Indah larik pelangi seusai hujan
membuka hari, samar di rajut mega garis wajahmu lembut tercipta.
Telah jauh ku tempuh perjalanan,
bawa sebentuk cinta menjemput impian.
Desau rindu meresap, kenangan haru
ku dekap. Semakin dekat tuntaskan penantian kekasih aku pulang, menjemput
impian.
Entah
alasan apa yang aku pikirkan untuk kembali menuliskan lirik lagu itu, terasa
banyak sekali kenangan di dalamnya. Kalau saja lengkap kau mendengarkannya,
isinya tak jauh dari rasa rindu seorang pada kekasihnya, perjuangan untuk
bertemu lagi nanti dan kembali merajut mimpi – mimpi. Terdengar begitu manis
bukan? mungkin dulu aku pernah merasakannya, sangat , sangat pernah. Belum
hilang ingatan 3 tahun kebelakang, saat indahnya sore dan langit sangat
berwarna kala itu.
Masa
taman kanak – kanak baru saja berakhir, masa yang penuh dengan nyanyian dan
becandaan. Sosokmu begitu mencolok diantara yang lain. Saat itu aku tak paham
dengan apa yang terjadi, yang aku tahu. Kau begitu istimewa. Entah dasar apa
aku menyimpulkannya begitu. Mungkin memang tak perlu banyak alasan.
Setelah
itu kita berpisah, dunia kita berbeda.
Sekolah Dasar di tempat yang berbeda membuat pikiran tentangmu banyak di
tumpuk hal lain. Teman – temanku berbeda, aku sangat menikmatinya. Hilang
ingatanku tentangmu, atau mungkin tidak sepenuhnya hilang hanya tersimpan dan
mungkin nanti akan kembali di putar pada waktu yang lain.
Hari
kelulusan Sekolah Dasar tiba, yang aku ingat bebarengan dengan hajatan di
rumahku, ya aku akhirnya sunat. Kata
orang aku masuk remaja awal, dan aku akhirnya masuk Sekolah Menengah Pertama.
Sempat tersentak kala itu, saat ku lihat kembali dirimu. Kau masih mempesona,
aku yakin kali ini. Tapi kesempatan memang tak banyak berpihak padaku. Mungkin
juga denganmu. Aku tak begitu mengenalmu, kau banyak tawa, canda dan riang
dengan duniamu disana. Dengan teman – teman yang aku tak kenal walaupun
sebenarnya kelas kita bersebelahan. Aku masih bisa menikmati pemandangan indah
karya tuhan darimu walau harus dengan jarak yang berjauhan.
Aku
mencoba kembali menikmati duniaku, belajar sebanyak mungkin dari pengalaman. Ku
kenal banyak teman, tapi tetap saja aku tak bisa mengenalmu. Apakah ada batasan
aku dan kamu. Semacam garis khayal yang membelenggu atau tembok kosmik yang tak
tahu dimana di bangun kalau saja aku tahu akan ku langkahi garis itu dan ku
robohkan dinding sialan itu. Aku hanya bisa melihat dan mendengar tentangmu
dari beberapa teman. Dan akhirnya kau kembali hilang.
Sekolah
Menengah Atas, banyak hal yang tak bisa aku tuliskan pada selembar kertas.
Perlu berlembar - lembar kertas dan banyak botol tinta, serta kebulatan hati
yang kuat untuk mulai menuliskannya. Di masa itu aku mulai bersahabat, aku
mulai menikmati dunia. Tapi bukan itu alasanku menulis kali ini, alasanku
adalah kau yang jauh di sana dan semoga bertemu kemudian tersenyum mempesona.
***
Jika
Tuhan punya banyak babak dalam merancang kehidupan, dan kita sadar akan pola
itu pasti kita akan tahu kelanjutanya. Tapi apalah daya, kita sangat kecil di
hadapaNya. Kita tak pernah tahu akan rencananya, hanya yakin Dialah seorang
sutradara dengan skenario yang paling indah. Aku masih mempercayai itu sebagai
sebuah anugrah.
Entah
aku sekarang ada di babak mana dalam kehidupan, jujur saja aku tak begitu paham
hanya sesekali memikiran. Dan setelah selesai dengan Sekolah Menangah Atas aku
kembali di beri kesempatan.
