Tak banyak sejarah indonesia menyingung tentang benteng ini, namun bila kita mencoba masuk kedalam benteng ini akan terasa sekali sejarah indonesia sebagian memang terukir ditempat ini. Pada awal didirikan, benteng dengan tinggi tembok 10 m ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius). Namanya diambil dari salah seorang perwira militer Belanda (Frans David Cochius) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu).
Nama Van der Wijck, yang tercantum
pada bagian depan pintu masuk, merupakan salah seorang perwira militer Belanda
yang pernah menjadi komandan di Benteng tersebut. Benteng
ini dibangun pada awal abad 19 atau sekitar tahun 1820-an oleh belanda
untuk mengantisipasi pemberontakan yang dilakukan oleh Diponegoro, Beliau
sangat merepotkan pemerintah belanda, karena Diponegoro mempunyai banyak
pendukung orang – orang elit di jawa bagian selatan. Awalanya belanda
menerapkan Politik Benteng stelsel atau pembangunan benteng didaerah – daerah
yang sudah dikuasainya.
Teknik ini dicetuskan pertama kali oleh Jendral Van de Bosch. Tujuannya jelas sebagai tempat pertahanan (sekaligus penyerangan) di daerah karesidenan Kedu Selatan. Pada masa itu, banyak benteng yang dibangun dengan sistem kerja rodi (kerja paksa) karena ada aturan bahwa penduduk harus membayar pajak dalam bentuk tenaga kerja. Namun seiring berjalanya sejarah pada zaman Jepang, benteng ini dimanfaatkan sebagai barak dan tempat latihan para pejuang PETA.
Teknik ini dicetuskan pertama kali oleh Jendral Van de Bosch. Tujuannya jelas sebagai tempat pertahanan (sekaligus penyerangan) di daerah karesidenan Kedu Selatan. Pada masa itu, banyak benteng yang dibangun dengan sistem kerja rodi (kerja paksa) karena ada aturan bahwa penduduk harus membayar pajak dalam bentuk tenaga kerja. Namun seiring berjalanya sejarah pada zaman Jepang, benteng ini dimanfaatkan sebagai barak dan tempat latihan para pejuang PETA.
Jika dilihat dari
bentuk bangunan, pembangunannya sezaman dengan benteng Willem (Ambarawa) dan
Prins Oranje (Semarang, kini sudah hancur). Didalam benteng itu sendiri
pengunjung bisa melihat beberapa foto dokumentasi seputar bentuk asli bangunan
benteng saat ditemukan dan tahap-tahap pemugaran yang telah dilakukan
terhadapnya. Ruangan-ruangan bekas barak militer, asrama, pos jaga bisa dilihat
didalam benteng dan semuanya boleh dibilang dalam keadaan rapi dan bersih. Di
salah satu ruangan juga terdapat foto – foto Bupati Kebumen sampai sekarang.
Dilihat dari fisiknya, bangunan yang luasnya 3.606,62 m2 ini sudah mengalami
renovasi yang cukup bagus. Sayangnya renovasi ini kurang memperhatikan kaidah
konservasi bangunan bersejarah mengingat bangunan ini potensial sebagai salah
satu warisan budaya (cultural heritage)

No comments:
Post a Comment