenarkan
duduknya dan meminum sesuatu yang diambilkan oleh temannya Darmo berbicara
sambil tertawa. “ hahaha uhhuk uhuk kau menanyakan hal aneh, bahkan hal paling
aneh dan lucu sangaat lucu mus,” sambil tertawa dan terbatuk – batuk ..
“ kenapa kau tertawa
dengan pertanyaanku Mo, apakah salah bila aku menanyakan itu? “
“ aku tertawa karena
aku sendiri pun tak tahu jawaban atas pertanyaan aneh mu itu, tapi aku akan
menceritakan sesuatu kepadamu Mus”.
Sambil mengambil
minuman, Darmo pun bercerita, “ Mus kau tahu kan keluargaku, ayahku seorang kepala
dusun menurut tradisi desa kita bahwa nanti yang akan melanjutkan sebagai
seorang kepala dusun adalah anak dari kepala dusun itu yaitu aku, namun kau
tahu kenapa aku lebih memilih sebagai tentara daripada berdiam di dusunku ?
“ iya aku tahu tentang
tradisi itu dan itu menjadikan keluargamu seolah – olah priyayi di desa, memang
apa alasanmu menjadi tentara lemah seperti ini ?” tanya Musraja
Darmo menghela nafas
dan mulai melanjutkan ceritanya “ jaga mulutmu Mus, kau bahkan lebih lemah
daripada aku .. karena adiku, adiku Pramono
adalah seorang yang selalu meniruku dalam segala hal dan dia bahkan selalu
bangga kalau dia bisa menjadi mirip sepertiku.”
“ bukannya itu adalah
hal wajar yang di lakukan oleh adik terhadap kakaknya, lagian .. ”
“ MUUSS, kau bisa diam
dan dengarkan ceritaku, jangan memotong ceritaku.” Sergah Darmo kepada Musraja
yang sedang berbicara..
“ baiklah, tapi ingat kau belum menjawab
pertanyaanku “,
“ Pramono memang tumbuh
bersamaku, sudah pasti apa yang aku lakukan selalu saja di tirunya akupun
merasa senang dan bangga kepadanya”,kata darmo
“ namun apa kau tahu
yang membuatku menjadi seorang tentara seperti kau, aku melihat bahwa apa yang
di lakukan adiku bukan karena dia ingin menjadi sepertiku tetapi karena dia iri
kepadaku dia merasa bahwa ayah lebih memeperhatikanku karena aku adalah anak
tertua, akulah yang akan meneruskan beliau menjadi kepala dusun”. Lanjut Darmo
“ kenapa kau lakukan
hal itu mo, bukankah dengan kau menjadi tentara kau akan mengecewakan ayah dan
keluargamu? Bagaimana kalau kau mati ? siapakah yang akan menggantikan ayahmu
?” Buru Musraja..
Keheningan mendadak
menyelimuti dua orang yang berhadapan dalam sebuah gubuk, gerimis hujan terasa
semakin keras seolah menghanyutkan mereka berdua dalam lamunan. Musraja yang
penasaran dengan pertanyaanya terus menatapnya dengan penuh harap. Dengan
menepuk pundak sahabatnya Darmo mengatakan hal yang tak terduga.
“ tepat sekali, itu lah
alasan yang aku harapkan namun aku tidak mau mati dengan sia – sia. Dengan
membela tanah air ini aku rasa kematianku tidak akan sia – sia.”
“ bodoh, ternyata kau
memang lebih bodoh dari siapapun kau tidak memikirkan apa yang akan dirasakan
keluargamu dengan kematianmu ?.”
“ justru karena aku
peduli perasaan keluargaku aku mengambil keputusan ini, kau saja yang tidak
mengerti, dasar tentara bodoh “, umpat Darmo.
“ terserah kau saja,
dasaaar ....”
Duaaaaar , sebuah
granat menimpa gubuk yang sedang di diami dua orang tentara yang sedang
beristirahat .. hancur leburlah gubuk kecil itu, dua orang tentara itu
terpental jauh dari gubuk itu.
Dengan merayap Musraja
menghampiri Darmo yang sedang sekarat karena ledakan tersebut.
“ Mo, kau tidak papa
ayo aku bantu kau berdiri” bantu Musraja.
Sambil menyingkirkan
tangan yang melingkar di pundaknya, “ tidak Mus, inilah yang aku harapkan, gugur
dalam pertempuran adalah keinginanku, aku tidak akan mengorbankan sahabat
sepertimu, pergilah dan larilah perjuangkan kemerdekaan bangsa ini”, kata
Darmo.
“ aku tidak akan
meninggalkan kau sendiri disini, pasti ada cara untuk membawamu pergi.” Balas Musraja
sembari memaksa mengangkat tubuh Darmo.
Namun dengan sisa tenaga yang di miliki Darmo dia mendorong musraja
sampai tersungkur dan darmo sendiri jatuh tak berdaya dengan bersender di
sebuah pohon.
“ kau pergilah Mus,
Negeri ini membutuhkanmu tidak akan ada orang yang menyalahkanmu bila
meninggalkan orang seperti ku mati disini, pergilah..”
“ baiklah jika itu
kemauanmu, aku akan pergi namun ijinkan aku memberikan sesuatu kepadamu “,
berjalanlah Musraja menghampiri darmo yang sedang bersender di pohon dengan
memberikan sesuatu yang selama ini melingkar di lehernya.