Kau
mungkin tak percaya, aku rasa juga sangat aneh rasanya. Aku telah tumbuh
dewasa, aku mulai bisa memahami alasan kenapa aku tersenyum saat melihat kau
kembali. kali ini tak akan ku sia – siakan kesempatan itu.
Dengan
sedikit keberanian yang ada dalam diriku, aku beranikan untuk menyapa duniamu.
Ku tawarkan cerita yang panjang dan ada kamu dalam cerita itu. Entah rencana
Tuhan yang mana lagi, kau pun mau menulis kisah kita bersama. Ya kau pasti bisa
menduganya aku akhirnya bersama, tapi ini bukan akhir dari cerita. Ini masih
berlanjut.
Hari
– hari selanjutnya begitu indah dan berwarna. Seorang pujangga yang bijak akan
menyebut inilah cinta. Aku menuliskan cinta. Aku sadar. Kau juga membacanya.
Aku mulai saja.
***
Langit
sore yang indah seperti biasa, merah padam cenderung berwana jingga tanda hari
akan segera usai, mata – mata liar mulai terpana. Dunia ku sekarang berbeda,
banyak hal yang terjadi. Kini orang yang aku bayangkan semenjak taman kanak –
kanak ada di pelukanku. Bersender nyaman, dan bercerita hal – hal lucu sesekali
mengusap raut yang indah dengan senyum teramat manis.
Pertemuan
yang singkat namun bisa membuat kita akrab, sangat akrab. Aku sayang dia.
Suatu
hari ku ajak kau melihat pemadangan indah di belahan yang lain, ya mungkin
hanya air curug. Udara disana sangat sejuk, aku benar – benar telah hilang
kendali akan perasaan ini. Aku merasa menjadi seorang lelaki paling bahagia.
Begitu nyaman bercerita, hingga hal yang tak pernah aku ceritakan ke orang lain
akhirnya aku percayakan padamu. Aku masih mengingatnya, pertama kalinya dalam
hidupku meneteskan air mata di hadapan seorang wanita, aku benar – benar
percaya kau bisa menjaganya. Kau boleh tertawa tapi ini benar nyata tak hanya
sekedar kata yang biasa. Aku tak bisa melupakannya.
Dalam
mabuk asmara yang menjadi tak sengaja aku berjanji, nanti kala kita di
takdirkan bersama akan ku bangunkan istana indah untukmu di sini. Ini hal yang
tak mungkin bisa terjadi, tapi bisa terucap mudah kala kita sedang jatuh cinta.
Aku juga berjanji memberimu kenyamanan berkendara dengan sebuah mobil putih dan
bersinar, walaupun aku mulai dengan kata “nanti”.
Aku
tak menyangka kau mengingatnya, dan kalau kau percaya aku juga mengingatnya dan
menuliskannya.
Tahun
banyak berlalu dengan kehadiranmu, bosan jelas ada tapi kita punya cara tersendiri
untuk menepiskannya. Kau sering bertanya padaku “kalau kau bosan bilang ya”.
Sampai detik ini aku tak pernah mengucap kata itu, bosan terlalu kejam untuk
mengakhiri hubungan yang sangat aku impikan.
Pernah
suatu malam yang sepi di sebuah taman, aku duduk berdua denganmu dalam diam.
Kita masing – masing tak tahu bagaimana memulainya, kau bersender di pundaku.
Aku telah akrab akan hal itu. Lalu kau pun mulai bercerita tentang impianmu,
cita – cita yang selama ini ada dalam benakmu.
Kau
utarakan keinginanmu, tentang kehidupan perkuliahan. Kau di tawari sebuah
kesempatan untuk itu. Walapun nanti akan meninggalkanku di pulau seberang
menemui kakakmu disana. Aku terharu, benar – benar terharu akan impianmu.
Perjuangan panjang telah kau lalui, keringat yang entah berapa banyak kau
tumpahkan untuk hal itu. Dan kata yang masih kuingat “kau jangan tinggalkan
aku, mau kah berkomitmen untuk bersama walau tempat kita berbeda”.
