Pagi ini rasa ngantuk
masih sangat menyelimuti diri junaidi, pukul tiga dia baru merebahkan badannya
dan pukul lima sudah harus bangun untuk mengantarkan roti Bu Dani ke warung – warung
langgananya. Biasanya Jun panggilan akrabnya menggunakan motor milik Bu Dani
untuk transportasinya. Setelah mengantarkan roti, jun harus berangkat
kesekolah, jun saat ini masih kelas tiga SMA yang sebentar lagi akan menempuh
Ujian Nasional.
Namun pagi ini terasa
berat baginya karena kemaren sore dia baru saja tertimpa musibah yang sangat
tak terduga olehnya, uang pelanggan roti Bu Dani yang bernama Bu Santo yang
dititipkan untuk disetorkan hilang dari tas yang dibawanya, dia tidak tahu
kenapa hal ini bisa terjadi. Dia memikirkan hal itu sampai – sampai membuatnya
terjaga semalaman dan baru terlelap saat subuh hampir datang. Uang itu adalah
setoran yang seharusnya diberikan ke Bu Dani saat sore itu juga namun Jun ada
keperluan terlebih dahulu yang menyebabkan dirinya menundanya. Ya junaidi harus
mengantarkan adiknya mengikuti latihan drama di sekolah smp nya.
“ pagi mas “, sapa Arin
adikJunaidi. Arin adalah adik perempuan satu – satunya yang sangat Junaidi
sayangi. Sapaan Arin mengagetkan kakaknya yang sedang melamun sembari memanasi
motornya.
“ eh de, bikin kaget
mas aja” sapa Junaidi sambil tersenyum menyembunyikan perasaan yang gundah
gulana dan memberikan senyum terbaiknya untuk adik kesayangannya itu.
“Arin buatin teh anget
buat mas, mas semalem Arin bangun dan ga sengaja melihat kamar mas Jun masih
menyala, mas lagi ngerjain sesuatu atau mas lupa mematikan lampu kamar.”
“oh iya, mas lupa
mematikannya semalem mas pulang langsung tidur udah sana kamu siap – siap untuk
berangkat ke sekolah nanti mas anter sambil mas ambil roti nya Bu Dani”.
“ baik mas ku yang
ganteng Arin siap siap dulu ya, itu teh nya di minum ya mas”
“iya” jawab junaidi
datar. Dalam langkah Arin yang meninggalkan kakanya terbayang betapa tanggung
jawab dipundaknya untuk menjaga dan memberikan kebahagiaan kepada adiknya.
Dipandanginya langkah kaki adiknya tak terasa junaidi membayangkan masa lalu
nya ketika dia dan adiknya ditinggalkan oleh bapaknya di rumah berdua dulu.
Bapaknya bukanlah orang jahat yang tega meninggalkan anak – anaknya namun
bapaknya difitnah oleh temannya sehingga harus berurusan dengan polisi.
Bapaknya di fitnah telah melakukan penganiayaan kepada seorang rekannya hingga
tewas, setelah setahun dipenjara kabar buruk datang kepada Junaidi kalau
bapaknya sudah tewas di penjara. Belum pasti penyebab kematiaanya. Sepeninggalan
bapak, Jun hanya hidup berdua dengan adiknya. Syukurlah mereka masih mempunyai
rumah peninggalan bapaknya dulu. Dan rumah ini menjadi satu – satunya harta
yang dimiliki oleh jun dan Arin. Kata – kata bapaknya masih sangat jelas di
pikirannya saat malam sebelum beliau digelandang ke kantor polisi. Bapaknya
berkata “ Jun nanti kalau kamu merasa sendiri, tidak punya siapa – siapa
ingatlah Jun kamu masih punya tuhan yang akan menunjukan jalan di setiap
masalah yang kamu hadapi .” itulah kata terakhir yang diucapkan ayahnya karena
sejak saat ayahnya ditahan dia tidak diperkenankan untuk menjenguk ayahnya, dia
sendiri heran akan hal itu.
Pagi ini ini begitu
cerah namun tidak dengan hati Jun, setelah mengantarkan Arin ke sekolah dia
mengarahkan motornya ke rumah Bu Dani untuk mengambil roti lalu diantarkannya
sebelum dia berangkat ke sekolah. Berat sekali hatinya, kacau ketika memikirkan
bagaimana perasaan Bu Dani mendengar hal itu. Bu Dani adalah pengusaha roti
kecil – kecilan yang hidupnya sendiri sebenarnya hanya pas untuk menghidupi
anak – anaknya. Bu dani adalah janda yang ditinggal mati oleh suaminya saat
suaminya bertugas ke daerah konflik. Namun, Bu Dani bagaikan malaikat untuk Jun
beliau yang memberinya pekerjaan untuk uang hidup Jun dan adiknya. Bu dani
bahkan tidak segan – segan untuk memberikan bantuannya bila Jun memintanya.
