Tuesday, 1 September 2015

Menapak Tilas Benteng Van der Wick

Sebuah bangunan megah tampak kokoh ketika mulai memasuki kawasan obyek wisata Benteng Van der Wick, warna merah yang membedakan dengan bangunan - bangunan yang ada disekitarnya. Dibalik semua itu sepenggal sejarah negeri ini terukir disana. “Van der Wick” sebuah nama yang sangat disegani pada zaman penjajahan belanda. Beliau adalah perwira militer belanda yang berhasil membungkam para pejuang Aceh. Nama ini diabadikan menjadi nama sebuah benteng yang terletak tidak jauh dari jalan Raya Utama Kebumen – Jogja sekitar 300 meter atau lebih tepatnya di Kecamata Gombong. 

Tak banyak sejarah indonesia menyingung tentang benteng ini, namun bila kita mencoba masuk kedalam benteng ini akan terasa sekali sejarah indonesia sebagian memang terukir ditempat ini. Pada awal didirikan, benteng dengan tinggi tembok 10 m ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius). Namanya diambil dari salah seorang perwira militer Belanda (Frans David Cochius) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu).
Nama Van der Wijck, yang tercantum pada bagian depan pintu masuk, merupakan salah seorang perwira militer Belanda yang pernah menjadi komandan di Benteng tersebut. Benteng ini dibangun pada awal abad 19 atau sekitar tahun 1820-an oleh belanda untuk mengantisipasi pemberontakan yang dilakukan oleh Diponegoro, Beliau sangat merepotkan pemerintah belanda, karena Diponegoro mempunyai banyak pendukung orang – orang elit di jawa bagian selatan. Awalanya belanda menerapkan Politik Benteng stelsel atau pembangunan benteng didaerah – daerah yang sudah dikuasainya.  
Teknik ini dicetuskan pertama kali oleh Jendral Van de Bosch. Tujuannya jelas sebagai tempat pertahanan (sekaligus penyerangan) di daerah karesidenan Kedu Selatan. Pada masa itu, banyak benteng yang dibangun dengan sistem kerja rodi (kerja paksa) karena ada aturan bahwa penduduk harus membayar pajak dalam bentuk tenaga kerja. Namun seiring berjalanya sejarah pada zaman Jepang, benteng ini dimanfaatkan sebagai barak dan tempat latihan para pejuang PETA.
Jika dilihat dari bentuk bangunan, pembangunannya sezaman dengan benteng Willem (Ambarawa) dan Prins Oranje (Semarang, kini sudah hancur). Didalam benteng itu sendiri pengunjung bisa melihat beberapa foto dokumentasi seputar bentuk asli bangunan benteng saat ditemukan dan tahap-tahap pemugaran yang telah dilakukan terhadapnya. Ruangan-ruangan bekas barak militer, asrama, pos jaga bisa dilihat didalam benteng dan semuanya boleh dibilang dalam keadaan rapi dan bersih. Di salah satu ruangan juga terdapat foto – foto Bupati Kebumen sampai sekarang. Dilihat dari fisiknya, bangunan yang luasnya 3.606,62 m2 ini sudah mengalami renovasi yang cukup bagus. Sayangnya renovasi ini kurang memperhatikan kaidah konservasi bangunan bersejarah mengingat bangunan ini potensial sebagai salah satu warisan budaya (cultural heritage)


No comments:

Post a Comment