Wednesday, 23 November 2016

Udin Bertanya Tentang Mitos

Hari ini bukanlah hari yang baik bagi Udin, pasalnya bagi tadi ia sudah kena marah orang tua karena bangun kesiangan. Memang biasanya juga kesiangan tapi kali ini berbeda kalo biasanya cuma ibu yang bangunin sambil marah-marah, pagi tadi bapak nya pun ikut serta membangunkan Udin. Awal yang buruk memang untuk memulai hari tapi ya mau gimana lagi Udin memang kalo sudah tidur kaya orang mati ngga bisa diganggu gugat kaya keputusan juri masak RT-an. Bahkan kalo Udin tidur di jalur gaza pun bom israel ngga mungkin bisa bangunin dia, saking kebonya. Dengan wajah yang lesu ia duduk di samping arif yang memang teman seperjuangannya sejak SD dahulu, mereka sudah berteman jauh sebelum firaun jadi kafir, hehehe..
“rif, kamu percaya mitos ?” sambil minum es teh si arif yang baru saja sampai.
“santai dong, sebentar. Mba sedotannya satu lagi ya” teriak arif ke mba-mba kantin.
“yaelah rif, aku minta dikit doang segitunya. Napa sih ?”
“sorry din, aku ngga mau ciuman sama kamu. Soalnya ada mitos kalo pakai sedotan bareng itu sama aja ciuman, kita memang udah temenan lama tapi ya gimana, just friend no more, you know ?”
 “anjir”
Udin lalu menceritakan kejadian tadi pagi ke arif, tentang ayahnya yang biasanya cuek tiba-tiba ikutan cerewet seperti ibunya. Ayahnya bahkan sempet ngasih dakwah gratis, kalau anak laki-laki harusnya bangun pagi, biar rezekinya ngga dipatok ayam. Anak laki-laki nantinya akan menjadi kepala rumah tangga, mau jadi apa keluarga kalau kepala rumah tangganya saja bangunnya keduluan sama ayam, mau dikasih makan apa anak istri. Dalem hati udin menjawab,” ya kasih makan ayamnya aja pak, yang udah patok rezeki aku”. Bahkan ayahnya sempat menceritakan pengalamanya dahulu waktu seumuran udin, sudah bangun pagi karena harus membantu eyang buka warung.
“rip kamu percaya mitos? Pertanyaan aku belum dijawab.” Tegas udin lagi.
“percaya din, sebagian percaya sebagian lagi engga hehe” lanjut pesen cemilan mendoan dan pisang goreng.
“maksudnya gimana rif, soalnya seperti yang sering kamu katakan. *sambil menirukan gaya arif* Din kita itu harus melihat segala sesuatu dengan logis, karena hanya dengan begitu kita ngga mudah di bego-begoin”
“oh iya tah din masa sih?? makasih mba, cabenya mana mba? *arif yang masih sibuk dengan mba-mba kantin*.
 “heh kampret, kamu sendiri yang ngomong waktu aku dapet sms hadiah 70juta dari telk**sel”.
“iya, iya selow ini hehee aduh duh”
Arif memulai penjelasanya sambil meniup-niup mendoan yang baru saja diangkat, udin bersiap menerima penjelasan temanya seperti biasa. Arif ibarat eksiklopedia bagi udin, hampir semua pertanyaan udin selalu ditanyakan kepada arif. Kadang dijawab bener, kadang dijawab tapi malah bikin si udin muter-muter.  
“gini din, kali ini kamu tanya mitos ya. Aku dulu waktu masih kecil sering banget denger eyangku bilang ke mbaku, kalo anak perempuan itu ngga boleh duduk di depan pintu nanti bisa jadi perawan tua. Dulu mbaku percaya banget sama itu. Soalnya waktu eyang ku bilang begitu dia baru aja putus dari pacarnya. Ngga cuma mbaku saja yang percaya, sampai ibuku juga sangat percaya, tapi setelah aku ikut .....”*hening lamaaa*
 “apaan monyet, malah berhenti”.
“bentar din, seret nih pesenin es teh lagi sih kamu sih clamit”.