Namun dua bulan terakhir ini Jun lah yang sering membantu Bu Dani sampai sore
karena anak kedua Bu Dani terkena penyakit yang mengharuskanya istirahat total
untuk waktu yang tidak diketahui.
Sampailah jun di
halaman Bu Dani, diparkirkanya sepeda motor itu dan menaruh helmnya di spion
laluvmelangkah ke belakang untuk mengambil roti yang sudah disiapkan bu Dani.
Tiba – tiba jun tidak sengaja mendengar percakapan bu dani lewat telepon, Jun
tidak tahu telepon dari siapa. Dia hanya mendengar bahwa bu Dani di beri waktu
tiga hari, setelah kata itu telepon ditutup dan bu Dani meneteskan air mata. Jun
hanya melihatnya dan bingung apa yang sebenarnya menimpa bu Dani tersebut, namun
dia hanya terdiam karena dirinya juga sedang tertimpa musibah yang membuatnya
kacau pagi ini.
“ eh kamu Jun, sudah
sarapan ?” tanya bu dani sambil membalikan badannya dan mengusap air matanya .
Jun melihat jelas wajah
seorang wanita paruh baya ini begitu pucat, kesedihan sangat nampak di mukanya.
Ingin sekali dia bertanya memberikan perhatian kepada wanita yang sudah
dianggapnya sebagai ibu sendiri namun dia urungkan karena rasa malunya.
“sudah bu tadi di buatkan
Arin, ini roti yang akan saya antarkan hari ini ya bu” sambil mengangkat
keranjang roti penuh itu.
“ iya jun, tolong ya
antar ke warung bu santo dan kantin sekolahan kamu”. Kemudian Jun melangkah
untuk pergi dengan hati yang masih kacau, kalau – kalau bu Dani menanyakan uang
setoran kemaren sore. Diambilnya langkah keluar dengan sangat berat, tiba –
tiba bu dani memanggilnya saat akan mencapai pintu keluar. Itu adalah hal yang
sangat tidak dinginkannya saat itu.
“ Jun tunggu sebentar “
. hatinya serasa seperti ditembak meriam, keringat dinginnya keluar dan
jantungnya berdebar dengan cepat. Di pikirannya apa yang harus dikatakanya
kepada bu dani apa dia harus berbohong atau harus jujur.
“iiyyy yya bu , ke
kenapa “, suaranya tersendat seperti ada sebuah pisau yang tertahan dimulutnya
yang menghalanginya untuk berbicara.
“ ibu ingin cerita
kepadamu apa kamu ada waktu sebentar”
“ ohh, iya bu jun siaap
kok dengerin cerita ibu” hatinya sedikit mereda ternyata bu dani tidak
menanyakan perihal uang setoran tersebut. Bu dani bercerita kepada jun kenapa dia
menangis pagi ini.
“ jun maaf ya menggangu
waktu kamu sebentar, ibu tidak tahu mau bercerita sama siapa selama ini kamu
yang selalu mebantu ibu ‘.
“ iya bu gak papa, ini
masih pagi kok apa yang hendak ibu ceritakan ?”
“ kamu tahu tahu kan
alise anak ibu yang sedang sakit itu, ternyata menurut diagnosis dokter alise menderita
penyakit Leukimia dan harus segera dirawat dirumah sakit untuk beberapa waktu,
berita itu ibu terima kemaren sore sewaktu ibu kontrol ke dokter, dan pagi ini
berita mengejutkan lainya terdengar seperti sebuah anak panah yang menghujam
jantung ibu. Bu karto rentenir yang beberapa waktu lalu datang ke sini untuk menagih
uang pinjaman beserta bunganya memberikan jangka 3 hari untuk melunasinya dan
jika ibu tidak sanggup melunasinya maka rumah ini akan segera di lelang untuk
menutup hutang – hutang ibu jun”. Ibu dani kembali menangis sesenggukan dan
tidak menghiraukan kalau di depannya ada seorang anak lelaki yang sedang
memperhatikannya dengan penuh iba.
