Friday, 23 January 2015

Jun Si Kurir Roti



Pagi ini rasa ngantuk masih sangat menyelimuti diri junaidi, pukul tiga dia baru merebahkan badannya dan pukul lima sudah harus bangun untuk mengantarkan roti Bu Dani ke warung – warung langgananya. Biasanya Jun panggilan akrabnya menggunakan motor milik Bu Dani untuk transportasinya. Setelah mengantarkan roti, jun harus berangkat kesekolah, jun saat ini masih kelas tiga SMA yang sebentar lagi akan menempuh Ujian Nasional.
Namun pagi ini terasa berat baginya karena kemaren sore dia baru saja tertimpa musibah yang sangat tak terduga olehnya, uang pelanggan roti Bu Dani yang bernama Bu Santo yang dititipkan untuk disetorkan hilang dari tas yang dibawanya, dia tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Dia memikirkan hal itu sampai – sampai membuatnya terjaga semalaman dan baru terlelap saat subuh hampir datang. Uang itu adalah setoran yang seharusnya diberikan ke Bu Dani saat sore itu juga namun Jun ada keperluan terlebih dahulu yang menyebabkan dirinya menundanya. Ya junaidi harus mengantarkan adiknya mengikuti latihan drama di sekolah smp nya.

“ pagi mas “, sapa Arin adikJunaidi. Arin adalah adik perempuan satu – satunya yang sangat Junaidi sayangi. Sapaan Arin mengagetkan kakaknya yang sedang melamun sembari memanasi motornya.
“ eh de, bikin kaget mas aja” sapa Junaidi sambil tersenyum menyembunyikan perasaan yang gundah gulana dan memberikan senyum terbaiknya untuk adik kesayangannya itu.
“Arin buatin teh anget buat mas, mas semalem Arin bangun dan ga sengaja melihat kamar mas Jun masih menyala, mas lagi ngerjain sesuatu atau mas lupa mematikan lampu kamar.”
“oh iya, mas lupa mematikannya semalem mas pulang langsung tidur udah sana kamu siap – siap untuk berangkat ke sekolah nanti mas anter sambil mas ambil roti nya Bu Dani”.
“ baik mas ku yang ganteng Arin siap siap dulu ya, itu teh nya di minum ya mas”
“iya” jawab junaidi datar. Dalam langkah Arin yang meninggalkan kakanya terbayang betapa tanggung jawab dipundaknya untuk menjaga dan memberikan kebahagiaan kepada adiknya. Dipandanginya langkah kaki adiknya tak terasa junaidi membayangkan masa lalu nya ketika dia dan adiknya ditinggalkan oleh bapaknya di rumah berdua dulu. Bapaknya bukanlah orang jahat yang tega meninggalkan anak – anaknya namun bapaknya difitnah oleh temannya sehingga harus berurusan dengan polisi. Bapaknya di fitnah telah melakukan penganiayaan kepada seorang rekannya hingga tewas, setelah setahun dipenjara kabar buruk datang kepada Junaidi kalau bapaknya sudah tewas di penjara. Belum pasti penyebab kematiaanya. Sepeninggalan bapak, Jun hanya hidup berdua dengan adiknya. Syukurlah mereka masih mempunyai rumah peninggalan bapaknya dulu. Dan rumah ini menjadi satu – satunya harta yang dimiliki oleh jun dan Arin. Kata – kata bapaknya masih sangat jelas di pikirannya saat malam sebelum beliau digelandang ke kantor polisi. Bapaknya berkata “ Jun nanti kalau kamu merasa sendiri, tidak punya siapa – siapa ingatlah Jun kamu masih punya tuhan yang akan menunjukan jalan di setiap masalah yang kamu hadapi .” itulah kata terakhir yang diucapkan ayahnya karena sejak saat ayahnya ditahan dia tidak diperkenankan untuk menjenguk ayahnya, dia sendiri heran akan hal itu.
