6 tahun, eh bukan 5 tahun 3 bulan.. 11 Semester. Akhirnya aku bisa juga merasakan mengenakan toga, masa kuliah dan bolak-balik kampus mengejar dosen pembimbing akhirnya selesai. Sungguh sangat mengesankan. Aku menunggu untuk bercerita, dan entah aku mulai darimana. Yah ini bukan cerita pendek atau sebuah dongeng jadi tidak perlu runut. aku mulai saat malam itu saja.
Bagian Pertama : Ujian pendadaran
1.
Malam itu tanggal 15 Oktober 2017, aku tidak bisa tenang barang sekali pun. Aku buka buku, aku tutup, aku buka laptop, buka power point aku tinggalin, pergi ke WC jongkok lama tidak ada yang ingin keluar. Malam itu tepat besoknya aku harus ujian pendadaran. Apa yang salah denganku. Rasa deg-degan benar-benar berkecamuk, entah aku yang grogi, atau tidak siap materi atau karena snack untuk dosen ada yang kurang, aku tidak tau mana yang menjadi pemicu, aku tidak bisa tenang malam itu. Tepat setelah bapak Sirun selesai mengumandangkan adzan isya, aku memutuskan pergi ke kos temen cari hiburan dan menenangkan diri.
Salah satu pintu kamar atas kos terbuka menandakan ada seorang yang bisa aku ganggu malam itu. Dialah opik, seorang teman kelas. Tidak perlu aku gambarkan dengan jelas, aku yakin kalian tidak akan tertarik juga. Dengan masih melihat layar hapenya dia menyapaku.
“Nu, ujian pendadaran ya besok?”
Aku cuma senyum, lalu duduk sila di sebelahnya seperti pasien yang hendak minta jampi-jampi kepada mbah dukun.
“Ibnu, ngga butuh belajar ya. gokil” opik masih melihat layar handphonya.
“Deni mana pik?” tanyaku
“ Di Kamar lah”.
“Yooo, aku kamar deni dulu ya” kata ku meninggalkan opik, seperti orang yang gagal minta pertolongan mbah dukun.
Aku melangkah ke kamar deni, FYI deni ini juga temen kelas cuma bedanya dia sudah lulus duluan. Dan sudah diwisuda juga. Aku kesana kayanya sebuah langkah yang tepat, meminta saran dengan orang yang sudah berpengalaman.
“Den, Snack aku ambil gasik ya. Sidangnya setengah 8 soalnya” kataku di depan pintu.
“Ya santai aja bang, aku jam segitu sudah bangun kok”.
“ya makasih, bang”
“kamu sudah siap?” katanya sambil mengalihkan mukanya dari layar laptop, dan sekarang menatapku dalam.
Nah ini kesempatanku untuk mengadukan hati yang tak tenang kepada Deni, kamu memang bisa baca pikiran ku. Aku mulai cerita alasan ku datang kemari, tentang pikiran yang tak tenang, rasa ded-degan dan semuanya. Deni mulai berbagi pengalaman saat dia pendadaran, dan memberi saran yang cukup bermanfaat. Dia juga meyakinkanku bahwa aku yang mengerjakan skripsinya sendiri, kenapa harus takut. Yang paling tahu tentang skripsiku ya jelas aku. Saat itu aku sedikit hilang ketegangan menghadapi ujian besok pagi.
