Tuesday, 22 December 2015

Untuk Visinia Angan dan Harapan

Indah larik pelangi seusai hujan membuka hari, samar di rajut mega garis wajahmu lembut tercipta.
Telah jauh ku tempuh perjalanan, bawa sebentuk cinta menjemput impian.
Desau rindu meresap, kenangan haru ku dekap. Semakin dekat tuntaskan penantian kekasih aku pulang, menjemput impian.
Entah alasan apa yang aku pikirkan untuk kembali menuliskan lirik lagu itu, terasa banyak sekali kenangan di dalamnya. Kalau saja lengkap kau mendengarkannya, isinya tak jauh dari rasa rindu seorang pada kekasihnya, perjuangan untuk bertemu lagi nanti dan kembali merajut mimpi – mimpi. Terdengar begitu manis bukan? mungkin dulu aku pernah merasakannya, sangat , sangat pernah. Belum hilang ingatan 3 tahun kebelakang, saat indahnya sore dan langit sangat berwarna kala itu.
Masa taman kanak – kanak baru saja berakhir, masa yang penuh dengan nyanyian dan becandaan. Sosokmu begitu mencolok diantara yang lain. Saat itu aku tak paham dengan apa yang terjadi, yang aku tahu. Kau begitu istimewa. Entah dasar apa aku menyimpulkannya begitu. Mungkin memang tak perlu banyak alasan.
Anak – anak kala itu juga pasti setuju denganku, kau bisa di bilang primadona bagi kami. Pikiran apa ini, kita masih kanak – kanak. Umur kita juga belum genap 5 tahun, aku saja mungkin saat itu pipis belum bisa lurus, ah sudahlah namanya juga anak – anak. Pikiran apapun tak akan menjadi soal.
Setelah itu kita berpisah, dunia kita berbeda.  Sekolah Dasar di tempat yang berbeda membuat pikiran tentangmu banyak di tumpuk hal lain. Teman – temanku berbeda, aku sangat menikmatinya. Hilang ingatanku tentangmu, atau mungkin tidak sepenuhnya hilang hanya tersimpan dan mungkin nanti akan kembali di putar pada waktu yang lain.
Hari kelulusan Sekolah Dasar tiba, yang aku ingat bebarengan dengan hajatan di rumahku, ya  aku akhirnya sunat. Kata orang aku masuk remaja awal, dan aku akhirnya masuk Sekolah Menengah Pertama. Sempat tersentak kala itu, saat ku lihat kembali dirimu. Kau masih mempesona, aku yakin kali ini. Tapi kesempatan memang tak banyak berpihak padaku. Mungkin juga denganmu. Aku tak begitu mengenalmu, kau banyak tawa, canda dan riang dengan duniamu disana. Dengan teman – teman yang aku tak kenal walaupun sebenarnya kelas kita bersebelahan. Aku masih bisa menikmati pemandangan indah karya tuhan darimu walau harus dengan jarak yang berjauhan.
Aku mencoba kembali menikmati duniaku, belajar sebanyak mungkin dari pengalaman. Ku kenal banyak teman, tapi tetap saja aku tak bisa mengenalmu. Apakah ada batasan aku dan kamu. Semacam garis khayal yang membelenggu atau tembok kosmik yang tak tahu dimana di bangun kalau saja aku tahu akan ku langkahi garis itu dan ku robohkan dinding sialan itu. Aku hanya bisa melihat dan mendengar tentangmu dari beberapa teman. Dan akhirnya kau kembali hilang.
Sekolah Menengah Atas, banyak hal yang tak bisa aku tuliskan pada selembar kertas. Perlu berlembar - lembar kertas dan banyak botol tinta, serta kebulatan hati yang kuat untuk mulai menuliskannya. Di masa itu aku mulai bersahabat, aku mulai menikmati dunia. Tapi bukan itu alasanku menulis kali ini, alasanku adalah kau yang jauh di sana dan semoga bertemu kemudian tersenyum mempesona.
                                                                        ***
Jika Tuhan punya banyak babak dalam merancang kehidupan, dan kita sadar akan pola itu pasti kita akan tahu kelanjutanya. Tapi apalah daya, kita sangat kecil di hadapaNya. Kita tak pernah tahu akan rencananya, hanya yakin Dialah seorang sutradara dengan skenario yang paling indah. Aku masih mempercayai itu sebagai sebuah anugrah.
