Mulutnya
begitu tajam menggores luka para tetangganya, namun siapa yang akan sangka kehidupannya akan
berakhir menyedihkan. Menyedihkan bagi para kerabat dan tetangganya yang telah
menaruh pandangan salah tentangnya.
Suara
orang membacakan yasin terdengar nyaring di sebuah rumah dengan halaman yang
luas dan berdinding bribik serta para
tetangga ramai berdatangan untuk ikut membantu rumah yang sedang kepaten. Sesosok perempuan tua terbujur
kaku tertutup kain putih. Perempuan tuan ini mengehembuskan nafasnya yang
terakhir pada tengah malam mungkin hanya itu yang menjadi dugaan warga karena
sebenarnya tidak ada yang tahu pasti kapan perempuan tua ini menjemput ajalnya.
“
menurut cerita yang kudengar, eyang Canting meninggal tengah malam lihat aja
jenasahnya sudah kaku.” Cerita seorang pelayat
Sudah
sejak pagi warga datang karena rasa simpati yang mendalam kepada perempuan tua
ini, memang sejarah mereka mengenalnya tak sedikit yang kesal akan ucapannya
namun akhirnya mereka sadar akan perbuatannya. Tepat setelah perempuan tua itu
di bacakan yasin seorang lelaki dengan perawakan jangkung datang dengan
menangis memohon maaf namun semuanya sudah terlambat.
“maafin
didit eyang, didit salah meninggalkan eyang” ucap lelaki tersebut sambil
terduduk di samping jenasah
Dengung
suara pelayat melafalkan surat – surat suci terdengar seperti suara lebah yang
mencari tempat untuk sarangnya, sebuah rumah berdinding bribik penuh ramai dengan pelayat yang melingkari keranda.
Anak
pertama dari perempuan tua itu menyampaikan pidato kepaten, mewakili keluarga almarhum untuk meminta maaf dan memohon
doa serta jika ada utang piutang akan di selesaikan oleh ahli waris.
“selaku
putra almarhumah, mohon maaf yang mendalam atas apa yang di lakukan almarhumah
entah ucapan atau perbuatan kemudian bila almarhumah memiliki sangkutan dengan
warga sekalian maka di mohon untuk menyelesaikan dengan ahli waris”.
Setelah
menyelesaikan pidato, kemudian dipimpin kayim
iring-iringan meninggalkan rumah duniawi menuju rumah yang sederhana hanya 2x1
meter, saat itu tiba kesombongan dan keangkuhan akan lenyap.
xxx
Disebuah
warung yang ramai seperti pagi – pagi sebelumnya, warung bagi ibu - ibu tidak
hanya sebagai tempat berbelanja kebutuhan pokok, namun seringkali menjadi
sebuah tempat mengobrol dan menggosip. Tak terkecuali eyang Canting, ia juga
seringkali ketempat tersebut hanya untuk mendengarkan gosip terbaru atau
mengomentari banyak hal. Atau bahkan ia sendiri yang memulai gosip. Tak jarang
ucapannya begitu menohok ibu – ibu yang di komentari oleh beliau. Seperti ibu Puji
yang suaminya hanya menghabiskan waktunya untuk memancing dan tidak begitu
peduli akan keluarganya.
“
Puji, kamu ini mbok ayu nduk. Kok mau
si sama si Hasbi yang tiap pagi ku lihat pergi menenteng pancing dan ketika
pulang juga hanya menenteng pancingannya saja. Apa kamu mau hidup di bawah
pancingan itu.”
“Tapi
eyang, Mas Hasbi bertanggung jawab ..”
“Kalo
bertanggung jawab mbok yo kerja cari
penghasilan, istri jangan di biarkan banting tulang apa lagi perutmu itu sudah
isi kan, bilang ke suamimu jangan cuma lepas burung kemudian lepas
tanggungannya juga”.
Tak
lama setelah puji meninggalkan warung dengan menahan air matanya, ia mengadukan
hal itu kepada suaminya yang akan pergi mancing dan tersulut emosi sang suami
lalu pergi ke warung untuk memberi pelajaran kepada Eyang Canting.
“Eyaaaang....
Cantiiing , urusi saja urusanmu jangan urusi keluargaku kalau kau masih
mengomentari kelurgaku dengan mulut terkutukmu tak segan aku kaitkan pancing
ini ke mulutmu”
Eyang
Canting yang ketakutan hanya bersembunyi di dalam warung dan menunggu Hasbi
pergi, namun hal itu lantas tidak membuat Eyang Canting jera dan meninggalkan
kebiasaanya.
xxx
Iring
– iringan jenasah telah sampai di mulut pemakaman, daun – daun kamboja yang
jatuh saat musim gugur seolah memberikan pelajaran bahwa semua yang datang ke
tempat ini adalah mereka yang telah melepaskan jiwa dari raganya dan akan
memulai kehidupan yang baru, yang kekal. Sesampainya keranda di naikan lalu di
letakan di samping liang lahat, di sekitarnya terdapat para penggali kubur yang
telah siap sedari tadi menunggu kedatangan jenasah. Sesaat sebelum jenasah di
keluarkan dari keranda, Didit cucu almarhumah ikut turun ke dalam liang bersama
dua rang penggali untuk melayani neneknya ke peristirahatan terakhirnya. Dengan
sedkit sesenggukan Didit meletakan jenasah neneknya, melepaskan ikatan kain
mori satu persatu serta merta ikatan nenek Didit dengan urusan duniawi juga
ikut terlepas.
xxx
Terdengarlah
suara pertengkaran hebat antara dalam
sebuah rumah tak jauh dari rumah Eyang Canting. Tak lama setelah Eyang Canting
menyadari pertengkaran itu terdengar suara motor pergi dari rumah dengan sosok
lelaki yang merupakan kepala rumah tangga. Di dekatinya rumah tersebut terlihat
seorang wanita muda yang sedang menagis tersedu – sedu. Eyang Canting kemudian
mendekati perempuan tersebut dan mencoba menenangkan. Ia merasa iba terhadap
apa yang menimpa pasangan suami istri muda ini, mereka belum lama menikah dan
di karunia seorang bayi laki – laki namun hamoir setiap hari mereka harus
bertengkar hanya karena sesuap nasi dan segelas susu bagi si kecil. Anak mereka
ditipkan pada orang tua si perempuan karena perempuan in harus bekerja sebagai
karyawan toko karena suaminya yang hanya pengangguran.
