Culture
Study secara harfiah adalah mempelajari budaya, namun bila kita lihat maksud
dari pembahasan ini culture study adalah sebuah karakteristik pemikiran seorang
ilmuwan dalam melihat sebuah realita. Seorang ilmuwan Culture Study selalu melihat
suatu peristiwa secara mendalam dan menghubungkanya pada suatu hal lain. Karena
ciri – ciri culture study adalah sesuatu selalu berkaitan dengan sesuatu maka
dari itu seorang ilmuwan culture study haruslah memiliki pemikiran yang luas
dan tidak melihat sesuatu peristiwa dari satu kacamata saja atau berpedoman
pada hanya satu teori saja. Ilmuwan dituntut unutk meneliti sebuah permasalahan
secara detil dan dapat mendeskripsikanya kemudian menghubungkan dengan sesuatu
hal lain, karena dalam culture study sesuatu selalu mem[unyai hubungan dengan
sesuatu yang lain. Atau dalam kontks ini serang ilmuwan tidak boleh saklek
menilai sesuatu dari ssatu sudut pandang saja namun harus mempertimbangkan
sudut pandang lain dan hasilnya nanti adalah sebuah pemikiran yang dinamis.
Secara teoritis culture study tidak hanya akan berbicara tentang apa dan
mengapa ( kausalitas) namun juga akan berbicara tentang bagaimana. Simpelnya
kita tidak hanya bebicara apa itu jeans, kenapa seorang memakai jeans, tetapi
juga bagaimana orang bisa menggunakan jeans.
Untuk
memudahkan pemhaman kita tentang culture study, kita akan melihat sebuah
fenomena jeans. Dalam era ini celana jeans tentunya menjadi hal yang biasa
digunakan oleh hampir semua orang di dunia, dan clana jeans ini juga telah
menjadi sebuah tren yang digandrungi oleh kalangan anak muda tak terkecuali di
Indonesia. Jeans telah mengubah asosiasi masyarakat yang pada awal dibuatnya
jeans diperutntukan untuk para penambang emas di amerika atau dapat kita
artikan bahwa celana jeans adlah untuk mereka yang kaum buruh, menjadi asosiasi
masyarakat bahwa celana jeans adalah sebuah trend yang sangat digandrungi
masyarakat bahkan ada anggapan bahwa orang akan terlihat lebih gaul, lebih
keren, atau lebih percaya diri bila menggunakan celana jeans. Namun bila
seorang ilmuwan culture study tidak hanya akan melihat apa yang terjadi, kenapa
asosiasi masyarakat berubah dan pertanyaan apapun yang masih bersesuaian dengan
konsep kausalitas namun akan ada pertanyaan besar tentang bagaimana jeans ini
pada manusia ? ,seorang ilmuwan culture study tidak akan memisahkan kehidupan
manusia dengan jeans ini. Mengapa sekarang orang Indonesia lebih mementingkan
celana jeans daripada sebuah celana kain biasa dan budaya hedonis akan tercipta
saat orang mulai menggunakan celana jeans ini. Bila kita melihat bahwa
sebenarnya berpakaian jeans adalah budaya atau identitas yang kita pinjam dari
amerika. Dan muiai popular di kalangan masyarakat beranggapan bahwa rakat.
Sungguh berbeda dengan persepsi masyarakat yang beranggapan bahwa menggunakan
celana jeans sebagai trend ternyata telah membentuk sebuah budaya hedonis yang
sebenarnya adalah budaya eropa. Ini telah membuat budaya Indonesia semakin
terakulturasi dengan dampak buruk budaya lain. Pandangan inilah yang disebut
dengan culture study melihat sesuatu tidak hanya dari sebuah pandangan saja
namun dari sudut pandang yang lain, ilmuwan tidak hanya melihat celana jeans
sebagai kemajuan berbusana dalam era modern namun juga sebagai sarana
menyebarkan budaya hedonis.
Bagaimana
Kaitanya dengan Media Baru
Di era
globalisasi dimana kebutuhan akan media baru sangat berpengaruh terhadap sikap
dan kebudayaan seseorang. Dalam culture study ada beberapa permasalahan yang
menjadi pokok pembahasan antar lain : identitas, gender, ruang sosial, dan
ekonomi politik.