Ini yang seperti dukun opik tapi yang kasih pencerahan malah deni, not bad lah. Aku dengar di luar ada suara brisik. Ternyata Rudi datang dari kosannya, main ke kos Opik juga. Ya Rudi juga temen kelas, dia adalah manusia paling ganteng dengan tingkat PeDe 1423 Persen Hijriah. Pas aku samperin ternyata ada Febi juga, dia pacarnya Opik. (Red : Mantan)
Saat aku hampiri tiba-tiba rudi memberi saran untuk main gitar, akhirnya dengan bermodal gitar milik Dimas yang sedang tidak ada di kosan. Aku ambil dan mulai main gitar dengan Rudi, Opik dan Feby, kalau Deni ya dia tetap di kamar. Setelah memainkan beberapa lagu yang tidak ada kelar satupun karna hanya ketawa-ketawa saat Rudi mulai ikut nyanyi, Hanifan datang. Ia datang memecah kebuntuan kami dalam bernyanyi, diantara kami Hanif yang paling mending suaranya. Kami bermain gitar sampai jam 11 malam. Sangat menyenangkan memang, tapi aku harus pulang dan bersiap untuk ujian. Aku memutuskan untuk pamitan dan melangkah pulang.
*****
2.
Pagi hari, setelah adzan subuh oleh bapak Sirun aku beranjak dari peraduan, kuambil air wudlu dan melaksanakan sholat subuh. Berdoa sedikit agar hari ini dimudahkan ujian. Pagi itu aku tidak berdoa tentang cari jodoh dulu, aku prioritaskan untuk ujian ku dahulu.
Setelah rapi, dan memantaskan diri di depan cermin. Pukul 6.00 aku sudah siap untuk pertempuran terakhir. Gusti alloh memang sayang dengan aku, pagi itu tiba-tiba Hujan. Yaaa benar sekali hujan dipagi hari. Ternyata Ujianku dimulai lebih pagi, yaitu dengan hadirnya Hujan ini. Aku kembali melinting celana hitam bahan ku, ku gulung baju putih yang agak kedean, dan aku lepas sepatuku berganti dengan sendal. Kupakai mantel batman agar baju dan laptopku tidak basah sampai kampus. Dengan bermodal Bismillah aku kebut motorku untuk sampai di kampus lebih cepat karena harus menyiapkan ruangan terlebih dahulu.
Tujuan pertama adalah mampir ke kosan Deni untuk ngambil snack yang aku titipkan, sedikit ribet karena harus menjaga snack tetap utuh di tengah hujan yang lebat. Mantel Batman memang menjadi pahlawan pagi itu, untung mantelnya Batman. Aku sampai dikampus dengan baju sedikit basah karena lebih mengutamakan keamanan snack, mesin motor agak ngebul. Ya panas dan kehujanan. Tau lah ya.
Dengan sedikit lari kecil aku tenteng snack dan tas kresek hitam berisi sepatu, serta menggendong tas berisi laptop masuk kedalam ruang ujian. Dengan susah payah akhirnya aku bisa sampai juga diruangan. Pagi hari, hujan dan sepi. Kampus FISIP pagi ini terasa menyembunyikan kegaduhannya. Suasana yang hanya bisa dinikmati jikalau pagi hari. Setelah menghela nafas, aku langkahkan kakiku masuk.
Sedikit terkejut ketika aku lihat seorang bapak tua sedang berdiri membelakangi ku. Menoleh pelan, lalu tersenyum kemudian sedikit cemberut karena ternyata aku menginjak lantai yang baru saja di pel.
“Punten pak, saya tidak tahu” aku berbalik menaruh sendalku di depan dan kembali masuk ke ruangan tanpa alas kaki.
Dengan senyum yang sama si Bapak tadi bilang “Sendalnya Pakai aja mas, nggak papa kok”.
Terus kenapa aku harus balik dan lepas sendal di depan pintu. Hmmm.
“Mau pake ruangan ini ya mas? AC nya sudah bapak nyalain tapi proyektornya belum, bapak bingung.” Katanya sambil memegang remote AC, disebelahnya bersender alat Pel dan Ember.
“Iya pak matur nuwun, nanti saya saja yang nyalain proyektornya”, kataku sambil menaruh snack dan tas kresek hitam berisi sepatu.
Bapak yang sampai sekarang aku tidak tahu namanya itu pergi meninggalkan ku seorang diri dalam ruangan yang sunyi, hanya terdengar suara hujan dipadu dengungan suara angin dari kipas AC. Aku duduk menghela nafas, ku selonjorkan sedikit kaki lalu kuambil botol minum ku. Hampir aku tersedak saat bapak yang tadi balik lagi.
