Oleh Ibnu Yana S
Dua
puluh empat jam dalam sehari rasanya kurang bagi mereka yang menghabiskan waktu
di balik tebalnya dinding pabrik, di balik pintu besi tinggi yang sangat
berisik saat di buka dan di tutup. Waktu
untuk keluarga pun hanya seperampat hari saja, terutama untuk anak –
anak mereka. Hanya di waktu minggu saja mereka dapat berkumpul
dengan keluarga itupun kadang harus mereka relakan karena lebih memilih untuk
berlembur.
Jarum
jam menunjukan pukul setengah empat saat adzan subuh berkumandang, Warsinem
sudah bangun untuk menyiapkan segala keperluan anak semata wayangnya mulai dari
sarapan, mencuci baju sampai persiapan anaknya untuk ke sekolah. Tepat pukul
setengah 7, saat lonceng tanda masuk pabrik di bunyikan, ia harus sudah
siap untuk memulai pekerjaannya sebagai seorang Buruh Mingguan.
Saat
langit berwarna merah dan menanti saat maghrib datang, Warsinem keluar
bebarengan dengan buruh – buruh lain untuk menyudahi pekerjaannya hari ini.
Saat tiba di dapatinya anak perempuannya
sedang membuka album foto miliknya. Sang anak menoleh kearah ibunya sambil
tersenyum menyambut kepulangan ibunya, saat itulah rasa lelahnya sirna sudah.
Memang ada sebuah keajaiban dari senyum seorang anak yaitu dapat menghilangkan
peluh lelah setelah sehari bekerja bagi orang tuanya.
“ ibu pulang, airnya
sudah Asih siapkan untuk mandi ibu”. Ucap anaknya sambil melanjutkan melihat
kembali album foto yang belum usai di lihatnya
“ makasih nak”.
Kemudian lalu untuk bebersih dan berbenah diri untuk membersihkan keringat dan
bau bumbu makanan ringan yang di dapatinya selama bekerja
Warsinem
melangkah ke kamar mandi dan menggunakan air yang sudah di siapkan putrinya.
Setelahnya mereka berdua makan malam bersama selepas sholat maghrib. Suasana
makan malam ada sedikit berbeda dari biasanya, suasana begitu kaku antara ibu
dan anak, bisanya anaknya banyak bercerita tentang kesehariannya,
apalagi anaknya yang baru masuk di kelas 7 SMP.
“ nak, kamu sakit ? ada
yang salah ?.
“ bu, asih boleh
menanyakan sesuatu ?. tanya anaknya tanpa melihat kearahnya.
“ kalau kau mau
menanyakan tentang ayahmu lagi, ibu tidak akan jawab. Ibu kan sudah katakan
berulang kali kepadamu bahwa ayahmu itu sudah tidak peduli lagi kepada kita.
Anggap saja ayahmu sudah mati.” Kemudian Warsinem melangkah ke kamar untuk
mengambil sesuatu.
Sambil
menyelesaikan sisa makanannya, anaknya terus membayangkan wajah ayahnya karena
di dalam album foto ibunya ada sebuah foto tanpa muka yang asih pun tahu itu
adalah foto ayahnya. Karena di sampingnya ada foto ibunya sewaktu muda. Asih
pun enggan menanyakan hal itu lagi kepada ibunya karena Asih sudah tahu
akhirnya. Asih memilih diam.
xxx..............xxx
Sewaktu
siang, saat Asih pulang dari sekolah di dapatinya ibunya sudah ada dirumah tiduran di kursi panjang ruang tamunya dan di sampingnya beberapa
teman kerjanya. Asih bergegas menghampiri ibunya yang terlihat lemas. Asih
memburu teman ibunya untuk menanyakan kenapa ibunya bisa seperti itu. Seorang
lelaki tua dengan clemek di badannya menjelaskan bahwa ibunya kesetrum mesin
pres yang ada di pabrik saat sedang bekerja.
“ tenang aja Asih, ibu
hanya kaget saja tegangan mesin pres tidak terlalu tinggi jadi ibu masih
beruntung”
“ ibu, asih bawa ke
dokter ya?’.
“ tidak usah nak, besok
juga sudah sembuh ibu hanya lemah saja”.
Beberapa
buruh pabrik berpamitan karena sudah ada Asih yang menjaganya, lagian mereka
juga harus menyelesaikan pekerjaan mereka di pabrik. Setelah berpamitan
tinggalah dua orang ibu dan anak, terlihat anak hanya duduk di samping ibunya
yang tertidur lemas. Asih menawarkan minum kepada ibunya.
