Hari
ini bukanlah hari yang baik bagi Udin, pasalnya bagi tadi ia sudah kena marah
orang tua karena bangun kesiangan. Memang biasanya juga kesiangan tapi kali ini
berbeda kalo biasanya cuma ibu yang bangunin sambil marah-marah, pagi tadi
bapak nya pun ikut serta membangunkan Udin. Awal yang buruk memang untuk memulai
hari tapi ya mau gimana lagi Udin memang kalo sudah tidur kaya orang mati ngga
bisa diganggu gugat kaya keputusan juri masak RT-an. Bahkan kalo Udin tidur di
jalur gaza pun bom israel ngga mungkin bisa bangunin dia, saking kebonya. Dengan
wajah yang lesu ia duduk di samping arif yang memang teman seperjuangannya
sejak SD dahulu, mereka sudah berteman jauh sebelum firaun jadi kafir, hehehe..
“rif, kamu percaya
mitos ?” sambil minum es teh si arif yang baru saja sampai.
“santai dong, sebentar.
Mba sedotannya satu lagi ya” teriak arif ke mba-mba kantin.
“yaelah rif, aku minta
dikit doang segitunya. Napa sih ?”
“sorry din, aku ngga
mau ciuman sama kamu. Soalnya ada mitos kalo pakai sedotan bareng itu sama aja
ciuman, kita memang udah temenan lama tapi ya gimana, just friend no more, you
know ?”
“anjir”
“rip kamu percaya
mitos? Pertanyaan aku belum dijawab.” Tegas udin lagi.
“percaya din, sebagian
percaya sebagian lagi engga hehe” lanjut pesen cemilan mendoan dan pisang
goreng.
“maksudnya gimana rif,
soalnya seperti yang sering kamu katakan. *sambil menirukan gaya arif* Din kita
itu harus melihat segala sesuatu dengan logis, karena hanya dengan begitu kita
ngga mudah di bego-begoin”
“oh iya tah din masa
sih?? makasih mba, cabenya mana mba? *arif yang masih sibuk dengan mba-mba
kantin*.
“heh kampret, kamu sendiri yang ngomong waktu
aku dapet sms hadiah 70juta dari telk**sel”.
“iya, iya selow ini hehee
aduh duh”
Arif
memulai penjelasanya sambil meniup-niup mendoan
yang baru saja diangkat, udin bersiap menerima penjelasan temanya seperti
biasa. Arif ibarat eksiklopedia bagi udin, hampir semua pertanyaan udin selalu
ditanyakan kepada arif. Kadang dijawab bener, kadang dijawab tapi malah bikin
si udin muter-muter.
“gini din, kali ini
kamu tanya mitos ya. Aku dulu waktu masih kecil sering banget denger eyangku
bilang ke mbaku, kalo anak perempuan itu ngga boleh duduk di depan pintu nanti
bisa jadi perawan tua. Dulu mbaku percaya banget sama itu. Soalnya waktu eyang
ku bilang begitu dia baru aja putus dari pacarnya. Ngga cuma mbaku saja yang
percaya, sampai ibuku juga sangat percaya, tapi setelah aku ikut .....”*hening
lamaaa*
“apaan monyet, malah berhenti”.
“bentar din, seret nih
pesenin es teh lagi sih kamu sih clamit”.
****Ceritanya
ES Teh Datang****
“ehhm gini din aku
lanjutin ya. Setelah aku ikut kelasnya Pak Dodit Dosen Komunikasi Tradisional,
beliau menjelaskan kalau mitos yang ada di masyarakat terutama masyarakat jawa
sebenarnya bukanlah mitos belaka tapi ada penyebabnya kenapa mitos itu
tercipta. Contohnya itu tadi ya tentang anak perempuan yang duduk di pintu bisa
jadi perawan tua, ini terkait budaya patriaki yang berkembang kalau perempuan
itu diidentikan dengan pekerjaan rumah, seperti memasak, bersih-bersih,
mengurus anak, dan lain-lain yang kaya ibu-ibu pada umumnya. Dari sana, kalo
ada perempuan yang duduk di pintu itu terkesan malas, nanti kalau ada pemuda
yang melihat mana mau menjadikannya dia menjadi istri. Males begitu, yang ada
nanti pekerjaanya terbengkalai ngurus rumah aja ngga bisa bagaimana mengurus
dirinya nanti. Maka orang tua yang melihat anak perempuannya duduk di pintu
khwatir, soalnya di jawa eh di Indonesia juga kayaknya perempuan yang belum
mendapatkan jodoh sampai umur 25 itu dibilang perawan tua, ngga laku dan
sebagainya. Kejam ya, haha.. malah aku pernah baca cerpennya Hermawan aksan,
yang judulnya Pernikahan Minul, kamu
harus bacaa. Di akhir cerita si Ibu dari minul bilang kalau dia lebih baik
punya anak janda daripada perawan tua. Nah itu Din, heh ini pisang goreng aku
pesen sendiri kalau mau”
“oh gitu, tapi kenapa
orang tua ngga langsung menjelaskan langsung saja pada intinya. Ngga perlu
berbohong atau menakut-nakuti seperti itu”
“itu pertanyaan bagus
din, ini pasti karena kamu ikut minum es teh aku. Sini enak ajaaa..gini Din
menurut aku, ini menurut aku ya. Untuk membuat orang menurut sebenarnya ada dua
cara, yang pertama jelaskan tujuannya dan buat orang itu mengerti hingga
akhirnya melakukan seperti yang kita inginkan. Tapi kebanyakan dari mereka
malas mendengar, susah paham dan ngga semua orang punya kemampuan untuk menjelaskan
dengan baik. Jadi kebanyak yang digunakan adalah pilihan kedua dengan cara
intimidasi, menakut-nakuti walaupun kadang terdengar ngga logis tapi tujuannya
baik kok, biasanya ini efektif hehe”.
Si
Udin berpikir kembali dia membayangkan kejadian tadi pagi. Kalau dipikir-pikir
dia juga yang salah kenapa harus tidur larut malam nonton drama korea akhirnya
kesiangan. Akhirnya Udin mulai mengerti alasan kenapa ayanhnya memberikan
dakwah gratis pagi tadi, dan ia tidak mungkin mendebatkan hal itu kepada
ayahnya yang ada malah berantem. Mana mungkin Udin dengan gagahnya bilang,
kalau rezeki aku dimakan ayam karena bangun siang bagaimana dengan pak Andi
wartawan yang punya mobil 3, rumah gedong dan mungkin istri 2, padahal dia
bangunnya siang karna kerjanya malem. Udin urungkan karena itu ngga bakal
terjadi malah menambah rumit.
“Din, aku udah kelar
mau balik duluan yaa. Silakan berpikir”
“eh rip tunggu, aku
nebeng ya hehe. Motorku di bengkel soalnya,”
Mereka
berjalan menyusuri kota purwokerto, sebuah kota kecil bagian kabupaten banyumas
dimana kebudayaan masih sangat dijunjung tinggi dengan masyarakat yang ramah
karena tetap menjaga adat istiadatnya. Dalam ketenangan perjalanan tiba-tiba udin
melihat sebuah billboard bertuliskan promo motor sport dengan model iklan foto
seorang wanita. Udin kembali bertanya ke arif.
“rif, kenapa sih iklan
banyak banget pakai modelnya wanita padahal kan itu motor buat laki-laki”
“besok deh aku jelasin,
soalnya setiap episode itu satu topik kasian yang nulis hehe” lanjut arif
setelah menunggu lama di perempatan DKT.
Sebuah
Serial Arif dan Udin, oleh ibnu yana s
No comments:
Post a Comment