“Maaf mas, Pel nya ketinggalan” katanya polos, senyum yang sama dan meninggalkan ku lagi
Buat bapak-bapak yang suka ngepel pagi hari dikampus, bisa nggak sih gausah sok misterius dan kagetin orang. Heran aku.
Setelah bapak itu berlalu, aku nyalakan laptopku. Ku cari playlist musik agar aku bisa sedikit tenang. Terlihat lagu yang judulnya 15, sumpah angka aja gitu 15. Di bawah nya 18. Aku teringat suka banget dengan lagu itu. Aku putar lah... seeehhhh...
FYI lagi ya, ternyata setelah aku tanya dan perdengarkan ke mas metal (Rizky Hardiansyah), tenyata itu lagunya The Crunch Beries yang judulnya Dream. Iya Mas metal memang tahu banyak tentang musik dan sudah pasti aku diketawain terlebih dahulu. Tapi aku jadi tau kalau itu lagunya Crunch Beries. Aku turut berduka cita sang vokalis baru-baru ini meninggal dunia. Disaat aku baru tahu lagunya eh sang Vokalis malah meninggal dunia. Memang tidak ada hubungannya, tapi aku merasa personal aja. Ada sedikit ironi disana.
Ya balik lagi ke aku yang mutar lagu 15 itu, sambil mendengarkan lagu itu. Aku siapkan semuanya. Aku tata snack di meja dosen penguji, yang menghadap mejaku. Ku benerin celana dan baju ku, aku pake dasi dan mulai memantas diri di cermin dekat WC dosen. Dan aku pakai sepatuku, hampir lupa aku.
Aku tunggu dosen datang dengan membaca sedikit lagi power point yang aku siapkan seminggu yang lalu. Dalam hati aku berkata “ ini lah saatnya”.
****
3.
Jarum jam ruangan menunjukan pukul 07.30...
Aku bergegas menjemput dosen pengujiku, aku datangi satu persatu dosen pengujiku. Yang pertama adalah Bapak Tri Nugroho Adi, dia adalah dosen pembimbing satu. Pokoknya beliau adalah man of the match lah dalam skripsiku. Beliau yang membantu diskusi, memberi referensi dan mengatakan padaku untuk yakin dengan judulku dan percaya aku bisa menyelesaikannya, walaupun harus aku kerjakan 1,5 tahun. Lama juga ya bu. Hahahaha...
Seperti biasa pak Adi selalu ada di ruangannya pagi hari, kalau mau mencari pak Adi datanglah pagi hari ke kampus. Beliau dosen yang sering datang lebih pagi dari rekan dosen lainya. Aku tidak begitu susah menemukan beliau. Kemudian aku beranjak menuju Lab Komunikasi untuk menemui Bapak Edi Santoso, dosen pembimbing dua ku. Beliau sudah siap menungguku, dengan sedikit salam dan salim. Aku bersamanya jalan menuju Jurusan untuk memberi kode pak Adi supaya datang ke ruangan bersamanya.
Tinggal satu dosen lagi. beliau adalah Bapak Nana Sutikna. Dosen pengujiku. Atau Dosen pembimbing 3, walaupun dalam skripsi ditulisanya semua Dosen penguji ya. Ruangannya masih sepi, buku-buku di mejanya masih rapi. Ah beliau belum datang. Aku coba SMS beliau lagi untuk mengingatkan bahwa hari ini saya ada ujian pendadaran, beliau adalah dosen pengujiku. Tidak di balas. Ya beneran nggak di balas.
