Wednesday, 2 September 2015

BURUH

Oleh Ibnu Yana S
Dua puluh empat jam dalam sehari rasanya kurang bagi mereka yang menghabiskan waktu di balik tebalnya dinding pabrik, di balik pintu besi tinggi yang sangat berisik saat di buka dan di tutup. Waktu  untuk keluarga pun hanya seperampat hari saja, terutama untuk anak – anak  mereka. Hanya  di waktu minggu saja mereka dapat berkumpul dengan keluarga itupun kadang harus mereka relakan karena lebih memilih untuk berlembur.

Jarum jam menunjukan pukul setengah empat saat adzan subuh berkumandang, Warsinem sudah bangun untuk menyiapkan segala keperluan anak semata wayangnya mulai dari sarapan, mencuci baju sampai persiapan anaknya untuk ke sekolah. Tepat pukul setengah 7, saat lonceng tanda masuk pabrik di bunyikan, ia harus sudah siap untuk memulai pekerjaannya sebagai seorang Buruh Mingguan.


Saat langit berwarna merah dan menanti saat maghrib datang, Warsinem keluar bebarengan dengan buruh – buruh lain untuk menyudahi pekerjaannya hari ini. Saat  tiba di dapatinya anak perempuannya sedang membuka album foto miliknya. Sang anak menoleh kearah ibunya sambil tersenyum menyambut kepulangan ibunya, saat itulah rasa lelahnya sirna sudah. Memang ada sebuah keajaiban dari senyum seorang anak yaitu dapat menghilangkan peluh lelah setelah sehari bekerja bagi orang tuanya.

“ ibu pulang, airnya sudah Asih siapkan untuk mandi ibu”. Ucap anaknya sambil melanjutkan melihat kembali album foto yang belum usai di lihatnya
“ makasih nak”. Kemudian lalu untuk bebersih dan berbenah diri untuk membersihkan keringat dan bau bumbu makanan ringan yang di dapatinya selama bekerja

Warsinem melangkah ke kamar mandi dan menggunakan air yang sudah di siapkan putrinya. Setelahnya mereka berdua makan malam bersama selepas sholat maghrib. Suasana makan malam ada sedikit berbeda dari biasanya, suasana begitu kaku antara ibu dan anak, bisanya anaknya banyak bercerita tentang kesehariannya, apalagi anaknya yang baru masuk di kelas 7 SMP.

“ nak, kamu sakit ? ada yang salah  ?.
“ bu, asih boleh menanyakan sesuatu ?. tanya anaknya tanpa melihat kearahnya.
“ kalau kau mau menanyakan tentang ayahmu lagi, ibu tidak akan jawab. Ibu kan sudah katakan berulang kali kepadamu bahwa ayahmu itu sudah tidak peduli lagi kepada kita. Anggap saja ayahmu sudah mati.” Kemudian Warsinem melangkah ke kamar untuk mengambil sesuatu.

Sambil menyelesaikan sisa makanannya, anaknya terus membayangkan wajah ayahnya karena di dalam album foto ibunya ada sebuah foto tanpa muka yang asih pun tahu itu adalah foto ayahnya. Karena di sampingnya ada foto ibunya sewaktu muda. Asih pun enggan menanyakan hal itu lagi kepada ibunya karena Asih sudah tahu akhirnya. Asih memilih diam.

                                                          xxx..............xxx

Sewaktu siang, saat Asih pulang dari sekolah di dapatinya ibunya sudah ada dirumah tiduran di kursi panjang ruang tamunya dan di sampingnya beberapa teman kerjanya. Asih bergegas menghampiri ibunya yang terlihat lemas. Asih memburu teman ibunya untuk menanyakan kenapa ibunya bisa seperti itu. Seorang lelaki tua dengan clemek di badannya menjelaskan bahwa ibunya kesetrum mesin pres yang ada di pabrik saat sedang bekerja.

“ tenang aja Asih, ibu hanya kaget saja tegangan mesin pres tidak terlalu tinggi jadi ibu masih beruntung”
“ ibu, asih bawa ke dokter ya?’.
“ tidak usah nak, besok juga sudah sembuh ibu hanya lemah saja”.

Beberapa buruh pabrik berpamitan karena sudah ada Asih yang menjaganya, lagian mereka juga harus menyelesaikan pekerjaan mereka di pabrik. Setelah berpamitan tinggalah dua orang ibu dan anak, terlihat anak hanya duduk di samping ibunya yang tertidur lemas. Asih menawarkan minum kepada ibunya.

