Saturday, 29 March 2014

SUDUT PANDANG INTERNET

Mungkin peribahasa setiap ada cahaya pasti selalu ada bayangan pas untuk menggambarkan kondisi internet (new media) yag hadir dan berkembang di masyarakat. Internet adalah sebuah cahaya dalam dunia komunikasi dan informasi, dimana banyak orang merasakan kemudahan berinteraksi tanpa terhalang tempat dan waktu. Namun sisi lain internet memang telah memberikan dampak yang berbeda kepada sebagian masyarakat. Ini mungkin bayangan yang dimaksudkan oleh peribahasa itu, masyarakat yang tidak siap malahan membuat internet semakin membuat ruang kosong yang berjarak antara mereka dan orang – orang yang memang antusias dengan datangnya internet ini. Dan ada beberapa orang yang beranggapan bahwa hadirnya internet ini adalah cahaya yang sangat menyilaukan bagi mereka sehingga merasa internet adalah hal yang mengganggu mereka.
Kemudahan akses ternyata sangat berpengaruh, mungkin mereka yang berada di kota dengan fasilitas yang memadai dan uang yang cukup untuk membeli satu unit komputer. Dan mereka aka merasa bahwa internet adalah sebuah hal yang sangat membantu mereka dan bukanlah hal yang aneh untuk di hindari. Tapi bila kita melihat lebih jauh bagi mereka yang sangat susah mendapatkan akses internet akan menggangap bahwa internet ini sebagai hal yang tidak penting, hanya membuang waktu dan sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Komentar seperti ini biasanya diungkapkan oleh beberapa orang tua. Seperti yang diungkapkan oleh Van Dijk ada 4 hal yang sebenarnya menjadi penghalang  : 1). Orang – orang tua dan tidak memiliki keterampilan, menjadi merasa terancam dengan hadirnya media baru ini atau mempunyai pengalaman buruk saat pertama menggunakan media baru. 2) Tidak ada atau sulitnya menggunakan jaringan komputer. 3) Kurangnya User-friendly dan tidak menariknya penggunaan media baru ini. 4) Kurang pentingnya media baru ini bagi individu tersebut. Namun seiring berkembangnya jaman ternyata beberapa faktor penghalang yang lebih baru seseorang mengenal media baru ini . Seperti yang diidentifikasikan oleh rojas faktor – faktor lain yang berkontribusi terhadap kesenjangan digital, sepeti hubungan antar modal ekonomi, budaya, etnis, jenis kelamin dan usia.
Internet memberikan pengaruh terhadap politik, atau lebih tepatnya dengan internet akan lebih meningkatkan partisipasi politik masyarakat. Mungkin bisa begitu bila di Negara maju, seperti dipertengahan 2000, survey dari AOL menemukan bahwa 84 persen dari pengguna akan melakukan vote atau memilih presiden secara online. Namun bila kita terapkan di Indonesia, sudah pasti Indonesia belum siap. Mungkin pernah kita temui beberapa caleg di Indonesia yang menggunakan media sosial atau semacamnya untuk memperkenalkan diri dan mencari dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Kemudian banyak dari orang – orang di facebook misalnya yang meng “like” caleg tersebut dan banyak yang mengisi testimonial komentar dalam halaman web caleg tersebut. Namun apakah itu bisa dijadikan ukuran bahwa masyarakat Indonesia telah ikut berpartisipatif dalam politik. Bila kita melihat realita yang sebenarnya bahwa orang – orang yang di facebook akan seringkali mengeklik  “like” bila dia menyukai hal itu atau karena hanya iseng – iseng saja bahkan tidak jarang karena di dorong oleh beberapa pihak, kemudian bila kita perhatikan testimonial dalam halaman web caleg atau semacamnya itu yang berkomentar hanya beberapa orang saja dan ia lakukan secara berulang – ulang sehingga terlihat seperti banyak orang yang ikut dalam komentar tersebut. Ini seolah – olah hanya minoritas yang terlihat seperti mayoritas saja. Kemudia bannyak lagi dari beberapa partai yang mencoba bersosialisasi menggunakan internet dengan membuat web, dengan alasan agar orang – orang dapat dengan mudah mencari informasi secara online tentang pertain tersebut. Namun ternyata hanya beberapa kalangan muda saja yang melakukan itu, golongan tua lebih suka untuk melihat di televisi atau melihat di media konvensional. Ini membuktikan bahwa di Indonesia internet tidak mempengaruhi partisipasi politik masyarakat Indonesia. Karena Indonesia mayoritas penduduknya masih belum siap dengan media baru tersebut.