Sambil menunggu dibalas aku balik ke ruangan ujian. Disana sudah ada Pak Adi dan Pak Edi berjejer mengobrol. Aku duduk pelan di kursiku yang menghadap mereka berdua. Menunggu pak Nana datang. Sumpah itu adalah momen palling akward, kita sama-sama tahu sidang harus segera di mulai. Tapi Pak Nana belum juga datang. Pak Edi mulai gusar karena harus mengajar ke kampus lain nanti tepat jam sembilan pagi. Dengan sedikit senyum, atau lebih tepatnya cengangas-cengenges aku ambil handphone dan aku hubungi pak Nana. Lama tidak diangkat. Aku coba lagi. akhirnya terdengar suara pak Nana diujung sambungan telepon. Bersamaan dengan beliau melewati pintu masuk ruangan.
“Hallo mas, saya sudah datang ini. kamu ngapain telepon?” katanya sambil senyum di barengi tawa pak Adi dan Edi, ya ampun mereka terlihat senang dan aku masih saja deg-degan.
Setelah pak Nana duduk, beliau bertiga melihatku serius. Dan mengatakan.
“Kalau mau berdoa, berdoa dulu aja mas”. Kata pak Adi dengan datar.
Aku merasa terancam.
Aku tundukan mukaku, dan komat-kamit seolah berdoa namun bukan doa yang aku panjatkan hanya berkata dalam hati. Mati aku... mati aku ... mati aku...
Pak Adi sebagai moderator mulai membacakan peraturan sidang, dan tata tertibnya. Lalu mempersilakan aku untuk mulai presentasi. Dengan sedikit suara bergetar karena gugup, aku mulai salam dan sedikit menyapa dosen yang ada di depanku.
*****
4.
“Asalamu alaikum, selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita semua. Yang terhormat Bapak Tri Nugroho Adi M.Si, Dr. Edi Santoso M.Si, dan Dr. Nana Sutikna. M.Hum. Pertama saya akan menjelaskan latar belakang penelitian saya”, kataku pelan dengan sedikit melihat ke arah laptop.
“Langsung aja ke hasil pembahasan mas, BAB IV.. sebelum nya kan sudah waktu Seminar proposal” kata pak Nana dengan nada agak tinggi.
Aku gemetar, dan mengscrool sampai ke BAB IV.
Kemudian aku mulai menjelaskan tentang hasil penelitianku, mereka terlihat serius. Aku lebih serius. Mereka menyenderkan badan, aku tetap menjelaskan. Pak Nana mulai mencatatat, Pak adi ikut mencatat, Pak edi terlihat minum namun pandangannya tak lepas dariku, dan aku semakin serius menjelaskannya. Sampai akhirnya aku selesai dan menutup presentasiku.
“Ya terima kasih saudara Ibnu atas presetasi yang menarik, dan saya bilang kan 10 menit untuk menjelaskan nya. Ini sih hampir 20 menit kamu menjelaskan. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa ya pak Nana, Pak Edi” Pak Adi selaku moderator mulai berkata-kata.
Aku hanya senyum cengar-cengir, kok bisa over sih. Aku terlalu serius sampai waktu untuk presentasi mleber hampir 20 menit. Padahal cuma Hasil penelitiannya saja. mati aku.
“Silakan Pak Nana yang pertama untuk menanggapi presentasi nya” Kata pak Adi seolah menyerahkan pedang ke pak Nana.
Beliau membuka skripsiku, membolak-balik dengan cepat, menutupnya dengan mantap. Lalu mengeluarkan catatannya. Bagi dia catatan, bagiku ia seolah menghunuskan pedang kearahku.
“Pertanyaanku sederhana. Ini kan kamu penelitian tentang feminisme, dan kamu mengatakan bahwa penulis cerpennya si Djenar ini adalah seorang Feminis. Dengan karyanya yang banyak menggambarkan penderitaan perempuan. Menurut kamu dimana letak feminis dari Djenar itu sendiri. Kan ini perempuan digambarkan selalu tersiksa. Silakan..” katanya dengan senyum puas.
Dalam hati. Apanya yang pertanyaan sederhana bapak Dr. Nana Sutikna, M.Hum.