Entah aku sekarang ada di babak mana dalam kehidupan, jujur saja aku tak begitu paham hanya sesekali memikiran. Dan setelah selesai dengan Sekolah Menangah Atas aku kembali di beri kesempatan.
Kau mungkin tak percaya, aku rasa juga sangat aneh rasanya. Aku telah tumbuh dewasa, aku mulai bisa memahami alasan kenapa aku tersenyum saat melihat kau kembali. kali ini tak akan ku sia – siakan kesempatan itu.
Dengan sedikit keberanian yang ada dalam diriku, aku beranikan untuk menyapa duniamu. Ku tawarkan cerita yang panjang dan ada kamu dalam cerita itu. Entah rencana Tuhan yang mana lagi, kau pun mau menulis kisah kita bersama. Ya kau pasti bisa menduganya aku akhirnya bersama, tapi ini bukan akhir dari cerita. Ini masih berlanjut.
Hari – hari selanjutnya begitu indah dan berwarna. Seorang pujangga yang bijak akan menyebut inilah cinta. Aku menuliskan cinta. Aku sadar. Kau juga membacanya. Aku mulai saja.
                                                                        ***
Langit sore yang indah seperti biasa, merah padam cenderung berwana jingga tanda hari akan segera usai, mata – mata liar mulai terpana. Dunia ku sekarang berbeda, banyak hal yang terjadi. Kini orang yang aku bayangkan semenjak taman kanak – kanak ada di pelukanku. Bersender nyaman, dan bercerita hal – hal lucu sesekali mengusap raut yang indah dengan senyum teramat manis.
Pertemuan yang singkat namun bisa membuat kita akrab, sangat akrab. Aku sayang dia.
Suatu hari ku ajak kau melihat pemadangan indah di belahan yang lain, ya mungkin hanya air curug. Udara disana sangat sejuk, aku benar – benar telah hilang kendali akan perasaan ini. Aku merasa menjadi seorang lelaki paling bahagia. Begitu nyaman bercerita, hingga hal yang tak pernah aku ceritakan ke orang lain akhirnya aku percayakan padamu. Aku masih mengingatnya, pertama kalinya dalam hidupku meneteskan air mata di hadapan seorang wanita, aku benar – benar percaya kau bisa menjaganya. Kau boleh tertawa tapi ini benar nyata tak hanya sekedar kata yang biasa. Aku tak bisa melupakannya.
Dalam mabuk asmara yang menjadi tak sengaja aku berjanji, nanti kala kita di takdirkan bersama akan ku bangunkan istana indah untukmu di sini. Ini hal yang tak mungkin bisa terjadi, tapi bisa terucap mudah kala kita sedang jatuh cinta. Aku juga berjanji memberimu kenyamanan berkendara dengan sebuah mobil putih dan bersinar, walaupun aku mulai dengan kata “nanti”.
Aku tak menyangka kau mengingatnya, dan kalau kau percaya aku juga mengingatnya dan menuliskannya.
Tahun banyak berlalu dengan kehadiranmu, bosan jelas ada tapi kita punya cara tersendiri untuk menepiskannya. Kau sering bertanya padaku “kalau kau bosan bilang ya”. Sampai detik ini aku tak pernah mengucap kata itu, bosan terlalu kejam untuk mengakhiri hubungan yang sangat aku impikan.
Pernah suatu malam yang sepi di sebuah taman, aku duduk berdua denganmu dalam diam. Kita masing – masing tak tahu bagaimana memulainya, kau bersender di pundaku. Aku telah akrab akan hal itu. Lalu kau pun mulai bercerita tentang impianmu, cita – cita yang selama ini ada dalam benakmu.
Kau utarakan keinginanmu, tentang kehidupan perkuliahan. Kau di tawari sebuah kesempatan untuk itu. Walapun nanti akan meninggalkanku di pulau seberang menemui kakakmu disana. Aku terharu, benar – benar terharu akan impianmu. Perjuangan panjang telah kau lalui, keringat yang entah berapa banyak kau tumpahkan untuk hal itu. Dan kata yang masih kuingat “kau jangan tinggalkan aku, mau kah berkomitmen untuk bersama walau tempat kita berbeda”.
