Sunday, 11 May 2014

Lebih Baik Tak Punya Nama Ini …..



“ kamu tahu kabar setelah demo kita waktu lalu” ujar seorang pria hitam kekar dengan handuk dipundaknya yang sedang duduk di sebuah warung kopi dekat penggilingan barang bekas tempatnya bekerja. “ katanya pihak berwenang sedang mulai memproses pihak swasta yang memasang plang di sana itu”. sambut pemiik warung sembari membuatkan kopi untuk pria hitam itu. “ kamu jangan begitu percaya dengan aparat berwenang, bukankan kamu sendiri tahu kenapa tanah kita ini bisa jatuh ke tangan swasta itu semua karena bapak jenderal bintang 5 itu no. “ kata pria itu kepada pemilik warung kopi itu dengan wajah marahnya. “ ini kopinya tim, jangan emosi dulu nampaknya suasana demo waktu lalu bener – bener membekas dihati kamu ya”, Kata sarno pemilik warung kopi tersebut. Mereka berdua adalah sebagian orang yang terkejut ketika melihat tanah yang dulu mereka jual kepada pemerintah sudah berpindah ke pemilik pribadi.
Hal ini tentu saja mengundang tanda Tanya besar orang – orang yang dahulu menjual ke pemerintah dengan alasan karena akan di bangun sebuah proyek penghijauan dan penanaman pohon cengkih untuk meningkatkan pendapatan daerah  dan tentu saja nantinya untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Kejadian itu sudah 25 tahun yang lalu ketika suasana Karang Kebagusan sebuah daerah yang masih sangat jarang penduduknya dan akses jalan ke daerah tersebut sangatlah sulit. Berbeda dengan sekarang setelah pembangunan masuk kedaerah tersebut jalanan menjadi lebar dan ramai, rumah pun mulai banyak berdiri di daerah tersebut dan pengusaha – pengusahpun mulai mendirikan usahanya. Karena letak daerah tersebut yang sangat strategis yang menghubungkan dua kota menjadikanya sebagai jalur alternatif untuk para kendaraan yang ingin menuju kota.
 Di terik siang itu datanglah seorang pemuda yang mampir untuk istirahat setelah menempuh perjalanan dari jogja tempatnya kuliah. “ permisi pak”, kata anak itu kepada dua orang bapak – bapak yang sedang bercerita itu. “ oh, ya silakan mau pesen apa mas ?” sambut pemilik warug tersebut. “ kopi saja pak, tolong ya”.
“ tunggu sebentar ya mas”.
“ mas, baru pulang kerja apa lagi kerja mas ?”, kata bapak – bapak hitam tadi yang tiba – tiba memulai percakapan dengan pemuda tersebut
“saya mau baru saja pulang pak dari jogja”.
“ oh mas kerjanya di jogja ya, jogja bagus ya mas “
“ saya di jogja kuliah pak, bukan kerja”
“ kamu ini sok tahu banget tim” , kata sarno pemilik warung.
“ engga papa pak,maksih ya kopinya” lalu mulai menikmati kopi yang sudah di sajikan dengan cepat oleh sarno tadi.
“ apa yang kamu benar juga tim, gara – gara dulu orang tua kita takut sama jendral itu jadinya tanah yang seharusnya dapat diwariskan kepada anak cucunya jadi berpindah tangan”. Kata sarno memulai pembicaraan kembali.
“ iya no, makanya kita harus tetap menuntut kasus ini di selesaikan jangan asal percaya begitu saja kalau kasus ini sudah di tangani pihak berwenang”.
“ lah kita harus gimana tim ? orang kita saja hanya masyarakat kere begini lagian ya tim semua orang kan berbeda – beda bisa saja aparat kali ini benar – benar mau membantu kita seperti pengacara yang membantu kita itu.”
“ aah, kau ini no masih saja percaya hal kebaikan mereka semua sama saja asalkan menguntungkan pasti dilakukan” , kata sartim sembari menaruh handuknya dimeja“. Kemudian melanjutkan ucapanya “ lagian ya no pengacara made itu melakukan hal ini kepada kita untuk menaikan namanya dia, biar dia bisa dikenal sebagai pengacara top gitu”.
“ kamu tau banyak ya tim, kamu kan hanya sampe SMP saja kok bisa tau sampe hal seperti itu?”
“ lho kamu ga pernah ikut kumpulan masalah tanah kita apa no ? kan mas dafit selalu bilang begitu”
“ oh jadi anaknya pak RT itu ya yang ngajarin ke kamu, dia memang pintar tahun depan saya dengar dia juga bakal jadi nyalon jadi caleg tim”.
