Tuesday, 22 December 2015

Untuk Visinia Angan dan Harapan

Indah larik pelangi seusai hujan membuka hari, samar di rajut mega garis wajahmu lembut tercipta.
Telah jauh ku tempuh perjalanan, bawa sebentuk cinta menjemput impian.
Desau rindu meresap, kenangan haru ku dekap. Semakin dekat tuntaskan penantian kekasih aku pulang, menjemput impian.
Entah alasan apa yang aku pikirkan untuk kembali menuliskan lirik lagu itu, terasa banyak sekali kenangan di dalamnya. Kalau saja lengkap kau mendengarkannya, isinya tak jauh dari rasa rindu seorang pada kekasihnya, perjuangan untuk bertemu lagi nanti dan kembali merajut mimpi – mimpi. Terdengar begitu manis bukan? mungkin dulu aku pernah merasakannya, sangat , sangat pernah. Belum hilang ingatan 3 tahun kebelakang, saat indahnya sore dan langit sangat berwarna kala itu.
Masa taman kanak – kanak baru saja berakhir, masa yang penuh dengan nyanyian dan becandaan. Sosokmu begitu mencolok diantara yang lain. Saat itu aku tak paham dengan apa yang terjadi, yang aku tahu. Kau begitu istimewa. Entah dasar apa aku menyimpulkannya begitu. Mungkin memang tak perlu banyak alasan.

Tuesday, 17 November 2015

Pesona Pantai Karang Bolong Kebumen




Pantai merupakan tujuan wisata yang banyak menjadi pilihan iwisata, karena pantai kita bisa mendapatkan ketenangan, kedamaian dan keindahan yang menjadikan kita sadar begitu besar Sang Pencipta. Pantai di indonesia mempunyai daya tarik tersendiri di masing – masing pantainya. Begitu juga dengan pantai yang terletak di wilayah Kabupaten Kebumen Kecamatan Buayan. Pantai ini punya daya tarik yang khas dengan pemandangan karang dan perbukitan serta disempurnakan dengan sebuah goa di pinggir pantainya. Ya, nama pantai ini adalah Pantai Karangbolong. 



Saturday, 5 September 2015

KKN CERIA


Asalamu alaikum waroh matulloh hiwabarokatuh .

Saat aku menulis ini terhitung 30 hari KKN berarti tinggal 4 hari lagi aku menyelesaikan salah satu kewajiban sebagai seorang mahasiswa. Aku sendiri bingung untuk memulainya darimana, terlalu banyak yang ingin aku tuliskan tapi begitu acak dalam pikiranku. Sedikit memberi tahu saat aku menulis status di BBM ku menyatakan kegalauan, kira – kira seperti ini “ KKN segera berakhir tetapi aku sendiri ga tahu harus seneng atau sedih”. *pukpuk
KKN TEMATIK 2015
KKN TEMATIK 2015
Mungkin kita mulai dari itu saja, Seneng. Ya sudah pasti setelah berakhirnya KKN ini berarti resmi mendapat gelar mahasiswa tua, mahasiswa senior, mahasiswa semester akhir atau apapun itu sebutan yang bakal nanti nangkring di panggilanku. Mencapai tingkatan yang baru tentu saja harus dipersiapkan, berakhirnya KKN adalah awal perjuangan baru. Perjuangan sebagai seorang terpelajar. Ya itu menurutku..

Wednesday, 2 September 2015

BURUH

Oleh Ibnu Yana S
Dua puluh empat jam dalam sehari rasanya kurang bagi mereka yang menghabiskan waktu di balik tebalnya dinding pabrik, di balik pintu besi tinggi yang sangat berisik saat di buka dan di tutup. Waktu  untuk keluarga pun hanya seperampat hari saja, terutama untuk anak – anak  mereka. Hanya  di waktu minggu saja mereka dapat berkumpul dengan keluarga itupun kadang harus mereka relakan karena lebih memilih untuk berlembur.

Jarum jam menunjukan pukul setengah empat saat adzan subuh berkumandang, Warsinem sudah bangun untuk menyiapkan segala keperluan anak semata wayangnya mulai dari sarapan, mencuci baju sampai persiapan anaknya untuk ke sekolah. Tepat pukul setengah 7, saat lonceng tanda masuk pabrik di bunyikan, ia harus sudah siap untuk memulai pekerjaannya sebagai seorang Buruh Mingguan.

Tuesday, 1 September 2015

Menapak Tilas Benteng Van der Wick

Sebuah bangunan megah tampak kokoh ketika mulai memasuki kawasan obyek wisata Benteng Van der Wick, warna merah yang membedakan dengan bangunan - bangunan yang ada disekitarnya. Dibalik semua itu sepenggal sejarah negeri ini terukir disana. “Van der Wick” sebuah nama yang sangat disegani pada zaman penjajahan belanda. Beliau adalah perwira militer belanda yang berhasil membungkam para pejuang Aceh. Nama ini diabadikan menjadi nama sebuah benteng yang terletak tidak jauh dari jalan Raya Utama Kebumen – Jogja sekitar 300 meter atau lebih tepatnya di Kecamata Gombong. 