Aku memutar kepala, mencoba membuka skripsi di depanku. Meminta sedikit waktu untuk menjawabnya. Akhirnya aku teringat analogi pilkada. Aku tutup skripsiku, dengan mantap dan mulai menjawab.
“Begini pak, memang dalam karyanya Djenar maesa ayu seringkali menggambarkan ketertindasan seorang perempuan. Tentang pemerkosaan, perempuan terperdaya iklan, perempuan yang melacurkan diri, perempuan dinikah siri sampai perempuan yang harus bercerai karena suaminya selingkuh dengan pelacur. Namun perspektif yang dipakai Djenar adalah sudut pandang korban, sudut pandang perempuan. Kita sebagai pembaca diajak untuk memahami dari sudut pandang perempuan. Dengan begitu simpati kita lebih tertuju kepada korban. Efeknya adalah kita akan merasa bersalah atau mengerti, agar tindakan seperti itu tidak lagi diulangi. Letak Feminisnya adalah Djenar ingin memperjuangan Feminisme di tengah Patriarki dengan menunjukan kelemahan Patriarki. Seperti analogi dalam Pilkada, jika ingin mengalahkan lawannya ada dua cara. Pertama tunjukan kelebihanmu, atau cara yang kedua dengan menunjukan kejelekan lawanmu. Djenar saya pikir menggunakan cara yang kedua. Dengan memberikan kejelekan Patriarki agar masyarakat lebih memihak pada Feminisme, kira-kira seperti itu” jelasku, sedikit panjang. Sedikit spasi. Dan sedikit terburu-buru. Lalu aku minum. Dan ambil tisu.
“Oke, tidak terlalu buruk. Pertanyaan selanjutnya. Dalam skripsi kamu ini, kamu juga membahas Djenar kan?” kata beliau memastikan.
“Iya pak” sedikit gemetar
“Sejauh mana kamu mengenal Djenar, dan apakah kehidupan latar belakangnya mempengaruhi setiap penulisannya. Apakah Djenar maesa ayu benar-benar mengalami ketertindasan seperti yang ia gambarkan dalam karyanya itu?” katanya dengan penuh yakin.
“Terima kasih pak, dalam perjalanan penelitian saya memang tidak diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan Djenar. Dan saya masih berharap itu. Namun dari beberapa artikel yang saya peroleh kehidupan Djenar memang tidak jauh dari perceraian. Seperti orang tua Djenar yang bercerai bahkan ia sendiri pun bercerai dengan suaminya. Sejauh yang saya tahu kemungkinan ada pergolakan dalam batinnya hingga ia bisa menelurkan karya-karya yang banyak membahas tentang perempuan” kataku mantap
“ya.. itu tidak menjawab pertanyan mas ibnu”. Katanya
Mati aku, kenapa aku ngelantur.
“Ya anggaplah memang Djenar mengalami itu semua, seperti pernyataan kamu tadi. Bukankah itu menjadikan statemen dia dalam karyanya tentang Feminisme dan keadilan terhadap perempuan menjadi Bias tidak objektif lagi?” sanggah nya..
Shit.
Dosen S3 memang tidak main-main. Gelar memang tidak bisa berbohong. Oke sekarang aku dengan gemetar mencoba menjawabnya. Dengan meminta waktu sedikit untuk membuka skripsiku.
Ku bolak-balik latar belakang, mencari paragraf yang membahas djenar, tak kutemuo. Aku mblabas ke bagian teori, aku baca sekilas. Kututup lagi dengan mantap. Dan mulai menjawab.