Andai
kau tahu bagaimana hatiku kala itu, kaupun akan sadar kalau aku benar – benar
bahagia. Bukan karena kau akan pergi tapi karena keseriusan yang siratkan. Aku
bergetar tak banyak berkata. Kau sepenuhnya sadar kondisiku, terbesit di
pikranku untuk segera menyelesaikan studiku dan menyusulmu kesana. Aku mulai
membayangkan kehidupan indah kita nanti. Aku juga harus berjuang, jika cinta
adalah memberi kali ini saatnya kita saling memberi kepercayaan dan pengertian.
Namun
akhirnya kesempatan itu hanya lewat, karena alasan yang tak terduga kaupun
harus merelakannya. Aku merasakan kesedihanmu, ingin kutawarkan kesempatan lain
tapi aku belum mampu untuk itu. Kau pun sebenarnya tak menuntutku untuk
melakukannya, aku hanya bisa duduk disampingmu, mendengarkanmu dan memberi
kenyamanan layaknya sahabat untuk bercerita.
Sekali
lagi aku di buat kagum akan dirimu, kau begitu tangguh. Di tempat yang sama
namun waktu yang berbeda, kau kembali bercerita. Kali ini tentang keluargamu,
kita memang tak bisa memilih di lahirkan di keluarga seperti apa, tapi satu hal yang pasti keluarga menjadi
alasan bahagia nantinya. Alasanmu berjuang selama ini adalah kebahagiaan
keluarga, kau ingin membahagiakan ibumu. Hingga aku berikan sebuah nasihat yang
aku kutip entah darimana dan aku coba berikan kepadamu.
Nasihat
itu kira – kira seperti ini, “kebahagiaan bukanlah di berikan tapi di
tularkan”. Aku mulai menjelaskan maksudnya. Selama ini kau berniat
membahagiakan ibumu, tapi kau lupa kebahagiaan terbesar ibu adalah melihat
anaknya bahagia. Bagaimana ibu bisa bahagia bila ia harus melihat anaknya menderita
karenanya. Kau pun hanya terisak, membenamkan kepalamu di dadaku. Aku tahu aku
bukan siapa – siapa dalam keluargamu tak seharusnya aku mencampuri tapi aku
disini sebagai sahabat yang akan mendukung atas keputusanmu. Aku tak tahu
apakah aku benar kala itu, dan waktu akan membuktikannya.
Saat
isakmu mulai reda, belaian yang terhenti kaupun bangun dan menatapku dengan
senyum. Aku balas dengan senyum sebisaku. Walau masih jelas matamu masih
berkaca, tapi aku bisa melihat bebanmu sedikit telah hilang. Kau mengabari hal
lain, akhirnya kau telah mendaftar untuk ikut tes Perguruan Tinggi Negeri, aku
tak menyangka kau belum menghapus dan menyerah akan mimpimu. Saat itu aku benar
– benar yakin kalau kau memang wanita yang aku impikan, bukan hanya keindahan
paras namun semangat mencapai impian dan cita – cita yang di idamkan, kau
pekerja keras, aku bangga memilikimu.
Tapi
kau utarakan keraguan dalam hatimu, dengan penuh semangat aku coba yakinkan
kalau keputusanmu itu yang terbaik. Aku selalu mendukung keputusanmu, kau juga
begitu terhadapku. Kalau menurutku itu keliru aku coba luruskan namun aku tetap
mendukungmu jika kau bersikeras. Kali ini kau benar, keputusan yang kau buat
baik untukmu dan semuanya, aku harus mendukungmu. Aku ikhlas dengan kata – kata
itu. Malam itu di tutup dengan pelukan dan ciuman kebahagiaan.
****
Hari
berjalan biasa, sapaan tiap pagi yang membuat semangat jalani hari selalu aku dapatkan
darimu, malam sebelum tidur oun kau tak lupa untuk saling mendoakan agar esok
berjalan lebih baik. Semua berjalan seperti biasa, aku semakin mantap denganmu
untuk menjadi pendampingku.
Hingga
suatu malam yang tak pernah aku bayangkan, malam yang sangat aku takutkan dan
ingin rasanya aku lupakan.
Kau
Memutuskannya ......
Aku
tak benar – benar paham alasan yang kau utarakan, sungguh sakit rasanya saat
kau ucapkan aku sudah tak sayang, tak perduli dan perhatian. Hey kemana kau ...
semua yang kau ucapakan begitu bertolak belakang. Aku masih seperti dulu, aku
masih membayangkan wajahmu, mencoba hadirkan senyumu dalam lamunanku dan masih
kupandangi potret mu kala malam datang membelenggu.
