Tuesday, 25 August 2015

Mulut Eyang Canting

Mulutnya begitu tajam menggores luka para tetangganya, namun  siapa yang akan sangka kehidupannya akan berakhir menyedihkan. Menyedihkan bagi para kerabat dan tetangganya yang telah menaruh pandangan salah tentangnya.
Suara orang membacakan yasin terdengar nyaring di sebuah rumah dengan halaman yang luas dan berdinding bribik serta para tetangga ramai berdatangan untuk ikut membantu rumah yang sedang kepaten. Sesosok perempuan tua terbujur kaku tertutup kain putih. Perempuan tuan ini mengehembuskan nafasnya yang terakhir pada tengah malam mungkin hanya itu yang menjadi dugaan warga karena sebenarnya tidak ada yang tahu pasti kapan perempuan tua ini menjemput ajalnya.
“ menurut cerita yang kudengar, eyang Canting meninggal tengah malam lihat aja jenasahnya sudah kaku.” Cerita seorang pelayat
Sudah sejak pagi warga datang karena rasa simpati yang mendalam kepada perempuan tua ini, memang sejarah mereka mengenalnya tak sedikit yang kesal akan ucapannya namun akhirnya mereka sadar akan perbuatannya. Tepat setelah perempuan tua itu di bacakan yasin seorang lelaki dengan perawakan jangkung datang dengan menangis memohon maaf namun semuanya sudah terlambat.
“maafin didit eyang, didit salah meninggalkan eyang” ucap lelaki tersebut sambil terduduk di samping jenasah
Dengung suara pelayat melafalkan surat – surat suci terdengar seperti suara lebah yang mencari tempat untuk sarangnya, sebuah rumah berdinding bribik penuh ramai dengan pelayat yang melingkari keranda.
Anak pertama dari perempuan tua itu menyampaikan pidato kepaten, mewakili keluarga almarhum untuk meminta maaf dan memohon doa serta jika ada utang piutang akan di selesaikan oleh ahli waris.
“selaku putra almarhumah, mohon maaf yang mendalam atas apa yang di lakukan almarhumah entah ucapan atau perbuatan kemudian bila almarhumah memiliki sangkutan dengan warga sekalian maka di mohon untuk menyelesaikan dengan ahli waris”.
Setelah menyelesaikan pidato, kemudian dipimpin kayim iring-iringan meninggalkan rumah duniawi menuju rumah yang sederhana hanya 2x1 meter, saat itu tiba kesombongan dan keangkuhan akan lenyap.
                                                               xxx
Disebuah warung yang ramai seperti pagi – pagi sebelumnya, warung bagi ibu - ibu tidak hanya sebagai tempat berbelanja kebutuhan pokok, namun seringkali menjadi sebuah tempat mengobrol dan menggosip. Tak terkecuali eyang Canting, ia juga seringkali ketempat tersebut hanya untuk mendengarkan gosip terbaru atau mengomentari banyak hal. Atau bahkan ia sendiri yang memulai gosip. Tak jarang ucapannya begitu menohok ibu – ibu yang di komentari oleh beliau. Seperti ibu Puji yang suaminya hanya menghabiskan waktunya untuk memancing dan tidak begitu peduli akan keluarganya.
“ Puji, kamu ini mbok ayu nduk. Kok mau si sama si Hasbi yang tiap pagi ku lihat pergi menenteng pancing dan ketika pulang juga hanya menenteng pancingannya saja. Apa kamu mau hidup di bawah pancingan itu.”
“Tapi eyang, Mas Hasbi bertanggung jawab ..”
“Kalo bertanggung jawab mbok yo kerja cari penghasilan, istri jangan di biarkan banting tulang apa lagi perutmu itu sudah isi kan, bilang ke suamimu jangan cuma lepas burung kemudian lepas tanggungannya juga”.
Tak lama setelah puji meninggalkan warung dengan menahan air matanya, ia mengadukan hal itu kepada suaminya yang akan pergi mancing dan tersulut emosi sang suami lalu pergi ke warung untuk memberi pelajaran kepada Eyang Canting.
“Eyaaaang.... Cantiiing , urusi saja urusanmu jangan urusi keluargaku kalau kau masih mengomentari kelurgaku dengan mulut terkutukmu tak segan aku kaitkan pancing ini ke mulutmu”
Eyang Canting yang ketakutan hanya bersembunyi di dalam warung dan menunggu Hasbi pergi, namun hal itu lantas tidak membuat Eyang Canting jera dan meninggalkan kebiasaanya.
                                                               xxx
Iring – iringan jenasah telah sampai di mulut pemakaman, daun – daun kamboja yang jatuh saat musim gugur seolah memberikan pelajaran bahwa semua yang datang ke tempat ini adalah mereka yang telah melepaskan jiwa dari raganya dan akan memulai kehidupan yang baru, yang kekal. Sesampainya keranda di naikan lalu di letakan di samping liang lahat, di sekitarnya terdapat para penggali kubur yang telah siap sedari tadi menunggu kedatangan jenasah. Sesaat sebelum jenasah di keluarkan dari keranda, Didit cucu almarhumah ikut turun ke dalam liang bersama dua rang penggali untuk melayani neneknya ke peristirahatan terakhirnya. Dengan sedkit sesenggukan Didit meletakan jenasah neneknya, melepaskan ikatan kain mori satu persatu serta merta ikatan nenek Didit dengan urusan duniawi juga ikut terlepas.
                                                               xxx