“Terima kasih atas pertanyaanya, Dalam analisis penelitian saya, saya menyertakan beberapa kutipan salah satunya adalah dalam berkarya prinsipnya adalah make believe, seorang itu tidak harus benar-benar mengalami kejadian itu. Dia hanya perlu peka terhadap sekitar dan menangkap fenomena yang terjadi, bisa dalam dirinya, tetangganya, keluarganya atau bahkan seseorang yang tak dikenalnya. Apakah William Shakespeare benar-benar rela mati demi Julietnya. Kita tidak pernah tahu, yang ia katakan hanyalah Romeo begitu mencintai Julietnya. Tapi kita begitu percaya bahwa Romeo benar-benar patah hati bunuh diri menyusul Juliet. Karena menurut saya inilah seni dari sastra, kita mungkin percaya dan memahami sebuah sastra dengan menduga sang penulis benar-benar mengalaminya sampai kita melupakan bahwa yang kita baca adalah sebuah kisah fiksi. Karena sastra tidak hanya menjual cerita yang menarik namun juga gagasan didalamnya. Seperti Djenar tadi mungkin saja ia tidak mengalaminya atau mungkin mengalaminya, itu tidak menjadi persoalan. Karena sudut pandang kita sebagai pembaca harus sadar bahwa ini adalah sebuah fiksi. Tapi gagasannya apakah itu relevan, mungkin saja. seperti yang coba diungkapkan Djenar tentang keadilan terhadap perempuan. Jadi Bias atau tidak kita kembalikan pada gagasannya saja. Dengan berpikiran terbuka mungkin saja benar apa yang coba diungkapkan Djenar.”
“Cukup menarik jawaban kamu, kita lanjut ke pertanyaan selanjutnya.” Kata beliau sambil melihat kembali catatannya.
Aku sedikit lega karena sepertinya beliau puas, buktinya tidak di kejar lagi.
“Dari beberapa analisis yang saya baca ini, kamu terlihat sekali sangat mendukung feminisme. Padahal kamu sendiri laki-laki. Pertanyaan saya sederhana...” Pak Nana mulai dengan kalimatnya
Aku sudah tidak percaya lagi kalau itu pertanyaan yang sederhana.
“Perempuan yang selalu mengedepankan feminisme dalam setiap perilakunya bukankah membuat kita tidak nyaman, bahkan dalam statemen kamu. Panggilan godaan atau istilahnya cat calling itu sebenarnya merendahkan perempuan. bagaimana kamu menanggapi dan menjelaskan itu?”
Aku tidak lagi membuka skripsiku, karena dua kali aku buka dipertanyaanya sebelumnya tidak menemukan jawaban. Aku langsung menjawabnya.
“Iya, pada dasarnya perempuan pun ingin diperlakukan layaknya manusia, tidak ada pengsubordinatan diantaranya. Seperti panggilan menggoda kaya “hey sexy, temenin abang sini”. Atau “hai kamu yang bodinya aduhai, sini sama abang saja”. itu merendahkan perempuan. karena perempuan dalam penelitian saya tidak ingin dilihat hanya sebatas sexualitas semata namun juga intelektualnya”.
“Tapi kan kita sebagai laki-laki tidak bisa mencegah pikiran kita, apakah kamu akan menolak berpikir kalau ia sexy sedangkan perempuan yang di depanmu kamu memakai baju yang menonjol dan agak terbuka” beliau nampak tak puas dan mulai mengejar jawabanku.
“Ya itu tadi pak, kita sebagai laki-laki harus bisa adil sejak dalam pikiran. Dari kita sendiri yang harus bisa memilah mana yang bisa dan mana yang tidak kita pikirkan. Seperti pandangan sexy tersebut”. kata ku agak ngambang dan aku yakin pasti akan dikejar lagi
“Kata siapa kita bisa memilah pikiran itu, katakanlah kita hanya bisa menahannya dalam benak kita. Sekarang siapa yang teraniaya karena perempuan berpakaian sexy? Laki –laki atau perempuan?” kata beliau dengan yakin.
Mati aku. Beberapa dalam diriku mengiyakan statemen beliau. Tapi setengahnya lagi mengatakan tidak. Cat calling menurutku tetap merendahkan perempuan. akhirnya dengan sedikit normatif aku mulai menjawabnya.
