Saturday, 11 April 2015

Ayah Pertiwi


Ayah Pertiwi bukanlah sesosok yang diam disaat kegalauan mendera
Ayah Pertiwi ada terdepan saat bangsa ini membutuhkannya, dan selalu dapat diandalkan saat bangsa ini jatuh karena ketidakpercayaan
Ayah Pertiwi tak lari dan sembunyi dari masalah negeri ini yang semakin berat dipundaknya
Sekali lagi Ayah Pertiwi tak menghiraukan fisiknya yang renta dalam kehidupan, selalu berkorban disetiap hembusan anakmu ini.
Disetiap doanya terselipkan harapan untuk negeri ini agar kami putranya bisa menjaganya dan mengangkat martabat bangsa ini
Namun sekarang telah berbeda, tak kujumpai sosok itu dalam pandanganku bahkan bayanganyapun tak kutemukan dalam lamunanku
Kurindukan pagi disaat ayah pertiwi membangunkanku dan mangajaku menatap indahnya matahari yang terbit di negeri ini
Kemanakah kau ayah, sepeninggal engkau hanyalah ayah yang palsu
Yang mencoba mengadopsi kami kedalam tataran dunia baru yang menjadikan kami semakin terpecah
Yang membuat kami tak saling mengenal satu sama lain, dan melupakan ajaranmu
Apakah kau tak rindu kepada kami, kau tak rindu kepada ibu yang selalu merintih karna sebuah ketamakan
Sekarang kami putramu telah besar, telah dapat menegakan kepala kami, dan kami siap untuk menggantikanmu ayah.
Mungkin kau tak mewariskan banyak kepada kami, tapi kau wariskan yang paling berharga di dirimu. Semangat dan Ketulusanmu
Kami sudah tak sudi, ibu kami terzalimi. Dan kami akan berjanji didepan makammu akan kulindungi Ibu Pertiwi, Ibu kami, Martabat kami dan seluruh Saudara kami.
Kami harapkan selalu Restumu

No comments:

Post a Comment