Pagi ini ini begitu cerah namun tidak dengan hati Jun, setelah mengantarkan Arin ke sekolah dia mengarahkan motornya ke rumah Bu Dani untuk mengambil roti lalu diantarkannya sebelum dia berangkat ke sekolah. Berat sekali hatinya, kacau ketika memikirkan bagaimana perasaan Bu Dani mendengar hal itu. Bu Dani adalah pengusaha roti kecil – kecilan yang hidupnya sendiri sebenarnya hanya pas untuk menghidupi anak – anaknya. Bu dani adalah janda yang ditinggal mati oleh suaminya saat suaminya bertugas ke daerah konflik. Namun, Bu Dani bagaikan malaikat untuk Jun beliau yang memberinya pekerjaan untuk uang hidup Jun dan adiknya. Bu dani bahkan tidak segan – segan untuk memberikan bantuannya bila Jun memintanya. Namun dua bulan terakhir ini Jun lah yang sering membantu Bu Dani sampai sore karena anak kedua Bu Dani terkena penyakit yang mengharuskanya istirahat total untuk waktu yang tidak diketahui.
Sampailah jun di halaman Bu Dani, diparkirkanya sepeda motor itu dan menaruh helmnya di spion laluvmelangkah ke belakang untuk mengambil roti yang sudah disiapkan bu Dani. Tiba – tiba jun tidak sengaja mendengar percakapan bu dani lewat telepon, Jun tidak tahu telepon dari siapa. Dia hanya mendengar bahwa bu Dani di beri waktu tiga hari, setelah kata itu telepon ditutup dan bu Dani meneteskan air mata. Jun hanya melihatnya dan bingung apa yang sebenarnya menimpa bu Dani tersebut, namun dia hanya terdiam karena dirinya juga sedang tertimpa musibah yang membuatnya kacau pagi ini.
“ eh kamu Jun, sudah sarapan ?” tanya bu dani sambil membalikan badannya dan mengusap air matanya .
Jun melihat jelas wajah seorang wanita paruh baya ini begitu pucat, kesedihan sangat nampak di mukanya. Ingin sekali dia bertanya memberikan perhatian kepada wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri namun dia urungkan karena rasa malunya.
“sudah bu tadi di buatkan Arin, ini roti yang akan saya antarkan hari ini ya bu” sambil mengangkat keranjang roti penuh itu.
“ iya jun, tolong ya antar ke warung bu santo dan kantin sekolahan kamu”. Kemudian Jun melangkah untuk pergi dengan hati yang masih kacau, kalau – kalau bu Dani menanyakan uang setoran kemaren sore. Diambilnya langkah keluar dengan sangat berat, tiba – tiba bu dani memanggilnya saat akan mencapai pintu keluar. Itu adalah hal yang sangat tidak dinginkannya saat itu.
“ Jun tunggu sebentar “ . hatinya serasa seperti ditembak meriam, keringat dinginnya keluar dan jantungnya berdebar dengan cepat. Di pikirannya apa yang harus dikatakanya kepada bu dani apa dia harus berbohong atau harus jujur.
“iiyyy yya bu , ke kenapa “, suaranya tersendat seperti ada sebuah pisau yang tertahan dimulutnya yang menghalanginya untuk berbicara.
“ ibu ingin cerita kepadamu apa kamu ada waktu sebentar”
“ ohh, iya bu jun siaap kok dengerin cerita ibu” hatinya sedikit mereda ternyata bu dani tidak menanyakan perihal uang setoran tersebut. Bu dani bercerita kepada jun kenapa dia menangis pagi ini.
“ jun maaf ya menggangu waktu kamu sebentar, ibu tidak tahu mau bercerita sama siapa selama ini kamu yang selalu mebantu ibu ‘.
“ iya bu gak papa, ini masih pagi kok apa yang hendak ibu ceritakan ?”
“ kamu tahu tahu kan alise anak ibu yang sedang sakit itu, ternyata menurut diagnosis dokter alise menderita penyakit Leukimia dan harus segera dirawat dirumah sakit untuk beberapa waktu, berita itu ibu terima kemaren sore sewaktu ibu kontrol ke dokter, dan pagi ini berita mengejutkan lainya terdengar seperti sebuah anak panah yang menghujam jantung ibu. Bu karto rentenir yang beberapa waktu lalu datang ke sini untuk menagih uang pinjaman beserta bunganya memberikan jangka 3 hari untuk melunasinya dan jika ibu tidak sanggup melunasinya maka rumah ini akan segera di lelang untuk menutup hutang – hutang ibu jun”. Ibu dani kembali menangis sesenggukan dan tidak menghiraukan kalau di depannya ada seorang anak lelaki yang sedang memperhatikannya dengan penuh iba.