Tuesday, 25 August 2015

KOIN KECIL


Langit memerah, sayup mentari mulai memudar dengan gerimis membasahi pijakan dua orang yang berjalan dari kejauhan. Seorang terpapah tak berdaya dengan di bantu sahabatnya dengan susah payah melintasi sungai keluar dari hutan pinus.
“ mo, kita aman di sini sekarang” ucap seorang lelaki gagah dengan memapah seorang laki – laki yang lebih kecil darinya.
“ apakah kita sudah menjauh  ?” tanya lelaki kecil itu.
“ menurutku sudah, kita sudah melewati sungai dan hutan sekarang kau istirahatlah mo “ ucap lelaki itu kepada orang yang di papahnya.
Lelaki gagah ini adalah Musraja seorang  tentara rakyat yang mempertahankan tanahnya dari penjajah belanda, dan temannya adalah Darmo teman seperjuangannya yang kakinya terkilir saat melarikan diri kejaran penjajah itu. Terlihat badan Musraja begitu kotor, baju kumal, celana kain panjang yang di ikat dengan tali agar tidak turun, nafasnya yang masih tersengal menahan sesak selepas perjalanannya yang jauh tetapi sesak nafasnya tidaklah sesesak nafas temannya yang sedang berbaring di sebuah gubuk kecil di pingiran hutan. Darmo adalah seorang anak dari kepala dusun tempat mereka tinggal, yang sekarang mereka tinggalkan karena sebuah tugas.

Mulut Eyang Canting

Mulutnya begitu tajam menggores luka para tetangganya, namun  siapa yang akan sangka kehidupannya akan berakhir menyedihkan. Menyedihkan bagi para kerabat dan tetangganya yang telah menaruh pandangan salah tentangnya.
Suara orang membacakan yasin terdengar nyaring di sebuah rumah dengan halaman yang luas dan berdinding bribik serta para tetangga ramai berdatangan untuk ikut membantu rumah yang sedang kepaten. Sesosok perempuan tua terbujur kaku tertutup kain putih. Perempuan tuan ini mengehembuskan nafasnya yang terakhir pada tengah malam mungkin hanya itu yang menjadi dugaan warga karena sebenarnya tidak ada yang tahu pasti kapan perempuan tua ini menjemput ajalnya.

Saturday, 11 April 2015

Ayah Pertiwi


Ayah Pertiwi bukanlah sesosok yang diam disaat kegalauan mendera
Ayah Pertiwi ada terdepan saat bangsa ini membutuhkannya, dan selalu dapat diandalkan saat bangsa ini jatuh karena ketidakpercayaan
Ayah Pertiwi tak lari dan sembunyi dari masalah negeri ini yang semakin berat dipundaknya
Sekali lagi Ayah Pertiwi tak menghiraukan fisiknya yang renta dalam kehidupan, selalu berkorban disetiap hembusan anakmu ini.
Disetiap doanya terselipkan harapan untuk negeri ini agar kami putranya bisa menjaganya dan mengangkat martabat bangsa ini
Namun sekarang telah berbeda, tak kujumpai sosok itu dalam pandanganku bahkan bayanganyapun tak kutemukan dalam lamunanku
Kurindukan pagi disaat ayah pertiwi membangunkanku dan mangajaku menatap indahnya matahari yang terbit di negeri ini
Kemanakah kau ayah, sepeninggal engkau hanyalah ayah yang palsu
Yang mencoba mengadopsi kami kedalam tataran dunia baru yang menjadikan kami semakin terpecah
Yang membuat kami tak saling mengenal satu sama lain, dan melupakan ajaranmu
Apakah kau tak rindu kepada kami, kau tak rindu kepada ibu yang selalu merintih karna sebuah ketamakan
Sekarang kami putramu telah besar, telah dapat menegakan kepala kami, dan kami siap untuk menggantikanmu ayah.
Mungkin kau tak mewariskan banyak kepada kami, tapi kau wariskan yang paling berharga di dirimu. Semangat dan Ketulusanmu
Kami sudah tak sudi, ibu kami terzalimi. Dan kami akan berjanji didepan makammu akan kulindungi Ibu Pertiwi, Ibu kami, Martabat kami dan seluruh Saudara kami.
Kami harapkan selalu Restumu

Friday, 23 January 2015

Jun Si Kurir Roti



Pagi ini rasa ngantuk masih sangat menyelimuti diri junaidi, pukul tiga dia baru merebahkan badannya dan pukul lima sudah harus bangun untuk mengantarkan roti Bu Dani ke warung – warung langgananya. Biasanya Jun panggilan akrabnya menggunakan motor milik Bu Dani untuk transportasinya. Setelah mengantarkan roti, jun harus berangkat kesekolah, jun saat ini masih kelas tiga SMA yang sebentar lagi akan menempuh Ujian Nasional.
Namun pagi ini terasa berat baginya karena kemaren sore dia baru saja tertimpa musibah yang sangat tak terduga olehnya, uang pelanggan roti Bu Dani yang bernama Bu Santo yang dititipkan untuk disetorkan hilang dari tas yang dibawanya, dia tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Dia memikirkan hal itu sampai – sampai membuatnya terjaga semalaman dan baru terlelap saat subuh hampir datang. Uang itu adalah setoran yang seharusnya diberikan ke Bu Dani saat sore itu juga namun Jun ada keperluan terlebih dahulu yang menyebabkan dirinya menundanya. Ya junaidi harus mengantarkan adiknya mengikuti latihan drama di sekolah smp nya.