Kebebasan berbicara atau 'freedom of speech' bisa dihasilkan dan dihilangkan oleh internet. Secara theoritis, semua orang bisa mendesain sebuah website dan mem-posting opini tentang apapun didalamnya. Bagaimanapun, Shapiro dan Leone (1999) menganggap bahwa kebebasan berbicara akan terkena dampak buruk dari perkembangan internet, karena masalah akses dan 'ekspose' atau keterbukaan. Pertama, orang-orang akan mempunyai kesulitan dalam menemukan khalayak karena banyak orang yang tidak ingin mendengarkan mereka dari awal. (Van Dijk (1999) percaya bahwa di internet, informasi akan sangat banyak dan akan sulit untuk menemukan mana informasi yang benar-benar valid, dan akan menujuk kepada kesalahan dalam pengambilan keputusan.) Orang-orang tidak akan merasa harus merespon atas permintaan akan opini mereka tentang sesuatu di internet atau mereka bisa menyaring informasi khusus hanya informasi yang menarik untuk mereka. Karenanya, informasi yang berkontradiksi atau tidak cocok dengan mereka mungkin tidak akan sampai dan mempengaruhi mereka, membuat mereka dapat mengacuhkan perspektif yang berlawanan dengan mereka. Kedua, tidak setiap orang punya sumberdaya untuk menyampaikan suara mereka, seperti ketidakadanya keterampilan untuk menggunakan teknologi itu sendiri, yang sama saja membatasi kebebasan berbicara/bersuara mereka.
Kemudian dengan istilah Komunitas virtual yang menjadi pembahsan terdahulu, apakah keterlibatan orang – orang dalam dunia virtual akan memberikan dampak pada dunia nyata. Banyak persepsi yang mengatakan dengan adanya komunitas virtual dapat membuat orang lebih mudah dalam berkomunikasi. Dan tidak sedikit orang yang mengamini hal terebut, namun bila kita lihat dari keterikatan anggota dan identitas anggota dalam komunitas virtual. Pasti kita sendiri tahu bahwa komunita virtual dibentuk dari satu ketertarikan yang bersifat sama maka dari itu anggota di dalamnya bersifat heterogen sehingga tidak ada ikatan yang kuat diantara anggotanya dan hanya bersifat sementara. Kemudian dengan identitas yang tidak sebenarnya yang dibuat oleh pengguna, telah membuat kita percaya bahwa pengguna itu adalah apa yang ditampilkan dalam sebuah komunitas virtual tersebut. Komunitas virtual memang tidak akan menggantikan komunits dalam dunia nyata atau yang sering kita sebut dengan komunits organik namun sebuah komunitas virtual dapat mendukung dan menguatkan komunitas organik.
Hubungan sosial yang terjalin dalam media online akan banyan mengalami penyimpangn seperti kebohongan – kebohongan identitas diri seperti : status sosial dan gender switching. Media internet juga sangat terbatas untuk mengenali orang lain secara multidimensi sehingga hubungan di dunia online hanya bersifat sementara. Semakin banyak waktu kita habiskan untuk online, semakin sedikit waktu kita habiskan untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga, tetangga dan orang – orang terdekat kita. Sehingga terbentuk sifat anti-sosial yang berarti mengisolasikan diri terhadap dunia nyata, dalam kasus ini kemungkinan terburuk yang akan terjadi depresi. Kebebasan bersuara di internet dapat diartikan negative bila mana para penggnanya melakukan flaming. Seperti contohnya adalah game online yangrata – rata dimainkan oleh remaja biasanya sering melakukan hinaan hinggn memancing emosi Lawan ( flaming) serta perilaku pemainya yang sudah addicted bahkan rela meninggalkan kehidupan sosialnya demi permainan tersebut.

Kesimpulanya, internet adalah sebuah cahaya yang bermanfaat dan sangat membantu mereka yang siap dan dapat beradaptasi dengan hadirnya internet ini namun bagi mereka yang tidak siap akan terasa menyilaukan dan tidak jarang hanya menimbulkan kegelapan baginya. Internet memang sudah sewajarnya digunakan secara bijak dengan pedoman dapat memberikan suatu informasi yang bermanfaat bagi semua orang dan bukanlah memberikan pengaruh negatif bagi banyak orang. 
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs. Chapter 4: Perspective on Internet Use: Access,     Involvement an Interaction. London: Sage Publication Ltd. London

No comments:

Post a Comment