Thursday, 17 September 2026

Lima Tahun dan Kita

 Sebuah surat, ringkasan dan penggalan kisah.. 



Lima tahun yang lalu, kita berdiri di satu pintu

dengan dua hati yang belum benar-benar tahu

seberapa panjang jalan yang akan kita tempuh.

Kita kira pernikahan

adalah tentang dua orang yang saling mencintai.

Ternyata,

ia lebih sering tentang dua orang

yang sama-sama lelah,

namun memilih untuk tidak pergi.

Ada hari-hari

ketika uang terasa terlalu sedikit,

mimpi terasa terlalu jauh,

dan hidup seperti laut

yang sengaja meninggikan ombaknya.

Ada malam-malam

ketika kita tidur dalam diam,

bukan karena sudah tak cinta,

tetapi karena tak tahu

bagaimana menjelaskan luka.


Aku pernah mengecewakanmu.

Kau pun pernah membuatku terluka.


Kita pernah salah,

pernah keras kepala,

pernah hampir kehilangan arah.


Tapi lihatlah kita hari ini.


Masih di sini.


Dengan dua tangan yang mungkin belum mampu

memberikan segala yang kita inginkan,

namun masih mau menggenggam

saat dunia terasa terlalu berat.


Dan dari perjalanan itu,

Tuhan menitipkan anak-anak

ke dalam bahtera kecil kita.


Mereka mungkin belum mengerti

berapa kali ayah dan ibunya

menahan takut demi terlihat baik-baik saja.


Mereka belum tahu

bahwa di balik nasi yang tersaji,

ada lelah yang tersembunyi.


Di balik rumah yang sederhana,

ada dua orang

yang terus belajar menjadi orang tua.


Dan di balik tawa mereka,

ada doa panjang

yang kita titipkan kepada langit.


Istriku,


aku tidak tahu

apakah selama lima tahun ini

aku sudah menjadi suami yang baik.


Mungkin belum.


Aku masih banyak kurangnya.

Masih sering bingung harus bagaimana.

Masih belajar mencari jalan

ketika hidup membawa kita ke persimpangan.


Tapi ada satu hal

yang ingin kau tahu:


Aku bangga padamu.


Bangga pada perempuan

yang tetap berdiri ketika badai datang.

Bangga pada perempuan

yang ikut memikul beban

meski pundaknya sendiri sering lelah.


Dan malam ini,

di tahun kelima perjalanan kita,

aku juga ingin mengatakan sesuatu

kepada diriku sendiri:


Terima kasih

karena dulu tidak menyerah.


Terima kasih

karena tetap pulang.


Terima kasih

karena meski merasa tidak bisa apa-apa,

kau tetap mencoba menjadi nahkoda

bagi kapal kecil bernama keluarga.


Mungkin kita belum sampai

di tempat yang pernah kita impikan.


Rumah itu mungkin belum berdiri

seperti yang kita bayangkan.


Tabungan mungkin belum sebanyak

yang kita harapkan.


Hidup masih akan membawa

badai-badai lain.


Tapi kalau suatu hari nanti

kita benar-benar sampai di sana,


aku ingin menoleh kepadamu

dan berkata:


“Lihat, Sayang.

Ternyata kita bisa.”


Lima tahun telah berlalu.


Dan kalau aku diberi kesempatan

untuk mengulang semuanya,


aku tidak meminta

jalan yang lebih mudah.


Aku hanya ingin

perempuan yang sama.


Anak-anak yang sama.


Dan bahtera kecil yang sama.


Sebab ternyata,

rumah bukan tempat

di mana badai tidak pernah datang.


Rumah adalah tempat

di mana setelah badai berlalu,


kita masih menemukan

orang-orang yang kita cintai

menunggu di dalamnya.


Selamat lima tahun,

istriku.


Terima kasih telah menjadi

teman perjalanan,

tempat pulang,

dan ibu dari anak-anak kita.


Kalau lima tahun pertama

adalah tentang belajar bertahan,


semoga tahun-tahun berikutnya

adalah tentang belajar menikmati

perjalanan yang telah kita perjuangkan.


Mari kita lanjutkan.


Pelan-pelan saja.


Sebab selama kau di sampingku,

dan anak-anak ada di dalam bahtera ini,


aku tidak takut

seberapa jauh laut membentang.


Lima tahun, dan kita masih di sini.


Dan bagiku,

itu sudah menjadi

salah satu keajaiban

terbesar dalam hidupku.


Purwokerto, 17 September 2026. 

No comments:

Post a Comment