Jun hanya menatap bu dani dengan berkaca – kaca sejuta perasaan campur aduk menjadi satu di dalam hatinya, jun sangat merasa bersalah telah melalaikan kepercayaan bu dani untuk menjaga uang setoran tersebut. “sabar ya bu”. Hanya kata itulah yang keluar dari mulut anak lelaki itu, dia sangat sadar kata – kata itu tidak dapat melunasi hutang – hutang bu dani kepada bu karto tetapi paling tidak mampu untuk sedikit mengurangi beban bu dani. Hampir 5 menit bu dani menangis sesenggukan di hadapan jun, tiba – tiba jun di kagetkan dengan teriakan anaknya bu dani yang memanggil ibunya karena kesakitan. Bu dani langsung beranjak dan meminta jun untuk segera mengantarkan rotinya “ maaf jun ganggu waktu kamu, sana langsung antarkan roti – rotinya ya hati – hati dijalan” beranjak bu dani sambil menyeka air matanya dan bergegas menemui anaknya.
Diatas motornya jun memikirkan apa yang terjadi bila bu dani terusir dari rumahnya, apakah bu dani berkenan bila harus tinggal dengannya. Jun mengendarai motornya dengan pelan dan pikiranya entah kemana. Jun menyelesaikan rotinya jam delapan, dilihatnya jam ditanganya jun hanya menghela nafas panjang dan memutarkan motornya kembali kerumah. Dia tahu betul sudah terlambat untuk ke sekolah dan pak askar satpam sekolahya tidak akan mengijinkannya masuk karena jun memang telah beberapa kali terlambat dan sudah sering mendapatkan peringatan.
Dalam perjalanannya pulang terlintas dihatinya untuk mencari kerja serabutan untuk mengganti uang setoran yang dihilangkannya, dengan menjadi kuli pasar atau pekerja bangunan barang sehari saja mungkin cukup untuk sedikit mengurangi bebanya, berbaliklah dia ke pasar. Sesampainya di parkiran pasar dia memakirkan motornya dan menemui kepala paguyuban kuli panggul pasar. Karena dirinya yang ramah dan sudah mengenal baik kepala kuli panggul tersebut, itu karena jun sering berbelanja kebutuhan roti dipasar.
Saat jun mulai membantu mengangkat belanjaan ibu – ibu, tiba – tiba jun di kagetkan dengan pemandangan yang benar – benar membuat hancur hatinya. Dilihatnya seorang perempuan masuk kedalam sebuah mobil sedan hitam dengan seorang lelaki paruh baya. Jun sangat jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa perempuan itu adalah seorang yang sangat dia kenali, dia sudah menghabiskan seluruh hidupnya untuk menjaga dan melindunginya. Perempuan itu adalah Arin adik perempuan Jun. Masih dengan keadaan sangat tidak percaya jun menaruh belanjaan ibu itu dan berusaha mengejar mobil sedan yang hendak jalan tersebut, di panggilnya nama adiknya sambil berlari menerobos kerumunan pasar.
“riiin , ariiiinnnnnn, karinaaaa.. “ pangggilnya keras – keras sehingga semua orang dipasar memperhatikannya. Arin seharusnya berada di sekolah pagi ini dan jun sendirilah yang mengantarkanya. Tetapi arin tidak masuk kesekolah dan malahan pergi untuk menemui seorang lelaki paruh baya yang sudah membuat janji dengan arin untuk jalan – jalan dengannya. Karina Putri Setyowati nama lengkap arin adik jun yang sangat dia sayangi ternyata diam – diam bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah tempat karaoke jumat, sabtu dan minggu. Arin bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke dengan maksud untuk membantu biaya sekolahya agar tidak begitu membebani kakaknya. Arin memang masih kelas tiga smp namun perawakan yang “bongsor” seolah – olah seperti seorang gadis sma. Arin berbohong kepada kakanya kalau dia bekerja sebagai pemandu lagu di tempat karaoke dengan alasan berlatih drama hingga malam tiba. jun sangat mempercayai arin sehingga jun tidak mencurigai sedikitpun apa yang adik perempuannya lakukan di belakangnya.
Sejak kejadian pagi itu arin tidak pulang selama dua hari, jun semakin gelisah dan berusaha untuk mencarinya. Jun sudah ke kantor polisi untuk melaporkan adiknya yang hilang namun belum menemukan hasil. Hari ketiga setelah kepergian Arin yang tak tahu kabarnya akhirnya Jun memutuskan tidak mengantarkan roti Bu Dani terlebih dahulu. Dia sibuk mencari Arin ada dimana, dia berjalan diatas jembatan, menyusuri trotoar kota  dan mengunjungi stasiun. Namun nihil yanng didapatkannya.