Jun hanya menatap bu
dani dengan berkaca – kaca sejuta perasaan campur aduk menjadi satu di dalam
hatinya, jun sangat merasa bersalah telah melalaikan kepercayaan bu dani untuk
menjaga uang setoran tersebut. “sabar ya bu”. Hanya kata itulah yang keluar
dari mulut anak lelaki itu, dia sangat sadar kata – kata itu tidak dapat
melunasi hutang – hutang bu dani kepada bu karto tetapi paling tidak mampu
untuk sedikit mengurangi beban bu dani. Hampir 5 menit bu dani menangis
sesenggukan di hadapan jun, tiba – tiba jun di kagetkan dengan teriakan anaknya
bu dani yang memanggil ibunya karena kesakitan. Bu dani langsung beranjak dan
meminta jun untuk segera mengantarkan rotinya “ maaf jun ganggu waktu kamu,
sana langsung antarkan roti – rotinya ya hati – hati dijalan” beranjak bu dani
sambil menyeka air matanya dan bergegas menemui anaknya.
Diatas motornya jun
memikirkan apa yang terjadi bila bu dani terusir dari rumahnya, apakah bu dani
berkenan bila harus tinggal dengannya. Jun mengendarai motornya dengan pelan
dan pikiranya entah kemana. Jun menyelesaikan rotinya jam delapan, dilihatnya
jam ditanganya jun hanya menghela nafas panjang dan memutarkan motornya kembali
kerumah. Dia tahu betul sudah terlambat untuk ke sekolah dan pak askar satpam
sekolahya tidak akan mengijinkannya masuk karena jun memang telah beberapa kali
terlambat dan sudah sering mendapatkan peringatan.
Dalam perjalanannya
pulang terlintas dihatinya untuk mencari kerja serabutan untuk mengganti uang
setoran yang dihilangkannya, dengan menjadi kuli pasar atau pekerja bangunan
barang sehari saja mungkin cukup untuk sedikit mengurangi bebanya, berbaliklah
dia ke pasar. Sesampainya di parkiran pasar dia memakirkan motornya dan menemui
kepala paguyuban kuli panggul pasar. Karena dirinya yang ramah dan sudah
mengenal baik kepala kuli panggul tersebut, itu karena jun sering berbelanja
kebutuhan roti dipasar.
Saat jun mulai membantu
mengangkat belanjaan ibu – ibu, tiba – tiba jun di kagetkan dengan pemandangan
yang benar – benar membuat hancur hatinya. Dilihatnya seorang perempuan masuk
kedalam sebuah mobil sedan hitam dengan seorang lelaki paruh baya. Jun sangat
jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa perempuan itu adalah seorang
yang sangat dia kenali, dia sudah menghabiskan seluruh hidupnya untuk menjaga
dan melindunginya. Perempuan itu adalah Arin adik perempuan Jun. Masih dengan
keadaan sangat tidak percaya jun menaruh belanjaan ibu itu dan berusaha
mengejar mobil sedan yang hendak jalan tersebut, di panggilnya nama adiknya
sambil berlari menerobos kerumunan pasar.
“riiin , ariiiinnnnnn,
karinaaaa.. “ pangggilnya keras – keras sehingga semua orang dipasar
memperhatikannya. Arin seharusnya berada di sekolah pagi ini dan jun sendirilah
yang mengantarkanya. Tetapi arin tidak masuk kesekolah dan malahan pergi untuk
menemui seorang lelaki paruh baya yang sudah membuat janji dengan arin untuk
jalan – jalan dengannya. Karina Putri Setyowati nama lengkap arin adik jun yang
sangat dia sayangi ternyata diam – diam bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah
tempat karaoke jumat, sabtu dan minggu. Arin bekerja sebagai pemandu lagu di
sebuah karaoke dengan maksud untuk membantu biaya sekolahya agar tidak begitu
membebani kakaknya. Arin memang masih kelas tiga smp namun perawakan yang
“bongsor” seolah – olah seperti seorang gadis sma. Arin berbohong kepada
kakanya kalau dia bekerja sebagai pemandu lagu di tempat karaoke dengan alasan
berlatih drama hingga malam tiba. jun sangat mempercayai arin sehingga jun
tidak mencurigai sedikitpun apa yang adik perempuannya lakukan di belakangnya.
Sejak kejadian pagi itu
arin tidak pulang selama dua hari, jun semakin gelisah dan berusaha untuk
mencarinya. Jun sudah ke kantor polisi untuk melaporkan adiknya yang hilang
namun belum menemukan hasil. Hari ketiga setelah kepergian Arin yang tak tahu
kabarnya akhirnya Jun memutuskan tidak mengantarkan roti Bu Dani terlebih
dahulu. Dia sibuk mencari Arin ada dimana, dia berjalan diatas jembatan,
menyusuri trotoar kota dan mengunjungi
stasiun. Namun nihil yanng didapatkannya.