Identitas
Permasalahan identitas
selalu menjadi pembicaraan dalam dampak dari media baru, dimana seseorang dalam
menggunakan sebuah media baru sangatlah diragukan keaslian dari identitasnya. Ini
dikarenakan semua orang yang terhubung dengan media baru akan menampilkan
segala hal tentang dirinya dalam kondisi yang paling baik, nah dengan informasi
itulah mereka mulai mengenalkan dirinya kepada banyak orang di dalam dunia maya
dan orang – orang akan percaya akan hal itu. namun yang menjadi focus adalah
bagaimana kehidupan seseorang yang mempunyai identitas dalam dunia dimana dia
tidak akan bisa melepaskan dirinya dari kehidupan nyatanya.
Gender
Karya
gender dan teknologi cukup luas, termasuk bekerja pada media baru (misalnya,
Balsamo, 1996; Cherny dan Weise, 1996; Consalvo dan Paasonen, 2002; Green dan
Adam 2001, Stone, 1995). Teknologi yang memiliki bias gender dalam terlihat
dari karya Ruth Schwartz Cowan, Kerja lainnya untuk Ibu (1983). Dalam media
baru gender maupun ras seseorang akan dihapuskan dan akan disamakan dengan
kebanyakan orang. Tara McPherson (2000) label ini
versi 'rahasia' rasisme
di mana ras hanya
diabaikan, tetapi segregasi
tetap terjadi kemudian. Ini memperkuat titik bahwa dunia maya tidak ada
dalam ruang hampa tetapi dalam konjungtur sosial dan budaya tertentu. Sebagai Kolkoetal.write:
Anda mungkin
dapat pergi online dan tidak memiliki siapa pun tahu ras atau jenis kelamin -
Anda bahkan mungkin dapat mengambil potensi dunia maya untuk kerahasiaan
langkah lebih lanjut dan menyamar sebagai ras atau gender yang tidak
mencerminkan yang sebenarnya, offline Anda - tapi tidak tembus pandang tersebut
tidak berubah-ubah dari identitas online memungkinkan Anda untuk melarikan diri
identitas 'dunia nyata' Anda sepenuhnya. Akibatnya, hal ras di dunia maya
justru karena kita semua yang menghabiskan waktu online sudah dibentuk oleh
cara di mana ras penting offline, dan kita tidak bisa membantu tetapi membawa
pengetahuan kita sendiri, pengalaman, dan nilai-nilai dengan kami ketika kami
masuk. (2003: 4-5)
Ruang
sosial
Perhatian
yang lebih baru dari kajian budaya
telah bahwa ruang sosial (Grossberg, 1993). Ketika
bermasalah ini diterapkan untuk teknologi itu berarti lebih dari mengatakan bahwa teknologi sosial atau dampak
terhadap masyarakat ditentukan secara
sosial. Sosial dalam pendekatan
ini secara inheren dan didominasi spasial, dimensi
thespatial teknologi bersifat sosial. Secara historis, argumen sepanjang jalur tersebut telah jatuh ke dalam determinisme teknologi. Sebagai contoh, Elizabeth E isenstein
(1979) berpendapat bahwa mesin cetak
mengubah bentuk masyarakat Eropa.
Tapi pendekatan spasial
belum tentu deterministik. pendekatan Cultural Studies teknologi sebagai kontingen agen sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kajianya bahwa media baru yang sangat memudahkan manusia ternyata telah
membawa banyak perubahan terutama dalam posisi individu sebagai pengguna media
baru dalam masyarakat.
Ekonomi
politik
Seseorang
yang sudah terbiasa akan media baru dapat meningatkan
produktifitasnya. Bila kita kaitkan dengan media, orang politik yang
menggunakan media baru akan dapat menguatkan pengaruh dan kekuasaanya,
sedangkan seorang ekonomi yang terbiasa dengan media baru akan sangat
menggantungkan kinerjanya dengan media baru tersebut.
Referensi :
Lievrouw, Leah A. & Sonia
Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and Social
Consequences of ITCs, Culture Studies and Communication Technology Sage London : Publication Ltd.
No comments:
Post a Comment