Anak muda dari jogja merasa ingin dilibatkan dalam obrolan itu, dan merasa ada beberapa hal yang ingin sekali diketahui olehnya. Siapa itu aparat yang dimaksud, pengacara made dan mas dafit itu kenapa seolah – olah mereka begitu terkenal dikalangan bapak – bapak ini, sebenarnya apa yang sedang terjadi di daerah ini. Memang daerah ini bukanlah tempatnnya tinggal namun karena sebelahan dengan desa miliknya dia merasa harus tahu dengan masalah yang ada didesa ini. Memang dahulu tidak banyak orang memperhatikan desa ini namun setelah pembangunan masuk kedalam desa tersebut banyak  sekali hal baru yang terangkat selaras dengan kemajuan pembangunan desa tersebut. Anak muda itu pun mulai memberanikan diri untuk ikut dalam obrolan.
“ emm maaf pak, bapak semua ini asli orang – orang dari desa ini ya ? “ Tanya seorang pemuda.
“ iya mas, kami lahir dan tumbuh besar di desa ini memangnya ada apa mas kok mas nya nanya begitu? “
“ enggak papa pak, bapak berdua ini tadi sebenarnya lagi ngomongin hal apa kayaknya menarik sekali “.
“ oh iya, jadi gini mas di desa kami ini sebenarnya lagi ada masaaaaaa….” Tiba – tiba sartim menarik baju sarno yang hendak berbicara sehingga ucapanya menjadi terpotong.
“ sssssttt, kau ini jangan asal berbicara apa lagi mas ini kan orang asing kita tidak tahu kalau – kalau saja mas ini adalah orang suruhan pihak yang tidak suka dengan kita”.
“ iya juga tim,  mas ini sebenarnya siapa ? apa mas benar – benar ingin tahu karena mas sama sekali belum tahu “?
“ sebelumnya saya minta maaf pak kalau saya membuat bapak – bapak tersinggung karena kehadiran saya, saya hanya seorang anak rantau yang sedang dalam perjalanan pulang kampung pak”.
“ jadi bergitu ya mas, mas bener – bener hanya ingin tahu”,
“ iya pak saya hanya ingin sekedar tahu apa yang bapak – bapak ini bicarakan”.
“ tuh tim denger, kamu ini jangan asal mencurigai orang kan jadi saya yang ga enak. Maaf ya mas”
“ lah saya kan hanya menaati apa yang dikatakan oleh mas dafit kalau jangan cerita macam – macam sama orang – orang yang belum kita kenal no, maafin saya juga ya mas”
“ iya – iya pak ga apa – apa, lalu tadi bapak berdua ini sedang membicarakn apa sebenarnya ?” . Anak muda ini lalu berpikir sejenak kenapa orang – orang ini begitu mencurigai orang asing apa masalah yang membuat orang – orang ini seperti ini. Pemuda itu hanya bisa menunggu informasi yang hendak ia peroleh.
“ jadi begini mas, tanah yang nanti mas lewati itu yang ada plang itu dulunya adalah tanah milik orang tua kami yang dijual kepada pemerintah dengan alasan karena akan dijadikan penanaman pohon cengkeh atau apa gitu mas tapi kok setelah sekian lama tanah – tanah itu telah berganti nama menjadi milik pribadi milik seorang pengusaha dari kota besar.” kata sartim menceritakan kepada anak muda tersebut.
“ kenapa dulu orang tua bapak – bapak ini mau untuk menjual tanahnya ke pemerintah ?”,
“ lah mau gimana lagi mas, orang tua kami dulu belum bisa baca dan tulis lagian dulu yang meminta mereka menjual tanahnya adalah seorang jendral yang paling disegani waktu itu jadi mereka terpaksa menjualnya karena takut. Kata jendral itu orang yang menentang pemerintah akan dianggap musuh pemerintah jadi ya sudah dijual saja.” Kata sartim melanjutkan.
“ tidak hanya itu, harga yang dibayarkan waktu itu juga masih murah sekali dan orang tua kamipun menerimanya dengan berat hati.” Sambung sarno.
“ jadi begitu pak, jadi bapak – bapak ini mencoba untuk mengusut masalah ini ya ?”
“ ya jelas mas, tanah itu seharusnya adalah menjadi warisan bagi kita – kita ini mas.”
“ jadi karena hal itu bapak – bapak ini jadi tidak percaya akan aparat berwenang, bapak tidak mencoba menanyakan ke kelurahan mereka pasti punya akta tanah – tanah yang bapak ceritakan.”
“ sudah mas, kami bahkan sempat melakukan demo ke kelurahan menuntut agar ada kejelasan surat – surat tanah kami kenapa bisa sampai berpindah ke milik perseorangan”.
“ lumayan rumit juga ya pak, lalu tadi bapak mengatakan mas dafit memang mas dafit siapa pak ? , “