“ Asih ambilkan minum
dulu ya bu,”
Tidak
lama setelah asih kebelakang untuk mengambilkan minum terdengar suara salam seperti
ada orang yang datang. Asih bergegas melihatnya ternyata majikan dari ibunya
yang datang berkunjung untuk melihat keadaan karyawannya. Orang keturunan
chines ini memang telah menjadi majikan ibunya sejak 14 tahun yang lalu saat Asih belum ada di dunia ini atau saat ibunya masih perawan. Entah darimana
mereka bisa bertemu, apakah memang ibu yang mencari pekerjaan ke tempatnya atau
orang chines itu yang menawarkan pekerjaan kepada ibunya itu. Hingga terbesit
sebuah pikiran bahwa majikan ibu ini pasti tahu sejarah panjang ibunya dan
bahkan pasti tau siapa ayah Asih sebenarnya.
Sambil
membawa dua gelas air yang ditujukan untuk ibu dan majikan itu Asih berjalan
dengan penuh keyakinan bahwa Asih akan mendapatkan informasi yang sudah sejak
dahulu kala ia inginkan. Asih menaruh gelas di meja, namun ada yang salah
dengan muka majikan ibunya itu terlihat kaku dan pucat seperti sebuah maling
yang tertangkap warga karena telah mencuri seekor ayam dan bergegas langsung
berpamitan dengan menaruh amplop yang berisi sejumlah uang.
“ kenapa dia langsung
pergi bu, apa asih terlihat begitu menakutkan”.
“ biarkan saja nak, kau
ambil amplop itu dan masukan kedalam lemari ibu”.
Saat
melangkah masuk kedalam kamar dengan membawa amplop yang di berikan oleh
majikan ibunya itu Asih bertanya – tanya kenapa dengan majikan itu? apa
ada yang salah dengan dirinya? apakah Asih begitu menakutkan sampai majikan
itu tidak mau bertemu dengannya. Hal ini bukanlah pertama baginya hampir setiap
sebulan sekali majikan chines itu datang memberikan amplop kepada ibunya namun
langsung bergegas pergi setelah tahu Asih ada dirumah. Asih sendiri merasa heran, kalau begini terus bagaimana mungkin ia dapat menanyakan masa lalu ibunya.
Akhirnya
pada suatu kesempatan pada hari minggu, saat majikan itu datang lagi kerumahnya
untuk menemui ibunya. Asih bergegas mengunci pintu rumahnya dan langsung
memasukan kunci itu kedalam kantung celanya. Kaget bukan main sang majikan
melihat tingkah anak perempuan kecil yang ada di hadapannya kali ini, dia
terlihat pucat seperti biasanya dan lebih berkeringat. Dengan nada sedikit
tinggi Asih mempersilakan majikan untuk duduk dan mulai menanyakan hal yang
sangat penting kepadanya.
“ maaf tuan, kalau
tidak salah tuan sudah lama mengenal ibu saya apakah boleh saya menanyakan
sesuatu ?”
“ yaa, silakan saja “.
“ sudah sejak kapan
tuan mengenal ibu saya ?”
“ sudah lama, sekitar
14 tahun yang lalu.”
“ jadi tuan tahu benar
dengan riwayat ibu saya ?”
“ tidak begitu, maksud
saya ya saya tahu tapi tidak banyak.”
“ tak apa, saya hanya
ingin tahu apakah tuan tahu siapa suami ibu saya ? ayah saya ? apakah tuan
benar – benar tahu”
Mendengar
pertanyaaan seorang anak perempuan ini, majikan kembali berkeringat dan mukanya
semakin memucat. Warna putih kulit seorang chines menjadi hambar, mata sipit
yang merupakan khas dari orang tiongkok ini berubah muram dan sayu. Hening
tercipta antara kedua makhluk ini, majikan tidak tahu apa yang harus
dikatakannya, harus memulai darimana cerita panjang antara dirinya dan ibunya.
Tiba – tiba teringat sebuah kenangan 14 tahun silam saat pertama kalinya
bertemu dengan Warsinem di sebuah pelataran pabrik. Saat itu Warsinem bersama
tiga orang temannya yang berasal dari desa mencoba peruntungan untuk mencari
pekerjaan setelah lulus SMP. Warsinem yang kala itu berumur 16 tahun terlihat
cantik dan malu – malu saat melamar pekerjaan sebagai buruh pabrik tempatnya.
Rata
– rata yang bekerja di pabrik itu adalah mereka para pendatang dari luar
daerah, baik dari desa – desa yang jauh ataupun mereka yang mempunyai kenalan
buruh juga di pabrik itu. Bagi para pendatang di sediakan sebuah mess untuk
mereka tinggal, di dalam pabrik di siapkan mess bagi pria dan juga wanita
dengan tempat yang terpisah namun tetap berada di balik tembok pabrik yang tebal.
Mess pria memang terletak agak di depan, sedangkan untuk mess wanita agak jauh di
belakang dekat dengan tembok belakang pabrik karena hanya tempat itu yang tersedia toilet untuk memudahkan hajat Wanita.
