Ayah Pertiwi bukanlah
sesosok yang diam disaat kegalauan mendera
Ayah Pertiwi ada
terdepan saat bangsa ini membutuhkannya, dan selalu dapat diandalkan saat
bangsa ini jatuh karena ketidakpercayaan
Ayah Pertiwi tak lari
dan sembunyi dari masalah negeri ini yang semakin berat dipundaknya
Sekali lagi Ayah
Pertiwi tak menghiraukan fisiknya yang renta dalam kehidupan, selalu berkorban
disetiap hembusan anakmu ini.
Disetiap doanya
terselipkan harapan untuk negeri ini agar kami putranya bisa menjaganya dan
mengangkat martabat bangsa ini
Namun sekarang telah
berbeda, tak kujumpai sosok itu dalam pandanganku bahkan bayanganyapun tak
kutemukan dalam lamunanku
Kurindukan pagi
disaat ayah pertiwi membangunkanku dan mangajaku menatap indahnya matahari yang
terbit di negeri ini
Kemanakah kau ayah,
sepeninggal engkau hanyalah ayah yang palsu
Yang mencoba
mengadopsi kami kedalam tataran dunia baru yang menjadikan kami semakin
terpecah
Yang membuat kami tak
saling mengenal satu sama lain, dan melupakan ajaranmu
Apakah kau tak rindu
kepada kami, kau tak rindu kepada ibu yang selalu merintih karna sebuah
ketamakan
Sekarang kami putramu
telah besar, telah dapat menegakan kepala kami, dan kami siap untuk
menggantikanmu ayah.
Mungkin kau tak
mewariskan banyak kepada kami, tapi kau wariskan yang paling berharga di
dirimu. Semangat dan Ketulusanmu
Kami sudah tak sudi,
ibu kami terzalimi. Dan kami akan berjanji didepan makammu akan kulindungi Ibu
Pertiwi, Ibu kami, Martabat kami dan seluruh Saudara kami.
Kami harapkan selalu
Restumu
No comments:
Post a Comment