****Ceritanya ES Teh Datang****
“ehhm gini din aku lanjutin ya. Setelah aku ikut kelasnya Pak Dodit Dosen Komunikasi Tradisional, beliau menjelaskan kalau mitos yang ada di masyarakat terutama masyarakat jawa sebenarnya bukanlah mitos belaka tapi ada penyebabnya kenapa mitos itu tercipta. Contohnya itu tadi ya tentang anak perempuan yang duduk di pintu bisa jadi perawan tua, ini terkait budaya patriaki yang berkembang kalau perempuan itu diidentikan dengan pekerjaan rumah, seperti memasak, bersih-bersih, mengurus anak, dan lain-lain yang kaya ibu-ibu pada umumnya. Dari sana, kalo ada perempuan yang duduk di pintu itu terkesan malas, nanti kalau ada pemuda yang melihat mana mau menjadikannya dia menjadi istri. Males begitu, yang ada nanti pekerjaanya terbengkalai ngurus rumah aja ngga bisa bagaimana mengurus dirinya nanti. Maka orang tua yang melihat anak perempuannya duduk di pintu khwatir, soalnya di jawa eh di Indonesia juga kayaknya perempuan yang belum mendapatkan jodoh sampai umur 25 itu dibilang perawan tua, ngga laku dan sebagainya. Kejam ya, haha.. malah aku pernah baca cerpennya Hermawan aksan, yang judulnya Pernikahan Minul, kamu harus bacaa. Di akhir cerita si Ibu dari minul bilang kalau dia lebih baik punya anak janda daripada perawan tua. Nah itu Din, heh ini pisang goreng aku pesen sendiri kalau mau”
“oh gitu, tapi kenapa orang tua ngga langsung menjelaskan langsung saja pada intinya. Ngga perlu berbohong atau menakut-nakuti seperti itu”
“itu pertanyaan bagus din, ini pasti karena kamu ikut minum es teh aku. Sini enak ajaaa..gini Din menurut aku, ini menurut aku ya. Untuk membuat orang menurut sebenarnya ada dua cara, yang pertama jelaskan tujuannya dan buat orang itu mengerti hingga akhirnya melakukan seperti yang kita inginkan. Tapi kebanyakan dari mereka malas mendengar, susah paham dan ngga semua orang punya kemampuan untuk menjelaskan dengan baik. Jadi kebanyak yang digunakan adalah pilihan kedua dengan cara intimidasi, menakut-nakuti walaupun kadang terdengar ngga logis tapi tujuannya baik kok, biasanya ini efektif hehe”.
Si Udin berpikir kembali dia membayangkan kejadian tadi pagi. Kalau dipikir-pikir dia juga yang salah kenapa harus tidur larut malam nonton drama korea akhirnya kesiangan. Akhirnya Udin mulai mengerti alasan kenapa ayanhnya memberikan dakwah gratis pagi tadi, dan ia tidak mungkin mendebatkan hal itu kepada ayahnya yang ada malah berantem. Mana mungkin Udin dengan gagahnya bilang, kalau rezeki aku dimakan ayam karena bangun siang bagaimana dengan pak Andi wartawan yang punya mobil 3, rumah gedong dan mungkin istri 2, padahal dia bangunnya siang karna kerjanya malem. Udin urungkan karena itu ngga bakal terjadi malah menambah rumit.
“Din, aku udah kelar mau balik duluan yaa. Silakan berpikir”
“eh rip tunggu, aku nebeng ya hehe. Motorku di bengkel soalnya,”
Mereka berjalan menyusuri kota purwokerto, sebuah kota kecil bagian kabupaten banyumas dimana kebudayaan masih sangat dijunjung tinggi dengan masyarakat yang ramah karena tetap menjaga adat istiadatnya. Dalam ketenangan perjalanan tiba-tiba udin melihat sebuah billboard bertuliskan promo motor sport dengan model iklan foto seorang wanita. Udin kembali bertanya ke arif.
“rif, kenapa sih iklan banyak banget pakai modelnya wanita padahal kan itu motor buat laki-laki”
“besok deh aku jelasin, soalnya setiap episode itu satu topik kasian yang nulis hehe” lanjut arif setelah menunggu lama di perempatan DKT.


Sebuah Serial Arif dan Udin, oleh ibnu yana s

No comments:

Post a Comment