“hmmm.. beberapa aku mengiyakan juga pak. Memang tersiksa dan kesannya membohongi diri sendiri kalau melihat perempuan sexy dan berkata ia tidak sexy. Tapi aku mengutip statemen dari Mansoer Fakih bahwa Feminisme itu harus diperjuangkan semuanya. Pertama oleh perempuan itu sendiri, seperti janganlah berpakain yang bisa merendahkan dirinya, kemudian laki-laki tidak lantas memandang rendah perempuan hanya sebatas penampilannya saja. Keadilan yang sebenarnya adalah dengan berbagi rasa tidak nyaman dan saling mengerti satu sama lain. Walaupun dalam analisisku juga mengatakan banyak dari perempuan berdandan dan berpakain menarik tidak lepas dari kebutuhan mereka untuk memenuhi pandangan pria atau istilahnya male gaze ini ada dalam buku Tong bab Feminisme Sosialis, yang mungkin akan diingkari oleh perempuan dengan mengatakan untuk kenyamanan dirinya. sayangnya dalam ruangan ini tidak ada perempuan yang bisa mengkonfirmasi itu. Jadi sepengatuhanku kira-kira seperti itu pak.” Jelasku agak panjang walaupun diplomatif
“Yaa, tapi tetap saja. tapi tidak apa-apa dari jawaban kamu minimal kamu sudah baca, bagus. “ beliau menanggapi.
*NB:Hanya beberapa tanya jawab yang saya tampilkan, sebenarnya banyak lagi tapi susah dituliskan.
“Silakan Bapak Edi selaku penguji dua, kira-kira apa yang ingin disampaikan?” kata pak adi datar, setelah pak Nana selesai.
Pak Edi nampak senyum kepadaku, dia tertawa sendiri. Kemudian mulai membuka catatanya. Dan kembali menatapaku.
“Saya sebenarnya penasaran kenapa kamu memilih Djenar sebagai bahan skripsi kamu? Apakah ada motif tersendiri ?” ungkapnya. Dan aku yakin beliau tidak berhenti disana.
“Ada beberapa alasan saya memilih Djenar dan karyanya, pertama saya melihat karya djenar seringkali menjadi konroversi. Di sisi lain banyak mendapat pujian, namun tidak banyak menuai kritik karena bahasanya yang terlalu vulgar. Menjadi menarik ketika dikaji bagaimana proses kreatif Djenar dan gagasan yang ada dalam karyanya. Kedua, ini alasan pribadi. Aku sangat tersentuh saat membaca cerpen Djenar yang berjudul Air. Itu pertama kali saya bersentuhan dengan Djenar. Cara penceritaan yang tidak pernah saya temui sepanjang saya membaca cerita”. kataku dengan berbinar.
“Jadi bukan karena cantik ?” katanya tersenyum.
Aku yakin pak Edi mencoba menggoyahkan ku. Aku tau arah permainannya. Hebat kan aku.
“Tidak pak, Saya benar-benar tertarik dengan karya dan proses kreatifnya” katanya.
“Bagus jawabannya, kalau tadi kamu jawab cantik itu akan mengurangi kredibilitas penelitian kamu. Karena kamu sendiri sudah sexies dalam menentukan objek penelitian. ngga objektif lagi,” katanya sambil membuka skripsiku lagi.
Alhamdulillah jawabann saya tepat.
“Nah ini pertanyaanya...” katanya . Lah belum dimulai ya, oh shit. Tadi cuma basa-basi semata.
“Dalam analisis kamu, kamu membagi mejadi tiga bab analisis. Feminisme Liberal, Feminisme Sosialis dan Posisi Pembaca. Ini menarik. Pertama kenapa ? itu dulu deh” katanya tersenyum sambil membenarkan tempat duduknya.