“ oh itu anak pak RT yang sekarang, dia adalah seorang yang nasibnya sama seperti kita dia memang masih muda tetapi begitu mendukung kami dalam melakukan perlawanan ini, demo waktu lalu itu juga adalah ide dari dia mas. Kata orang – orang mas dafit ini adalah keturunan orang kaya karena tanah eyangnya ada dimana – mana dan salah sebagian tanah eyangnya juga menjadi tanah sengketa itu mas”.
“ jadi wajar saja kalau mas dafit ikut membantu kita, orang tanah leluhurnya juga ikut dalam sengketa itu”. kata sartim melanjutkan ucapannya
Anak muda makin memahami arah pembicaraan tersebut dan dia mulai mengerti kenapa orang – orang ini begitu menggebu – gebu untuk menyelesaikan kasus ini, karena mereka merasa telah di ambil hak – haknya. Dan yang lebih membuat mereka begitu sakit hati adalah tindakan aparat – aparat yang tidak bertanggung jawab yang lebih mementingkan kepentingan pribadinya. Anak muda ini menjadi bertanya – tanya siapa sbenarnya jendral itu kenapa dia melakukan hal itu dan siapa sebenarnya yang menjual tanah ini kepada pengusaha itu.
Lalu rasa penasaran pemuda itupun berlanjut, kini dia menanya semakin detail tentang siapa pengacara yang disebut bapak tadi, apa yang membuat mereka tahu kalau tanah ini sudah berpindah tangan. “
“ pak kalau boleh saya tahu, hal ini kayaknya sudah di bawa ke ranah hukum ya pak tadi saya agak mendengar bapak ini menyebutkan pengacara segala, lalu kalo boleh saya tahu lagi sebenarnya siapa pengacara itu? “
“ oh itu saya sendiri tidak begitu mengenal pengacara itu, yang saya tahu pengacar itu mau membantu kita tanpa kita bayar, wong buat makan saja saya masih kekurangan kok nyewa pengacara”.
“ iya mas dia datang diwaktu yang tepat saat kami membutuhkan seorang ahli hukum untuk membawa kasus ini ke pengadilan ada yang bilang si itu temenya mas dafit, tapi kalau saya lihat mereka tidak begitu akrab tapi saya gak tahu lagi.”
“ oh begitu, lalu bagaimana awal bapak tahu kalau tanah yang orang tua bapak – bapak ini jual ke pemerintah itu sudah berpindah tangan.”
“ wah mas, kalau masalah itu ceritanya panjang haha saya harus melanjutkan kerja saya besok – besok lagi aja mas kalau mas mampir kesini lagi maaf ya mas”.
“ hahahaha ah bapak saya cuma iseng saja kok, oya pak satu lagi pak sebelum bapak melanjutkan pekerjaan bapak bapak tahu siapa jendral yang bapak bicarakan tadi ?”
“ kalau itu saya bisa jawab nak, orang sini menyebutnya pak yadi kalau nama lengkapnya bapak wahyadi suseno kalau gak salah sekarang beliau sudah wafat mas, permisi ya mas”.
Anak muda kaget bukan main, serasa ada petir yang menyambarnya seketika itu yang membuatnya hancur berkeping – keping dan tak percaya kalau nama yang disebutkan bapak itu adalah nama yang sangat akrab di telinganya wahyadi suseno begitu nama terucap dan memutar – mutar di kepalanya wahyadi suseno begitu seterusnya, sampai bapak pemilik warung menyadarkannya.
“ mas, mas masnya kenapa melamun ?”
“ eh pak, ga papa ini berapa semuanya tadi saya kopi saja ?”
“ Dua ribu saja mas, “
“ ini pak, kembalianya ambil saja “
“ makasih mas, besok – besok mampir lagi ya mas”
anak muda itu langsung keluar warung dan menuju motor tigernya sebelum melanjutkan perjalananya anak muda itu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, dia mengeluarkan KTP nya dibacanya dengan jelas nama dirinya “Ariya Budi Suseno” nama belakang yang merupakan kebanggaannya dan juga nama kakeknya itu serasa menjadi sesuatu yang tidak dia inginkan. Ya benar, Wahyadi Suseno adalah nama kakeknya yang dulu memang bertugas di daerah ini dan daerah tempat tinggalnya namun kakeknya bukanlah orang sini melainkan hanya bertugas saja disini. Dia tidak pernah menyangka kakeknya yang begitu di kagumi mendapatkan penilaian lain di mata orang – orang yang ditemuinya. Dia memanng mengenal kakeknya seorang yang tegas namun selalu mengajarkan hal baik kepadanya semasa dia hidup bahkan kakek lah yang mengjarkan apa arti tanggung jawab bagi seorang laki – laki.

Kemudian pemuda itu mulai menyalakan motornya dan berjalan pelan di antara tanah yang di penuhi plang bertuliskan “ Tanah Ini di Sita Oleh Kejaksaan Negeri”. Anak muda itu meneteskan air mata seraya menjalankan motornya……… bersambung … 

No comments:

Post a Comment