Mungkin
peribahasa setiap ada cahaya pasti selalu ada bayangan pas untuk menggambarkan
kondisi internet (new media) yag hadir dan berkembang di masyarakat. Internet
adalah sebuah cahaya dalam dunia komunikasi dan informasi, dimana banyak orang
merasakan kemudahan berinteraksi tanpa terhalang tempat dan waktu. Namun sisi
lain internet memang telah memberikan dampak yang berbeda kepada sebagian
masyarakat. Ini mungkin bayangan yang dimaksudkan oleh peribahasa itu,
masyarakat yang tidak siap malahan membuat internet semakin membuat ruang
kosong yang berjarak antara mereka dan orang – orang yang memang antusias
dengan datangnya internet ini. Dan ada beberapa orang yang beranggapan bahwa
hadirnya internet ini adalah cahaya yang sangat menyilaukan bagi mereka
sehingga merasa internet adalah hal yang mengganggu mereka.
Kemudahan
akses ternyata sangat berpengaruh, mungkin mereka yang berada di kota dengan
fasilitas yang memadai dan uang yang cukup untuk membeli satu unit komputer.
Dan mereka aka merasa bahwa internet adalah sebuah hal yang sangat membantu
mereka dan bukanlah hal yang aneh untuk di hindari. Tapi bila kita melihat
lebih jauh bagi mereka yang sangat susah mendapatkan akses internet akan
menggangap bahwa internet ini sebagai hal yang tidak penting, hanya membuang
waktu dan sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Komentar seperti ini biasanya
diungkapkan oleh beberapa orang tua. Seperti yang diungkapkan oleh Van Dijk ada
4 hal yang sebenarnya menjadi penghalang
: 1). Orang – orang tua dan tidak memiliki keterampilan, menjadi merasa
terancam dengan hadirnya media baru ini atau mempunyai pengalaman buruk saat
pertama menggunakan media baru. 2) Tidak ada atau sulitnya menggunakan jaringan
komputer. 3) Kurangnya User-friendly dan tidak menariknya penggunaan media baru
ini. 4) Kurang pentingnya media baru ini bagi individu tersebut. Namun seiring
berkembangnya jaman ternyata beberapa faktor penghalang yang lebih baru
seseorang mengenal media baru ini . Seperti yang diidentifikasikan oleh rojas
faktor – faktor lain yang berkontribusi terhadap kesenjangan digital, sepeti
hubungan antar modal ekonomi, budaya, etnis, jenis kelamin dan usia.
Internet
memberikan pengaruh terhadap politik, atau lebih tepatnya dengan internet akan
lebih meningkatkan partisipasi politik masyarakat. Mungkin bisa begitu bila di
Negara maju, seperti dipertengahan 2000, survey dari AOL menemukan bahwa 84
persen dari pengguna akan melakukan vote atau memilih presiden secara online.
Namun bila kita terapkan di Indonesia, sudah pasti Indonesia belum siap.
Mungkin pernah kita temui beberapa caleg di Indonesia yang menggunakan media
sosial atau semacamnya untuk memperkenalkan diri dan mencari dukungan dari
berbagai elemen masyarakat. Kemudian banyak dari orang – orang di facebook
misalnya yang meng “like” caleg tersebut dan banyak yang mengisi testimonial
komentar dalam halaman web caleg tersebut. Namun apakah itu bisa dijadikan
ukuran bahwa masyarakat Indonesia telah ikut berpartisipatif dalam politik. Bila
kita melihat realita yang sebenarnya bahwa orang – orang yang di facebook akan
seringkali mengeklik “like” bila dia
menyukai hal itu atau karena hanya iseng – iseng saja bahkan tidak jarang
karena di dorong oleh beberapa pihak, kemudian bila kita perhatikan testimonial
dalam halaman web caleg atau semacamnya itu yang berkomentar hanya beberapa
orang saja dan ia lakukan secara berulang – ulang sehingga terlihat seperti
banyak orang yang ikut dalam komentar tersebut. Ini seolah – olah hanya
minoritas yang terlihat seperti mayoritas saja. Kemudia bannyak lagi dari
beberapa partai yang mencoba bersosialisasi menggunakan internet dengan membuat
web, dengan alasan agar orang – orang dapat dengan mudah mencari informasi
secara online tentang pertain tersebut. Namun ternyata hanya beberapa kalangan
muda saja yang melakukan itu, golongan tua lebih suka untuk melihat di televisi
atau melihat di media konvensional. Ini membuktikan bahwa di Indonesia internet
tidak mempengaruhi partisipasi politik masyarakat Indonesia. Karena Indonesia
mayoritas penduduknya masih belum siap dengan media baru tersebut.