“Terima kasih pak, Alasan saya membaginya menjadi tiga sub analisis karena saya berpedoman pada analisis gender Sara Mills. Ia mempunyai konsep analisis penulis, karya, dan posisi pembaca. Untuk menganalisis Penulis dan proses kreatifitas nya saya menggunakan Feminisme Liberal dengan alasan melihat latar belakang Djenar, salah satunya ia juga tergabung dalam komunitas salihara. Sisi kebebasan dan berekspresi ditunjukan Djenar dalam karyanya, ia menjadikan perempuan seutuhnya dengan meletakan tokoh perempuan sebagai subjek pencerita. Seperti gagasan Feminisme Liberal bahwa perempuan juga memiliki kesamaan dengan laki-laki. Seimbang. Dan Djenar melakukannya. Kemudian Feminisme sosialis saya gunakan untuk menganalisis karyanya, karena ketika saya membaca beberapa permasalahan yang coba diangkat Djenar adalah permasalahan Feminisme Sosialis seperti seksualitas, intelektualitas dan mothehood (Keibuan). Jadi menjadi relevan karena permasalahan yang dihadirkan tidak lepas dari itu semua. Kemudian posisi pembaca, ini saya menggunakan latar belakang pembaca budaya patriarki dengan alasan geologis karya ini dibuat dan permasalahannya yang dekat dengan masyarakat patriarki.”
“Bagus, Posisi pembaca ya. menurut kamu sejauh apa ini menjadi konsen publik. Dimana publik sendiri sangat menjunjung adat dan norma. Bukankah masyarakat yang konservatif tidak suka jika kenyamanannya digoyang?” kata beliau.
“Iya, itu juga yang menjadi permasalahan sekarang. Ini menjadi konsen publik memang masih jauh dari kata sudah. Namun saya merasa ini penting karena masyarakat sekarang tidak banyak mengerti aturan yang sudah ada, alasan kenapa aturan itu dibuat, hanya menerimanya dan melaksanakannya. Seringkali perempuan diperlakukan tidak adil ketika ditanya kenapa ia dilakukan seperti itu jawabannya selalu “Ya kan kamu perempuan, aturannya begitu”. Contoh nya. Dalam cerpen Nol-Dream Land Perempuan akan dipersalahkan jika ia tidak bisa hamil dalam pernikahannya, menjadi wajar jika suami mencari istri lagi. Ketika perempuan mencoba menanyakan itu, itu dibilang wajar. Padahal dalam pernikahan seharusnya yang terjalin adalah kemitraan, bukan kepemelikan. Dalam kasus tersebut perempuan dianggap milik suami, jadi suami bisa menggantinya jika ia tak bahagia dengan perempuannya. Hal semacam ini yang perlu diperjuangkan pak, memberikan edukasi, saya harap ini bisa menjadi konsen publik”. Jelasku yang tidak tau nyambung apa enggak dengan pertanyaan Pak Edi.
“Oke, kemudian bagaimana posisi pembaca menafsirkan dalam analisis kamu? Saya kok merasa agak ragu ya. Disini pembaca keseluruhan atau hanya imajinasi kamu semata?”
Pertanyaan bagus. sangat berisi. Dan aku linglung sendiri.
Aku meminta waktu sebentar untuk membuka skripsi saya lagi, agak lama saya meminta waktu, hingga pak Edi kembali menawarkan pertanyaan yang lain namun aku segera menjawab pertanyaan sebelumnya.
“Saya mengerti kekuatiran akan tidaknya relevan dalam analisis posisi pembaca ini, namun saya memiliki metode dengan menentukan terlebih dahulu cerpen mana yang paling dekat dengan budaya patriartki pak” jelasku belum selesai, namun langsung disamber pak Edi.
“Maksudnya, kamu tidak menganalisis semua cerpennya? Kategori apa yang kamu pakai?” katanya cepat.
Dalam hati, iya sabar dong pak. Ini saya juga nanti bakal jelasin kesana. Bapak jangan nyamber dulu ya, oke tenang pak tenang.
“iya pak, saya memilih sedikitnya 5 cerpen dari total 14 cerpen dalam buku SAIA.
Lanjut Part 2.....
No comments:
Post a Comment