Hingga
suatu petaka datang di pabrik, saat itu adalah hari libur pabrik dan pekerja di
bolehkan untuk pulang kampung 3 bulan sekali untuk menengok keluarganya tak
terkecuali Warsinem dan teman – temannya. Namun Warsinem lebih
memilih untuk melembur pekerjaannya dan menunda pulang kampung. Saat yang lain
sudah pulang kampung di mess wanita hanya tinggal 3 orang saja yaitu Warsinem
dan dua orang lagi yang dikenalnya namun tidak begitu akrab. Saat mereka memutuskan untuk pergi makan diluar Warsinem pun enggan untuk
ikut karena sungkan dengan mereka. Warsinem memilih untuk tidur di mess itu
seorang diri, bukan warsinem tidak takut melainkan karena temanya itu berjanji
akan segera pulang sebelum jam 9 karena ada jam malam di pabrik itu.
Jarum
jam menunjukan pukul tujuh malam saat adzan isya berkumandang, Warsinem
mendengar ada suara seseorang datang mengetuk pintu kamar mess nya. Dia
pikirannya adalah dua orang temannya yang berpamitan untuk keluar makan sore
itu, ia heran kenapa cepat sekali mereka pulang. Setelah di bukanya ternyata
seorang karyawan lelaki dengan perawakan besar dan tegak yang mengetuknya.
Karyawan ini memang dikenal menyukai Warsinem saat ia baru saja datang dan
sempat menyatakan perasaannya kepada Warsinem namun di tolak karena ia tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki terlebih dahulu.
“ oh kau, kenapa datang
kesini ?”
“ kau jangan belaga
bodoh nem, aku ini suka kepadamu, cinta kepadamu aku akan melakukan apapun
untuk mendapatkanmu.” Tegas seorang lelaki tersebut.
“ sudahlah hentikan,
bukanlah aku sudah memm .....”
Belum
selesai menyelsaikan kalimatnya pemuda ini pun langsung mendorong Warsinem
untuk masuk kedalam mess tersebut. Lelaki ini berusaha untuk memperkosanya, Warsinem yang ketakutan dan menahan tangan lelaki ini berteriak minta tolong.
Hingga terdengar oleh sang majikan yang sedang berjalan untuk menemui Warsinem.
Bergegas majikan ini pun langsung menuju asal suara tersebut. sebuah
pemandangan yang sangat tak teduga olehnya, gadis yang disukainya sedang di
gerayangi oleh lelaki lain. Dengan berang majikan ini langsung bertindak dan
memukuli lelaki ini tanpa ampun sampai lelaki ini, hampir pingsan karenanya.
Kemudian
lelaki ini berlari meninggalkan majikan dan Warsinem yang sedang menangis yang
hendak di renggut kesuciannya. Keadaan warsinem benar – benar kacau dengan baju
yang sobek, setengah terbuka itu mencoba berdiri namun gagal dan terjatuh lagi.
Majikan ini lebih kacau melihat Warsinem berantakan seperti itu, namun entah
ada setan mana yang merasukinya. Dengan pelan ia berjalan menuju pintu
mess dan menutupnya dari dalam lalu menguncinya.
Ia
menghampiri Warsinem yang tidak berdaya, dan masih sesenggukan itu. Sungguh
malang nasibnya ternyata majikannya ini tidak benar – benar untuk menolongnya
dia justru berusaha menyelesaikan apa yang di buat lelaki tadi terhadap
warsinem. Warsinem pun hanya pasrah dengan apa yang di lakukan majikannya itu,
dia hanya buruh tak berdaya. Nasib seorang buruh memang begitu malang, dia
benar – benar rendah di hadapan majikannya, dia menangis membiarkan majikannya
merenggut kesuciannya. Lalu meninggalkannya dalam keadaan tak berdaya..
“ hey tuan, saya
bertanya kepadamu” ucap Asih yang tak sabar mendengar jawaban dari seseorang
yang melamun di depannya.
“ eeh maaf, iya tadi
kamu menanyakan apa ?”.
“ tuan benar – benar
tidak mendengarkan saya, saya bertanya apakah tuan mengenal ayah saya?”.
“ ohh iya itu, anu emm
saya tidak begitu mengenal ayah kamu, setahu saya dia meninggalkanmu saat masih
kecil”, ucap majikan dengan sedikit tergagap.
“ ooh baiklah, terima
kasih “ dengan menghela nafas panjang karena tidak mendapatkan jawaban yang
diinginkannya.
Kemudian tidak berapa
lama setelah pertanyaan itu, majikan mohon pamit kepada Asih dan memintanya
untuk membukakan pintu rumahnya. Dengan langkah cepat majikan itu meninggalkan
Asih seorang diri di ruang tamu dan meninggalkan sebuah amplop seperti biasa
untuk ibunya.
No comments:
Post a Comment