“ Asih ambilkan minum dulu ya bu,”

Tidak lama setelah asih kebelakang untuk mengambilkan minum terdengar suara salam seperti ada orang yang datang. Asih bergegas melihatnya ternyata majikan dari ibunya yang datang berkunjung untuk melihat keadaan karyawannya. Orang keturunan chines ini memang telah menjadi majikan ibunya sejak 14 tahun yang lalu saat Asih belum ada di dunia ini atau saat ibunya masih perawan. Entah darimana mereka bisa bertemu, apakah memang ibu yang mencari pekerjaan ke tempatnya atau orang chines itu yang menawarkan pekerjaan kepada ibunya itu. Hingga terbesit sebuah pikiran bahwa majikan ibu ini pasti tahu sejarah panjang ibunya dan bahkan pasti tau siapa ayah Asih sebenarnya.

Sambil membawa dua gelas air yang ditujukan untuk ibu dan majikan itu Asih berjalan dengan penuh keyakinan bahwa Asih akan mendapatkan informasi yang sudah sejak dahulu kala ia inginkan. Asih menaruh gelas di meja, namun ada yang salah dengan muka majikan ibunya itu terlihat kaku dan pucat seperti sebuah maling yang tertangkap warga karena telah mencuri seekor ayam dan bergegas langsung berpamitan dengan menaruh amplop yang berisi sejumlah uang.

“ kenapa dia langsung pergi bu, apa asih terlihat begitu menakutkan”.
“ biarkan saja nak, kau ambil amplop itu dan masukan kedalam lemari ibu”.

Saat melangkah masuk kedalam kamar dengan membawa amplop yang di berikan oleh majikan ibunya itu Asih bertanya – tanya kenapa dengan majikan itu? apa ada yang salah dengan dirinya? apakah Asih begitu menakutkan sampai majikan itu tidak mau bertemu dengannya. Hal ini bukanlah pertama baginya hampir setiap sebulan sekali majikan chines itu datang memberikan amplop kepada ibunya namun langsung bergegas pergi setelah tahu Asih ada dirumah. Asih sendiri merasa heran, kalau begini terus bagaimana mungkin ia dapat menanyakan masa lalu ibunya.

Akhirnya pada suatu kesempatan pada hari minggu, saat majikan itu datang lagi kerumahnya untuk menemui ibunya. Asih bergegas mengunci pintu rumahnya dan langsung memasukan kunci itu kedalam kantung celanya. Kaget bukan main sang majikan melihat tingkah anak perempuan kecil yang ada di hadapannya kali ini, dia terlihat pucat seperti biasanya dan lebih berkeringat. Dengan nada sedikit tinggi Asih mempersilakan majikan untuk duduk dan mulai menanyakan hal yang sangat penting kepadanya.

“ maaf tuan, kalau tidak salah tuan sudah lama mengenal ibu saya apakah boleh saya menanyakan sesuatu ?”
“ yaa, silakan saja “.
“ sudah sejak kapan tuan mengenal ibu saya ?”
“ sudah lama, sekitar 14 tahun yang lalu.”
“ jadi tuan tahu benar dengan riwayat ibu saya ?”
“ tidak begitu, maksud saya ya saya tahu tapi tidak banyak.”
“ tak apa, saya hanya ingin tahu apakah tuan tahu siapa suami ibu saya ? ayah saya ? apakah tuan benar – benar tahu”

Mendengar pertanyaaan seorang anak perempuan ini, majikan kembali berkeringat dan mukanya semakin memucat. Warna putih kulit seorang chines menjadi hambar, mata sipit yang merupakan khas dari orang tiongkok ini berubah muram dan sayu. Hening tercipta antara kedua makhluk ini, majikan tidak tahu apa yang harus dikatakannya, harus memulai darimana cerita panjang antara dirinya dan ibunya. Tiba – tiba teringat sebuah kenangan 14 tahun silam saat pertama kalinya bertemu dengan Warsinem di sebuah pelataran pabrik. Saat itu Warsinem bersama tiga orang temannya yang berasal dari desa mencoba peruntungan untuk mencari pekerjaan setelah lulus SMP. Warsinem yang kala itu berumur 16 tahun terlihat cantik dan malu – malu saat melamar pekerjaan sebagai buruh pabrik tempatnya.

Rata – rata yang bekerja di pabrik itu adalah mereka para pendatang dari luar daerah, baik dari desa – desa yang jauh ataupun mereka yang mempunyai kenalan buruh juga di pabrik itu. Bagi para pendatang di sediakan sebuah mess untuk mereka tinggal, di dalam pabrik di siapkan mess bagi pria dan juga wanita dengan tempat yang terpisah namun tetap berada di balik tembok pabrik yang tebal. Mess pria memang terletak agak di depan, sedangkan untuk mess wanita agak jauh di belakang dekat dengan tembok belakang pabrik karena hanya tempat itu yang tersedia toilet untuk memudahkan hajat Wanita.