Jun merasa hidupnya
tidaklah berarti, adiknya yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya sudah
pergi meninggalkanya dirinya. Penyesalan hingap di hatinya, dia merasa benar –
benar gagal menjalankan tanggung jawab
untuk menjaga adiknya. “ ayah, maafkan Jun”.
Dalam hatinya terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupnya karena Jun
merasa tidak punya siapa – siapa lagi dan tidak berguna lagi. Tiba – tiba jun
teringat akan ucapan ayahnya sewaktu malam itu, ayahnya mengingatkan padanya
bahwa masih ada tuhan yang dimiliki oleh Jun. Seketika itupun jun beranjak dari
lamunanya di atas jembatan tempat pelintasan kereta. Diambilnya tas kulit
milikinya kemudian dia berjalan, dari kejauhan jun melihat seorang anak kecil
sedang bermain dengan kakak lelakinya dengan sangat gembira. Jun tersenyum dan
teringat masa kecilnya saat bersama arin adiknya, masa kecil jun sangatlah
membahagiakan.
“tettttettttettttt”
sirine kereta api akan melalui tempat bermain anak itu, jun melihat kejadian
itu langsung bergegas berlari sambil berteriak kepada anak itu untuk pergi
menyingkir dari rel. Jun berlari sekuat tenaga untuk menggapai anak kecil yang
masih asik bermain tidak sadar keretanya semakin dekat. “ Lariii, awas ada
keretaaa” teriak jun. Saat yang menggentingkan tersebut ketika jun masih berlari
dengan sekuat tenaga..... jun
terjatuuuh...
Kepalanya membentur
pembatas rel, pandangan jun kabur. Pikiran jun melayang entah kemana, namun
tujuan hanya satu menyelamatkan anak tersebut. Jun akhirnya bangkit dan berlari
lagi sambil berteriak, dia sadar bahwa usahanya akan sia- sia kereta sudah
semakin dekat. Tiba – tiba pandangan jun berubah saat bangkit dan melanjutkan
larinya, anak kecil tersebut berubah seperti arin adik jun yang dicarinya
selama ini, dalam hati jun bersyukur akhirnya bisa melihat arin. Maka bulat
tekat jun untuk menyelamatkan anak trsebut. Jun masih berlari sambil berteriak.
Namun kali ini benar –
benar Jun hanyalah manusia biasa, kereta telah melewati dirinya. Anak tersebut
masih saja bermain dengan kakaknya. Terlihat dari kejauhan ada seorang lelaki
berlari menjangkau kedua anak tersebut. akhirnya kedua anak tersebut selamat
dari maut yang baru saja megancamnya. Jun melihat kejadian tersebut tersenyum
dan ambruk seketika itu.
Dilihatnya langit yang
kala itu meneteskan air hujan, seolah memahami hati jun kala itu. Langit ikut
menangis bahagia karena kejadian yang baru saja terjadi. Jun pun tersenyum sambil
memejamkan matanya dibawah rintik air hujan tersebut...................
Di sebuah kamar hotel
sore itu tiba – tiba sebuah gelas terjatuh dari pegangan seorang perempuan
berambut panjang yang baru saja mengambil minum, “praaaak”. “ ada apa arin, apa
yang terjadi ?” .
“ tidak ada apa – apa
Om, arin hanya tidak sengaja menjatuhkan gelasnya”. Dalam hati perempuan
tersebut seperti ada sebuah hal yang sangat mengganggunya, dan seketika itu
perempuan tersebut berucap dalam hatinya. “ maafkan arin ka, semoga kak jun
sehat baik – baik saja arin sudah mengecewakan kakak, arin malu bertemu dengan
kak Jun “.
Dipagi yang cerah
dihalaman rumah bu Dani, melintas seorang tukang Koran yang selalu lewat di
depan rumah bu Dani.
“ Korannn , koraaan”
“pak koran satu, ada
berita apa pak hari ini ?” tanya Bu Dani kepada tukang koran tersebut.
“ini bu, kemarin seorang
laki – laki SMA tewas di sebelah rel kereta”.
“ makasih ya pak,” di
lihatnya gambar depan koran tersebut seorang laki – laki yang sangat mirip
dengan Jun tergolek tak berdaya dengan kepala bersimbah darah menutupi mukanya.
Bu Dani tidak yakin kalau itu adalah Jun. Bu Dani hanya menghela nafas panjang
dan berdoa semoga anak lelaki itu bukanlah Jun, dan Juanaedi diberikan
kesehatan dan keselamatan. Bu dani sangatlah merindukan Jun.
No comments:
Post a Comment