Terdengarlah suara pertengkaran hebat antara  dalam sebuah rumah tak jauh dari rumah Eyang Canting. Tak lama setelah Eyang Canting menyadari pertengkaran itu terdengar suara motor pergi dari rumah dengan sosok lelaki yang merupakan kepala rumah tangga. Di dekatinya rumah tersebut terlihat seorang wanita muda yang sedang menagis tersedu – sedu. Eyang Canting kemudian mendekati perempuan tersebut dan mencoba menenangkan. Ia merasa iba terhadap apa yang menimpa pasangan suami istri muda ini, mereka belum lama menikah dan di karunia seorang bayi laki – laki namun hamoir setiap hari mereka harus bertengkar hanya karena sesuap nasi dan segelas susu bagi si kecil. Anak mereka ditipkan pada orang tua si perempuan karena perempuan in harus bekerja sebagai karyawan toko karena suaminya yang hanya pengangguran.
Namun kebiasaan Eyang Canting untuk mengomentari dan mengurusi urusan orang lain seolah menjadi penyulut kemarahan perempuan menjadi lebih meledak – ledak. Eyang Canting menyampaikan bahwa perempuan bodoh telah mau di persunting oleh seorang penganggura, ia malah menolak seorang pemuda tukang bakso yang melamarnya. Ia malahan menerima lamaran anak Kayim yang tak bisa apa - apa. Eyang juga menyampaikan buat apa banting tulang siang malam, merelakan menunda kasih sayang terhadap anak semata wayang kalau yang ia dapatkan hanya bantingan gelas dan piring  amarah suaminya.
“ kamu ini bodoh atau apa nduk, suami mu pergi dolan malah kamu yang kerja, kasian kamu nduk biarkan suami seperti itu merasakan akibatnya, dasar lelaki kampret.” Eyang mengeluarkan umpatan ke suami perempuan
Perepuan itu merasa tersinggung dan sakit dalam hati karena ucapan Eyang tersebut lalu berdiri, dan pergi menuju kamar kemudian berteriak untuk mengusir Eyang dari dalam kamarnya.
“Dasar Janda Tua, Pulang sana jangan urusin urusan orang”. teriak perempuan tersebut.
Di dalam gubuk bribik Eyang membuka pintu menjumpai suasana yang sangat ia benci, yaitu kesepian dan obrolan – obrolah yang telah lama hilang dari kehidupannya saat cucu pertama memanggilnya nenek dan mulai menjalankan kehidupan dengan cucunya yang sangat ia sayangi. Parmo anak lelakinya terpaksa menitipkan buah hatinya kepada ibunya karena urusan pekerjaan. Perempuan itu membesarkan cucunya dengan penuh kasih sayang, dan diajarkannya untuk berbuat baik kepada orang. Namun setelah besar cucunya sering di hujat dan di intimidasi oleh orang – orang sekitar karena perbuatan neneknya yang suka berkomentar pedas perihal kehidupan tetangganya. Sang cucu malu dan marah tapi entah kepada siapa, haruskah ia memihak para tetangganya yang merasa tersakiti oleh ucapan neneknya atau harus membela nenek yang sudah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang dan seolah – olah ibu baginya. Sang Cucu tak menghiraukan omongan para tetangganya. Semua itu ia pendam hingga berhari – hari, berbulan – bulan kemudian bergati tahun hingga sang cucu sudah beranjak dewasa dan harus meninggalkan neneknya untuk bekerja di luar kota, ada semacam kelegaan karena ia tak harus mendengarkan omongan tetangga tentang neneknya, atau bahkan sedih karena meninggalkan neneknya bagaimanapun ia sangat menyayangi neneknya. Dalam hatinya ia berjanji jika sukses nanti ia akan pulang dan mengajak nenekanya untuk ikut bersamanya dan meninggalakan gubuk bribik tersebut.
                                                               xxx
Jengkal demi jengkal tanah mulai di urug ke liang kubur perempuan tua itu, yang sebelumnya di kumandangkan adzan oleh Didit cucunya sambil terisak. Suara adzan yang berkumandang dari lelaki itu begitu menyayat dan membuat semua pelayat meneteskan air mata menyaksikan seorang lelaki yang sangat menyayangi neneknya, dan tetasan air mata itu adalah sebuah rasa kehilangan sosok yang sangat mereka segani walaupun sering ucap tutur katanya membuat hati mereka terluka namun apa yang diucapkannya semata – mata hanyalah nasihat kehidupan namun ia sampaikan dengan caranya sendiri.
Rombongan mulai melangkahkan kaki setelah usai upacara pemakaman Eyang Canting, mereka meninggalkan seorang perempuan tua dalam kesendirian seperti apa yang mereka lakukan di kehidupan Eyang sebelumnya. Eyang semasa hidupnya hidup sendiri, seolah tetangga meninggalkan dirinya. Keluargapun hanya mengadirkan kesepian dalam dirinya.
                                                               xxx
Pulanglah seorang lelaki dengan pikulan es pada petang hari dan disambut istirnya dengan senyum. Istrinya menyampaikan kepada suaminya bahwa Eyang Canting sudah di kebumikan tadi siang, lelaki itu terdiam dan menteskan air mata betapa dirinya menyesal dahulu pernah mengancam  akan mengaitkan pancing ke mulutnya. Sekarang ia menjadi tukang Es Doger dan telah meninggalkan kebiasaan memancingnya.


Ibnu Yana Syarifudin
Lahir di kota kecil Purwokerto 30 Juni 1994, Seorang Penikmat Sastra dan Pembelajar Otodidak, 

No comments:

Post a Comment