Sebuah surat, ringkasan dan penggalan kisah..
Lima tahun yang lalu, kita berdiri di satu pintu
dengan dua hati yang belum benar-benar tahu
seberapa panjang jalan yang akan kita tempuh.
Kita kira pernikahan
adalah tentang dua orang yang saling mencintai.
Ternyata,
ia lebih sering tentang dua orang
yang sama-sama lelah,
namun memilih untuk tidak pergi.
Ada hari-hari
ketika uang terasa terlalu sedikit,
mimpi terasa terlalu jauh,
dan hidup seperti laut
yang sengaja meninggikan ombaknya.
Ada malam-malam
ketika kita tidur dalam diam,
bukan karena sudah tak cinta,
tetapi karena tak tahu
bagaimana menjelaskan luka.
Aku pernah mengecewakanmu.
Kau pun pernah membuatku terluka.
Kita pernah salah,
pernah keras kepala,
pernah hampir kehilangan arah.
Tapi lihatlah kita hari ini.
Masih di sini.
Dengan dua tangan yang mungkin belum mampu
memberikan segala yang kita inginkan,
namun masih mau menggenggam
saat dunia terasa terlalu berat.
Dan dari perjalanan itu,
Tuhan menitipkan anak-anak
ke dalam bahtera kecil kita.
Mereka mungkin belum mengerti
berapa kali ayah dan ibunya
menahan takut demi terlihat baik-baik saja.
Mereka belum tahu
bahwa di balik nasi yang tersaji,
ada lelah yang tersembunyi.
Di balik rumah yang sederhana,
ada dua orang
yang terus belajar menjadi orang tua.
Dan di balik tawa mereka,
ada doa panjang
yang kita titipkan kepada langit.
Istriku,
aku tidak tahu
apakah selama lima tahun ini
aku sudah menjadi suami yang baik.
Mungkin belum.
Aku masih banyak kurangnya.
Masih sering bingung harus bagaimana.
Masih belajar mencari jalan
ketika hidup membawa kita ke persimpangan.
Tapi ada satu hal
yang ingin kau tahu:
Aku bangga padamu.
Bangga pada perempuan
yang tetap berdiri ketika badai datang.
Bangga pada perempuan
yang ikut memikul beban
meski pundaknya sendiri sering lelah.
Dan malam ini,
di tahun kelima perjalanan kita,
aku juga ingin mengatakan sesuatu
kepada diriku sendiri:
Terima kasih
karena dulu tidak menyerah.
Terima kasih
karena tetap pulang.
Terima kasih
karena meski merasa tidak bisa apa-apa,
kau tetap mencoba menjadi nahkoda
bagi kapal kecil bernama keluarga.
Mungkin kita belum sampai
di tempat yang pernah kita impikan.
Rumah itu mungkin belum berdiri
seperti yang kita bayangkan.
Tabungan mungkin belum sebanyak
yang kita harapkan.
Hidup masih akan membawa
badai-badai lain.
Tapi kalau suatu hari nanti
kita benar-benar sampai di sana,
aku ingin menoleh kepadamu
dan berkata:
“Lihat, Sayang.
Ternyata kita bisa.”
Lima tahun telah berlalu.
Dan kalau aku diberi kesempatan
untuk mengulang semuanya,
aku tidak meminta
jalan yang lebih mudah.
Aku hanya ingin
perempuan yang sama.
Anak-anak yang sama.
Dan bahtera kecil yang sama.
Sebab ternyata,
rumah bukan tempat
di mana badai tidak pernah datang.
Rumah adalah tempat
di mana setelah badai berlalu,
kita masih menemukan
orang-orang yang kita cintai
menunggu di dalamnya.
Selamat lima tahun,
istriku.
Terima kasih telah menjadi
teman perjalanan,
tempat pulang,
dan ibu dari anak-anak kita.
Kalau lima tahun pertama
adalah tentang belajar bertahan,
semoga tahun-tahun berikutnya
adalah tentang belajar menikmati
perjalanan yang telah kita perjuangkan.
Mari kita lanjutkan.
Pelan-pelan saja.
Sebab selama kau di sampingku,
dan anak-anak ada di dalam bahtera ini,
aku tidak takut
seberapa jauh laut membentang.
Lima tahun, dan kita masih di sini.
Dan bagiku,
itu sudah menjadi
salah satu keajaiban
terbesar dalam hidupku.
Purwokerto, 17 September 2026.

No comments:
Post a Comment