Andai kau tahu bagaimana hatiku kala itu, kaupun akan sadar kalau aku benar – benar bahagia. Bukan karena kau akan pergi tapi karena keseriusan yang siratkan. Aku bergetar tak banyak berkata. Kau sepenuhnya sadar kondisiku, terbesit di pikranku untuk segera menyelesaikan studiku dan menyusulmu kesana. Aku mulai membayangkan kehidupan indah kita nanti. Aku juga harus berjuang, jika cinta adalah memberi kali ini saatnya kita saling memberi kepercayaan dan pengertian.
Namun akhirnya kesempatan itu hanya lewat, karena alasan yang tak terduga kaupun harus merelakannya. Aku merasakan kesedihanmu, ingin kutawarkan kesempatan lain tapi aku belum mampu untuk itu. Kau pun sebenarnya tak menuntutku untuk melakukannya, aku hanya bisa duduk disampingmu, mendengarkanmu dan memberi kenyamanan layaknya sahabat untuk bercerita.
Sekali lagi aku di buat kagum akan dirimu, kau begitu tangguh. Di tempat yang sama namun waktu yang berbeda, kau kembali bercerita. Kali ini tentang keluargamu, kita memang tak bisa memilih di lahirkan di keluarga seperti  apa, tapi satu hal yang pasti keluarga menjadi alasan bahagia nantinya. Alasanmu berjuang selama ini adalah kebahagiaan keluarga, kau ingin membahagiakan ibumu. Hingga aku berikan sebuah nasihat yang aku kutip entah darimana dan aku coba berikan kepadamu.
Nasihat itu kira – kira seperti ini, “kebahagiaan bukanlah di berikan tapi di tularkan”. Aku mulai menjelaskan maksudnya. Selama ini kau berniat membahagiakan ibumu, tapi kau lupa kebahagiaan terbesar ibu adalah melihat anaknya bahagia. Bagaimana ibu bisa bahagia bila ia harus melihat anaknya menderita karenanya. Kau pun hanya terisak, membenamkan kepalamu di dadaku. Aku tahu aku bukan siapa – siapa dalam keluargamu tak seharusnya aku mencampuri tapi aku disini sebagai sahabat yang akan mendukung atas keputusanmu. Aku tak tahu apakah aku benar kala itu, dan waktu akan membuktikannya.
Saat isakmu mulai reda, belaian yang terhenti kaupun bangun dan menatapku dengan senyum. Aku balas dengan senyum sebisaku. Walau masih jelas matamu masih berkaca, tapi aku bisa melihat bebanmu sedikit telah hilang. Kau mengabari hal lain, akhirnya kau telah mendaftar untuk ikut tes Perguruan Tinggi Negeri, aku tak menyangka kau belum menghapus dan menyerah akan mimpimu. Saat itu aku benar – benar yakin kalau kau memang wanita yang aku impikan, bukan hanya keindahan paras namun semangat mencapai impian dan cita – cita yang di idamkan, kau pekerja keras, aku bangga memilikimu.
Tapi kau utarakan keraguan dalam hatimu, dengan penuh semangat aku coba yakinkan kalau keputusanmu itu yang terbaik. Aku selalu mendukung keputusanmu, kau juga begitu terhadapku. Kalau menurutku itu keliru aku coba luruskan namun aku tetap mendukungmu jika kau bersikeras. Kali ini kau benar, keputusan yang kau buat baik untukmu dan semuanya, aku harus mendukungmu. Aku ikhlas dengan kata – kata itu. Malam itu di tutup dengan pelukan dan ciuman kebahagiaan.
                                                                        ****
Hari berjalan biasa, sapaan tiap pagi yang membuat semangat jalani hari selalu aku dapatkan darimu, malam sebelum tidur oun kau tak lupa untuk saling mendoakan agar esok berjalan lebih baik. Semua berjalan seperti biasa, aku semakin mantap denganmu untuk menjadi pendampingku.
Hingga suatu malam yang tak pernah aku bayangkan, malam yang sangat aku takutkan dan ingin rasanya aku lupakan.