Jun merasa hidupnya tidaklah berarti, adiknya yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya sudah pergi meninggalkanya dirinya. Penyesalan hingap di hatinya, dia merasa benar – benar gagal menjalankan tanggung  jawab untuk menjaga adiknya. “ ayah, maafkan Jun”.  Dalam hatinya terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupnya karena Jun merasa tidak punya siapa – siapa lagi dan tidak berguna lagi. Tiba – tiba jun teringat akan ucapan ayahnya sewaktu malam itu, ayahnya mengingatkan padanya bahwa masih ada tuhan yang dimiliki oleh Jun. Seketika itupun jun beranjak dari lamunanya di atas jembatan tempat pelintasan kereta. Diambilnya tas kulit milikinya kemudian dia berjalan, dari kejauhan jun melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan kakak lelakinya dengan sangat gembira. Jun tersenyum dan teringat masa kecilnya saat bersama arin adiknya, masa kecil jun sangatlah membahagiakan.
“tettttettttettttt” sirine kereta api akan melalui tempat bermain anak itu, jun melihat kejadian itu langsung bergegas berlari sambil berteriak kepada anak itu untuk pergi menyingkir dari rel. Jun berlari sekuat tenaga untuk menggapai anak kecil yang masih asik bermain tidak sadar keretanya semakin dekat. “ Lariii, awas ada keretaaa” teriak jun. Saat yang menggentingkan tersebut ketika jun masih berlari dengan sekuat tenaga.....  jun terjatuuuh...
Kepalanya membentur pembatas rel, pandangan jun kabur. Pikiran jun melayang entah kemana, namun tujuan hanya satu menyelamatkan anak tersebut. Jun akhirnya bangkit dan berlari lagi sambil berteriak, dia sadar bahwa usahanya akan sia- sia kereta sudah semakin dekat. Tiba – tiba pandangan jun berubah saat bangkit dan melanjutkan larinya, anak kecil tersebut berubah seperti arin adik jun yang dicarinya selama ini, dalam hati jun bersyukur akhirnya bisa melihat arin. Maka bulat tekat jun untuk menyelamatkan anak trsebut. Jun masih berlari sambil berteriak.
Namun kali ini benar – benar Jun hanyalah manusia biasa, kereta telah melewati dirinya. Anak tersebut masih saja bermain dengan kakaknya. Terlihat dari kejauhan ada seorang lelaki berlari menjangkau kedua anak tersebut. akhirnya kedua anak tersebut selamat dari maut yang baru saja megancamnya. Jun melihat kejadian tersebut tersenyum dan ambruk seketika itu.
Dilihatnya langit yang kala itu meneteskan air hujan, seolah memahami hati jun kala itu. Langit ikut menangis bahagia karena kejadian yang baru saja terjadi. Jun pun tersenyum sambil memejamkan matanya dibawah rintik air hujan tersebut...................
Di sebuah kamar hotel sore itu tiba – tiba sebuah gelas terjatuh dari pegangan seorang perempuan berambut panjang yang baru saja mengambil minum, “praaaak”. “ ada apa arin, apa yang terjadi ?” .
“ tidak ada apa – apa Om, arin hanya tidak sengaja menjatuhkan gelasnya”. Dalam hati perempuan tersebut seperti ada sebuah hal yang sangat mengganggunya, dan seketika itu perempuan tersebut berucap dalam hatinya. “ maafkan arin ka, semoga kak jun sehat baik – baik saja arin sudah mengecewakan kakak, arin malu bertemu dengan kak Jun “.
Dipagi yang cerah dihalaman rumah bu Dani, melintas seorang tukang Koran yang selalu lewat di depan rumah bu Dani.
“ Korannn , koraaan”
“pak koran satu, ada berita apa pak hari ini ?” tanya Bu Dani kepada tukang koran tersebut.
“ini bu, kemarin seorang laki – laki SMA tewas di sebelah rel kereta”.
“ makasih ya pak,” di lihatnya gambar depan koran tersebut seorang laki – laki yang sangat mirip dengan Jun tergolek tak berdaya dengan kepala bersimbah darah menutupi mukanya. Bu Dani tidak yakin kalau itu adalah Jun. Bu Dani hanya menghela nafas panjang dan berdoa semoga anak lelaki itu bukanlah Jun, dan Juanaedi diberikan kesehatan dan keselamatan. Bu dani sangatlah merindukan Jun. 

No comments:

Post a Comment