Kebebasan berbicara atau
'freedom of speech' bisa dihasilkan dan dihilangkan oleh internet. Secara
theoritis, semua orang bisa mendesain sebuah website dan mem-posting opini
tentang apapun didalamnya. Bagaimanapun, Shapiro dan Leone (1999) menganggap
bahwa kebebasan berbicara akan terkena dampak buruk dari perkembangan internet,
karena masalah akses dan 'ekspose' atau keterbukaan. Pertama,
orang-orang akan mempunyai kesulitan dalam menemukan khalayak karena banyak
orang yang tidak ingin mendengarkan mereka dari awal. (Van Dijk (1999) percaya
bahwa di internet, informasi akan sangat banyak dan akan sulit untuk menemukan
mana informasi yang benar-benar valid, dan akan menujuk kepada kesalahan dalam
pengambilan keputusan.) Orang-orang tidak akan merasa harus merespon atas
permintaan akan opini mereka tentang sesuatu di internet atau mereka bisa
menyaring informasi khusus hanya informasi yang menarik untuk mereka.
Karenanya, informasi yang berkontradiksi atau tidak cocok dengan mereka mungkin
tidak akan sampai dan mempengaruhi mereka, membuat mereka dapat mengacuhkan
perspektif yang berlawanan dengan mereka. Kedua, tidak setiap orang
punya sumberdaya untuk menyampaikan suara mereka, seperti ketidakadanya
keterampilan untuk menggunakan teknologi itu sendiri, yang sama saja membatasi
kebebasan berbicara/bersuara mereka.
Kemudian
dengan istilah Komunitas virtual yang menjadi pembahsan terdahulu, apakah
keterlibatan orang – orang dalam dunia virtual akan memberikan dampak pada
dunia nyata. Banyak persepsi yang mengatakan dengan adanya komunitas virtual
dapat membuat orang lebih mudah dalam berkomunikasi. Dan tidak sedikit orang
yang mengamini hal terebut, namun bila kita lihat dari keterikatan anggota dan
identitas anggota dalam komunitas virtual. Pasti kita sendiri tahu bahwa
komunita virtual dibentuk dari satu ketertarikan yang bersifat sama maka dari
itu anggota di dalamnya bersifat heterogen sehingga tidak ada ikatan yang kuat diantara
anggotanya dan hanya bersifat sementara. Kemudian dengan identitas yang tidak
sebenarnya yang dibuat oleh pengguna, telah membuat kita percaya bahwa pengguna
itu adalah apa yang ditampilkan dalam sebuah komunitas virtual tersebut.
Komunitas virtual memang tidak akan menggantikan komunits dalam dunia nyata
atau yang sering kita sebut dengan komunits organik namun sebuah komunitas
virtual dapat mendukung dan menguatkan komunitas organik.
Hubungan
sosial yang terjalin dalam media online akan banyan mengalami penyimpangn
seperti kebohongan – kebohongan identitas diri seperti : status sosial dan
gender switching. Media internet juga sangat terbatas untuk mengenali orang
lain secara multidimensi sehingga hubungan di dunia online hanya bersifat
sementara. Semakin banyak waktu kita habiskan untuk online, semakin sedikit
waktu kita habiskan untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga,
tetangga dan orang – orang terdekat kita. Sehingga terbentuk sifat anti-sosial
yang berarti mengisolasikan diri terhadap dunia nyata, dalam kasus ini
kemungkinan terburuk yang akan terjadi depresi. Kebebasan bersuara di internet
dapat diartikan negative bila mana para penggnanya melakukan flaming. Seperti
contohnya adalah game online yangrata – rata dimainkan oleh remaja biasanya
sering melakukan hinaan hinggn memancing emosi Lawan ( flaming) serta perilaku
pemainya yang sudah addicted bahkan rela meninggalkan kehidupan sosialnya demi
permainan tersebut.
Kesimpulanya,
internet adalah sebuah cahaya yang bermanfaat dan sangat membantu mereka yang
siap dan dapat beradaptasi dengan hadirnya internet ini namun bagi mereka yang
tidak siap akan terasa menyilaukan dan tidak jarang hanya menimbulkan kegelapan
baginya. Internet memang sudah sewajarnya digunakan secara bijak dengan pedoman
dapat memberikan suatu informasi yang bermanfaat bagi semua orang dan bukanlah
memberikan pengaruh negatif bagi banyak orang.
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs. Chapter 4: Perspective on Internet Use: Access, Involvement an Interaction. London: Sage Publication Ltd. London

No comments:
Post a Comment