Hingga suatu petaka datang di pabrik, saat itu adalah hari libur pabrik dan pekerja di bolehkan untuk pulang kampung 3 bulan sekali untuk menengok keluarganya tak terkecuali Warsinem dan teman – temannya. Namun Warsinem lebih memilih untuk melembur pekerjaannya dan menunda pulang kampung. Saat yang lain sudah pulang kampung di mess wanita hanya tinggal 3 orang saja yaitu Warsinem dan dua orang lagi yang dikenalnya namun tidak begitu akrab. Saat mereka memutuskan untuk pergi makan diluar Warsinem pun enggan untuk ikut karena sungkan dengan mereka. Warsinem memilih untuk tidur di mess itu seorang diri, bukan warsinem tidak takut melainkan karena temanya itu berjanji akan segera pulang sebelum jam 9 karena ada jam malam di pabrik itu.
Jarum jam menunjukan pukul tujuh malam saat adzan isya berkumandang, Warsinem mendengar ada suara seseorang datang mengetuk pintu kamar mess nya. Dia pikirannya adalah dua orang temannya yang berpamitan untuk keluar makan sore itu, ia heran kenapa cepat sekali mereka pulang. Setelah di bukanya ternyata seorang karyawan lelaki dengan perawakan besar dan tegak yang mengetuknya. Karyawan ini memang dikenal menyukai Warsinem saat ia baru saja datang dan sempat menyatakan perasaannya kepada Warsinem namun di tolak karena ia tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki terlebih dahulu.

“ oh kau, kenapa datang kesini ?”
“ kau jangan belaga bodoh nem, aku ini suka kepadamu, cinta kepadamu aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu.” Tegas seorang lelaki tersebut.
“ sudahlah hentikan, bukanlah aku sudah memm .....”

Belum selesai menyelsaikan kalimatnya pemuda ini pun langsung mendorong Warsinem untuk masuk kedalam mess tersebut. Lelaki ini berusaha untuk memperkosanya, Warsinem yang ketakutan dan menahan tangan lelaki ini berteriak minta tolong. Hingga terdengar oleh sang majikan yang sedang berjalan untuk menemui Warsinem. Bergegas majikan ini pun langsung menuju asal suara tersebut. sebuah pemandangan yang sangat tak teduga olehnya, gadis yang disukainya sedang di gerayangi oleh lelaki lain. Dengan berang majikan ini langsung bertindak dan memukuli lelaki ini tanpa ampun sampai lelaki ini, hampir pingsan karenanya.

Kemudian lelaki ini berlari meninggalkan majikan dan Warsinem yang sedang menangis yang hendak di renggut kesuciannya. Keadaan warsinem benar – benar kacau dengan baju yang sobek, setengah terbuka itu mencoba berdiri namun gagal dan terjatuh lagi. Majikan ini lebih kacau melihat Warsinem berantakan seperti itu, namun entah ada setan mana yang merasukinya. Dengan pelan ia berjalan menuju pintu mess dan menutupnya dari dalam lalu menguncinya.

Ia menghampiri Warsinem yang tidak berdaya, dan masih sesenggukan itu. Sungguh malang nasibnya ternyata majikannya ini tidak benar – benar untuk menolongnya dia justru berusaha menyelesaikan apa yang di buat lelaki tadi terhadap warsinem. Warsinem pun hanya pasrah dengan apa yang di lakukan majikannya itu, dia hanya buruh tak berdaya. Nasib seorang buruh memang begitu malang, dia benar – benar rendah di hadapan majikannya, dia menangis membiarkan majikannya merenggut kesuciannya. Lalu meninggalkannya dalam keadaan tak berdaya..

“ hey tuan, saya bertanya kepadamu” ucap Asih yang tak sabar mendengar jawaban dari seseorang yang melamun di depannya.
“ eeh maaf, iya tadi kamu menanyakan apa ?”.
“ tuan benar – benar tidak mendengarkan saya, saya bertanya apakah tuan mengenal ayah saya?”.
“ ohh iya itu, anu emm saya tidak begitu mengenal ayah kamu, setahu saya dia meninggalkanmu saat masih kecil”, ucap majikan dengan sedikit tergagap.
“ ooh baiklah, terima kasih “ dengan menghela nafas panjang karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Kemudian tidak berapa lama setelah pertanyaan itu, majikan mohon pamit kepada Asih dan memintanya untuk membukakan pintu rumahnya. Dengan langkah cepat majikan itu meninggalkan Asih seorang diri di ruang tamu dan meninggalkan sebuah amplop seperti biasa untuk ibunya. 

No comments:

Post a Comment