“ ambil ini, ini adalah
koin keberuntunganku.. pakailah kalung ini semoga kau akan selalu di beri
keselamatan”. Kata musraja sambil berdiri meninggalkan Darmo..
Dalam
hati kecilnya dia tidak tega meninggalkan sehabatnya itu sendirian menunggu
ajalnya tiba, paling tidak dia ada disampingnya saat nafas terakhir sahabatnya
terhembus. Musraja berjalan tanpa arah menembus hutan dengan menahan rasa sakit
dan sesak di hatinya, tanpa sadar air matanya menetes dan mengalir di pipinya.
Tiba – tiba dari kejauhan terdengar suara tembakan yang begitu melengking dalam
kegelapan senja..
‘ Doaaaaaarr ..
“ Darmooooo,” Musraja
berteriak memecah keheningan hutan
Musraja
berbalik arah hendak menghampiri sahabatnya yang ia tinggalkan, dia berlari
dengan sekuat tenaga dengan rasa sesal yang mendalam di hatinya. Namun ternyata
ada seorang serdadu belanda yang melihat musraja. Dengan cepat dia mengarahkan
senapan itu kepadanya, di bidiknya kepala pemuda gagah yang hendak menemui
sahabatnya dan ..
‘ doaarrrr.... kepala musraja tertembus pelor dari senapan
serdadu belanda, dan seketika itu juga dia tergelepak tak berdaya darah
berceceran di sekelilingnya..
“kau pikir, kau bisa
lari hah dasar tikus endonesia hahaha, “ ucap serdadu belanda itu. Namun tak
selang lama atas kejadian itu. Tiba – tiba sebuah suara tembakan terdengar ...
‘ doaarr ,, kepala
serdadu belanda itu tertembus sebuah pelor sama persis seperti yang terjadi
pada musraja. Dengan sangat lemah seorang berjalan menghampiri mayat musraja
yang bersimbah darah dan merebahkan badannya tepat disamping lelaki itu.
“ apakah kau tahu
sahabatku, kau adalah sahabat, tentara, dan orang paling bodoh yang pernah aku
kenal. Kau tidak pernah mendengarkanku, kau selalu membahayakan nyawamu demi
menolong seorang yang bukan siapa – siapa mu seperti aku ini. Ini Mus, aku
kembalikan koin keberuntunganmu. Kau lah yang lebih membutuhkannya daripadaku.”
Di keluarkanlah sebuah kalung berkepala koin yang sudah rusak.. di gengamkannya
pada musraja yang sudah tiada.
Hujan
senja semakin deras membasahi dua sahabat yang tergeletak bersimbah darah di
tengah hutan, malampun datang seakan tidak pernah terjadi apapun. Burung gagak
saling bersautan di atas hutan malam itu.
xxxx
Di
sebuah keramaian pasar, ada seorang anak kecil yang sedang mendengarkan cerita
seorang kakek tua tukang semir sepatu. Nampak anak itu serius mendengarkan
cerita kakek itu hingga seorang perempuan memanggilnya.
“ indra, ayo pulang nak
ayah sudah menunggu di mobil”, teriak seorang perempuan dengan tas belanjaan..
“ iya mah, sebentar..
kek aku harus pulang dulu besok kalau aku kepasar aku kan mendengarkan cerita
kakek lagi, kakek hebat pernah berjuang membela tanah air besok kalau sudah
besar indra akan seperti kakek.”
“ hahaa, kakek kan
sudah bilang ini hanya karangan kakek saja, kakek tidak pernah benar – benar
ikut perang yang berbahaya semacam itu”, kata seorang kakek.
“ tapi tetap saja indra
besok besar akan seperti kakek, kek indra pamit dulu ya”,
“ baiklah baiklah,
kalau kau akan menjadi seorang tentara seperti kakek ini kakek berikan sesuatu
untukmu, ini koin keberuntungan kakek jagalah baik – baik semoga cita – cita
menjadi tentara terwujud”,.
“ baiklah kek, makasih
kek.. aku sudah tanya sama ibu, kata ibuku nama lengkap kakekku sama
seperti yang kakek bilang waktu itu.. namanya Pramono Sudibyo Sutarwaji.. “
Sambil
melangkahkan kaki meninggalkan kakek tukang semir sepatu, dan melihat – lihat
koin yang di berikan kakek itu. Tukang semir sepatu itu menatap anak kecil yang
melangkahkan kaki menghampiri ibunya, tanpa sadar kakek tukang semir sepatu
meneteskan air matanya. Dalam hati kakek tersebut merasa sangat bahagia dapat
melihat seorang anak laki – laki yang pintar, dan yang lebih membuat bahagia
adalah karena anak lelaki itu adalah cucu dari Pramono Sudibyo Sutarwaji.
Diambilnya dompet yang lusuh, dan di keluarkanlah sebuah potret masa lalu.. dua
orang anak lelaki yang tersenyum bahagia dan di baliknya foto tersebut.
Tertulislah sebuah nama , Darmono dan Pramono Poetra Soetarwaji.
Oleh Ibnu Yana Syarifudin , Penikmat Sastra dan Pembelajar ototdidak.
No comments:
Post a Comment