Namun
kebiasaan Eyang Canting untuk mengomentari dan mengurusi urusan orang lain
seolah menjadi penyulut kemarahan perempuan menjadi lebih meledak – ledak.
Eyang Canting menyampaikan bahwa perempuan bodoh telah mau di persunting oleh
seorang penganggura, ia malah menolak seorang pemuda tukang bakso yang
melamarnya. Ia malahan menerima lamaran anak Kayim yang tak bisa apa - apa. Eyang
juga menyampaikan buat apa banting tulang siang malam, merelakan menunda kasih
sayang terhadap anak semata wayang kalau yang ia dapatkan hanya bantingan gelas
dan piring amarah suaminya.
“
kamu ini bodoh atau apa nduk, suami
mu pergi dolan malah kamu yang kerja,
kasian kamu nduk biarkan suami
seperti itu merasakan akibatnya, dasar lelaki kampret.” Eyang mengeluarkan
umpatan ke suami perempuan
Perepuan
itu merasa tersinggung dan sakit dalam hati karena ucapan Eyang tersebut lalu
berdiri, dan pergi menuju kamar kemudian berteriak untuk mengusir Eyang dari
dalam kamarnya.
“Dasar
Janda Tua, Pulang sana jangan urusin urusan orang”. teriak perempuan tersebut.
Di
dalam gubuk bribik Eyang membuka
pintu menjumpai suasana yang sangat ia benci, yaitu kesepian dan obrolan –
obrolah yang telah lama hilang dari kehidupannya saat cucu pertama memanggilnya
nenek dan mulai menjalankan kehidupan dengan cucunya yang sangat ia sayangi.
Parmo anak lelakinya terpaksa menitipkan buah hatinya kepada ibunya karena
urusan pekerjaan. Perempuan itu membesarkan cucunya dengan penuh kasih sayang,
dan diajarkannya untuk berbuat baik kepada orang. Namun setelah besar cucunya
sering di hujat dan di intimidasi oleh orang – orang sekitar karena perbuatan
neneknya yang suka berkomentar pedas perihal kehidupan tetangganya. Sang cucu
malu dan marah tapi entah kepada siapa, haruskah ia memihak para tetangganya
yang merasa tersakiti oleh ucapan neneknya atau harus membela nenek yang sudah
membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang dan seolah – olah ibu baginya. Sang
Cucu tak menghiraukan omongan para tetangganya. Semua itu ia pendam hingga
berhari – hari, berbulan – bulan kemudian bergati tahun hingga sang cucu sudah
beranjak dewasa dan harus meninggalkan neneknya untuk bekerja di luar kota, ada
semacam kelegaan karena ia tak harus mendengarkan omongan tetangga tentang
neneknya, atau bahkan sedih karena meninggalkan neneknya bagaimanapun ia sangat
menyayangi neneknya. Dalam hatinya ia berjanji jika sukses nanti ia akan pulang
dan mengajak nenekanya untuk ikut bersamanya dan meninggalakan gubuk bribik tersebut.
xxx
Jengkal
demi jengkal tanah mulai di urug ke liang kubur perempuan tua itu, yang
sebelumnya di kumandangkan adzan oleh Didit cucunya sambil terisak. Suara adzan
yang berkumandang dari lelaki itu begitu menyayat dan membuat semua pelayat
meneteskan air mata menyaksikan seorang lelaki yang sangat menyayangi neneknya,
dan tetasan air mata itu adalah sebuah rasa kehilangan sosok yang sangat mereka
segani walaupun sering ucap tutur katanya membuat hati mereka terluka namun apa
yang diucapkannya semata – mata hanyalah nasihat kehidupan namun ia sampaikan
dengan caranya sendiri.
Rombongan
mulai melangkahkan kaki setelah usai upacara pemakaman Eyang Canting, mereka
meninggalkan seorang perempuan tua dalam kesendirian seperti apa yang mereka
lakukan di kehidupan Eyang sebelumnya. Eyang semasa hidupnya hidup sendiri,
seolah tetangga meninggalkan dirinya. Keluargapun hanya mengadirkan kesepian
dalam dirinya.
xxx
Pulanglah
seorang lelaki dengan pikulan es pada petang hari dan disambut istirnya dengan
senyum. Istrinya menyampaikan kepada suaminya bahwa Eyang Canting sudah di
kebumikan tadi siang, lelaki itu terdiam dan menteskan air mata betapa dirinya
menyesal dahulu pernah mengancam akan
mengaitkan pancing ke mulutnya. Sekarang ia menjadi tukang Es Doger dan telah
meninggalkan kebiasaan memancingnya.
Ibnu Yana
Syarifudin
Lahir di kota kecil
Purwokerto 30 Juni 1994, Seorang Penikmat Sastra dan Pembelajar Otodidak,
No comments:
Post a Comment