Dingin
malam kala itu terasa sangat menusuk, saat kata demi kata kau ucapakan yang semuanya
intinya adalah perpisahan. Aku tak sadar akan kesalahanku, kau tak mengingatkan
atau kau telah mengingatkan tapi aku menghiraukannya. Ingin menangis sejadi –
jadinya, ingin segera ku temui dirimu, dan ingin rasanya bangun dari mimpi
buruk ini.
Kau
benar, aku tak sedang mimpi. Kau masih bisa merasakannya. Kau bilang aku telah
menyakitimu, maafkan aku tapi karena apa aku menyakitimu. Aku masih tak sadar
atas perbuatanku yang mana, hingga kau ucapkan kata itu.
Harapan,
impian dan cita – cita yang selama ini ada dalam benak tiba – tiba melayang,
terbang dan tumpah berhamburan berserakan. Kita dulu punya mimpi bersama, dan
akhirnya kita berpisah. Aku tak menerimanya. Aku tak bisa berkata – kata kala
itu.
Ku
jalani hari dengan kegalauan, terlalu tua untuk merasakan penyakit anak muda.
Tentang patah hati. Mungkin terlalu berlebihan.
Malam
– malam selanjutnya rasanya lebih panjang dari biasanya...
Masih
tak percaya...
*****
Hingga
aku termenung, mencoba menguraikan masalah apa sebenarnya. Aku sungguh tak mau
berprasangka buruk akan dirimu. Tak terbesit sedikitpun pikiran akan hadirnya
orang lain dalam dirimu, aku sangat mengenalmu kali ini. Mungkin ada alasan
lain yang membuat kau akhirnya membuat keputusan berat.
Kabar
terdengar di telingaku, kau akhirnya berhasil masuk Perguruan Tinggi. Ingin
rasanya aku memeluk dan mengucapkan selamat atas keberhasilanmu. Kuajak kau
menari lalu perayaan sederhana untukmu. Tapi urung ku lakukan karena keadaan
yang tak menguntungkan.
Akhirnya
setelah lama aku coba pikirkan, kehidupan manusia pasti berputar. Semua orang
pasti berubah, aku telah berubah kaupun demikian. Dengan berat hati aku anggap
semua ini adalah “pelajaran” yang Men”Dewasa”kan. Kau ada di duniamu lagi, dan
aku ada diduniaku lagi. Perpisahan kali ini menjadi nyata di hadapanku. Apakah
pola yang lalu masih berlanjut, dan apakah ini akhir? Aku tak berani
menduganya.
Malam
ini, aku tuliskan semua yang ada dalam hatiku.
Hari
ini adalah hari ulang tahunmu, aku tak bisa memberikan kado – kado lucu atau
ucapan mesra layaknya pujangga, bahkan hal konyol yang sering di lakukan anak
remaja. Doa aku panjatkan untukmu, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.
Terlalu munafik bagiku untuk mendoakan agar kau mendapat lelaki lain, aku tak
sekuat itu untuk mengatakannya. Yang aku sadar semua manusia pasti mencari
kebahagiaan, begitu juga dirimu. Aku akan menyalahkan diriku kalau kau tetap
bersamaku namun kau tak bahagia. Happy birthday ya....
Maybe I could no longer feel the
scent of twilight, but hopefully I can enjoy the warmth of the sun again.
Do
you remember this?
Sewaktu itu
Saat itu ketika sebuah senyum ada
di hadapanku
banyak rasa yang tercipta dengan
seksama
ketenangan jiwa hadir tanpa
disengaja karena hangatnya pangadangan raut wajahmu
mungkin ku telah terpesona karena
itu?
ku telah rela heningku tercipta
untuk itu, untuk mengingatmu
bukan sekedar bintang yang bersinar
ditangah malam tetapi sang surya yang membangunkanku di pagi ini
sekarang setelah senyumu tak
menyapaku
bukan ku kehilangan, hanya sekedar
mengenang raut wajah yang membuat irama dalam setiap senandung kehidupanku
Purwokerto, 23 Desember 2015, 00.40
kamar saja.
No comments:
Post a Comment