Kau Memutuskannya ......




Aku tak benar – benar paham alasan yang kau utarakan, sungguh sakit rasanya saat kau ucapkan aku sudah tak sayang, tak perduli dan perhatian. Hey kemana kau ... semua yang kau ucapakan begitu bertolak belakang. Aku masih seperti dulu, aku masih membayangkan wajahmu, mencoba hadirkan senyumu dalam lamunanku dan masih kupandangi potret mu kala malam datang membelenggu.
Dingin malam kala itu terasa sangat menusuk, saat kata demi kata kau ucapakan yang semuanya intinya adalah perpisahan. Aku tak sadar akan kesalahanku, kau tak mengingatkan atau kau telah mengingatkan tapi aku menghiraukannya. Ingin menangis sejadi – jadinya, ingin segera ku temui dirimu, dan ingin rasanya bangun dari mimpi buruk ini.
Kau benar, aku tak sedang mimpi. Kau masih bisa merasakannya. Kau bilang aku telah menyakitimu, maafkan aku tapi karena apa aku menyakitimu. Aku masih tak sadar atas perbuatanku yang mana, hingga kau ucapkan kata itu.
Harapan, impian dan cita – cita yang selama ini ada dalam benak tiba – tiba melayang, terbang dan tumpah berhamburan berserakan. Kita dulu punya mimpi bersama, dan akhirnya kita berpisah. Aku tak menerimanya. Aku tak bisa berkata – kata kala itu.
Ku jalani hari dengan kegalauan, terlalu tua untuk merasakan penyakit anak muda. Tentang patah hati. Mungkin terlalu berlebihan.
Malam – malam selanjutnya rasanya lebih panjang dari biasanya...
Masih tak percaya...
                                                                        *****
Hingga aku termenung, mencoba menguraikan masalah apa sebenarnya. Aku sungguh tak mau berprasangka buruk akan dirimu. Tak terbesit sedikitpun pikiran akan hadirnya orang lain dalam dirimu, aku sangat mengenalmu kali ini. Mungkin ada alasan lain yang membuat kau akhirnya membuat keputusan berat.
Kabar terdengar di telingaku, kau akhirnya berhasil masuk Perguruan Tinggi. Ingin rasanya aku memeluk dan mengucapkan selamat atas keberhasilanmu. Kuajak kau menari lalu perayaan sederhana untukmu. Tapi urung ku lakukan karena keadaan yang tak menguntungkan.
Akhirnya setelah lama aku coba pikirkan, kehidupan manusia pasti berputar. Semua orang pasti berubah, aku telah berubah kaupun demikian. Dengan berat hati aku anggap semua ini adalah “pelajaran” yang Men”Dewasa”kan. Kau ada di duniamu lagi, dan aku ada diduniaku lagi. Perpisahan kali ini menjadi nyata di hadapanku. Apakah pola yang lalu masih berlanjut, dan apakah ini akhir? Aku tak berani menduganya.
Malam ini, aku tuliskan semua yang ada dalam hatiku.
Hari ini adalah hari ulang tahunmu, aku tak bisa memberikan kado – kado lucu atau ucapan mesra layaknya pujangga, bahkan hal konyol yang sering di lakukan anak remaja. Doa aku panjatkan untukmu, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Terlalu munafik bagiku untuk mendoakan agar kau mendapat lelaki lain, aku tak sekuat itu untuk mengatakannya. Yang aku sadar semua manusia pasti mencari kebahagiaan, begitu juga dirimu. Aku akan menyalahkan diriku kalau kau tetap bersamaku namun kau tak bahagia. Happy birthday ya....
Maybe I could no longer feel the scent of twilight, but hopefully I can enjoy the warmth of the sun again.
Do you remember this?
Sewaktu itu
Saat itu ketika sebuah senyum ada di hadapanku
banyak rasa yang tercipta dengan seksama
ketenangan jiwa hadir tanpa disengaja karena hangatnya pangadangan raut wajahmu
mungkin ku telah terpesona karena itu?
ku telah rela heningku tercipta untuk itu, untuk mengingatmu
bukan sekedar bintang yang bersinar ditangah malam tetapi sang surya yang membangunkanku di pagi ini
sekarang setelah senyumu tak menyapaku
bukan ku kehilangan, hanya sekedar mengenang raut wajah yang membuat irama dalam setiap senandung kehidupanku

                                                                     Purwokerto, 23 Desember 2015, 00.40 kamar saja.

No comments:

Post a Comment